Migrasi MyKad Generasi Baru: JPN Hentikan Sementara Layanan Cetak KTP hingga 7 September
Baca dalam 60 detik
- JPN menghentikan sementara layanan cetak MyKad mulai 1 hingga 7 September 2026 untuk transisi ke kartu generasi baru.
- Warga yang tidak mendesak diminta menunda penggantian atau perpanjangan MyKad, termasuk pendaftaran pertama anak usia 12 tahun.
- Langkah ini bagian dari modernisasi identitas digital Malaysia, berpotensi menjadi acuan bagi negara lain dalam adopsi teknologi serupa.

Mulai Selasa, 1 September 2026, Departemen Pendaftaran Nasional Malaysia (JPN) secara resmi menghentikan sementara layanan pencetakan kartu identitas MyKad. Langkah ini diambil sebagai bagian dari transisi menuju MyKad generasi baru, yang dijadwalkan berlangsung hingga 7 September 2026. Keputusan tersebut berdampak langsung pada jutaan warga yang berencana mengurus dokumen kependudukan dalam pekan pertama bulan ini.
Dalam pernyataan resminya, JPN mengimbau masyarakat untuk menunda pengurusan MyKad yang tidak bersifat mendesak, seperti penggantian kartu hilang atau perpanjangan masa berlaku. Khusus bagi orang tua atau wali yang hendak mendaftarkan anak pertama kali—terutama yang genap berusia 12 tahun—disarankan menunggu hingga layanan kembali normal. Dengan demikian, anak-anak tersebut dapat langsung memperoleh MyKad generasi terbaru tanpa perlu mengajukan penggantian dalam waktu dekat.
Kebijakan ini bukan sekadar gangguan teknis belaka. JPN menyebut perpindahan ke MyKad generasi baru merupakan bagian dari modernisasi sistem identitas nasional yang lebih aman dan terintegrasi. Meski detail spesifikasi kartu baru belum diumumkan secara gamblang, langkah ini sejalan dengan tren global adopsi identitas digital yang semakin canggih, termasuk penggunaan chip dengan enkripsi lebih kuat dan kemungkinan integrasi dengan layanan publik berbasis digital.
Bagi Indonesia, perkembangan ini menarik untuk dicermati. Sebagai negara tetangga dengan program KTP elektronik (e-KTP) yang telah berjalan sejak 2011, Indonesia dapat mengambil pelajaran dari proses migrasi yang dilakukan Malaysia. Direktur Eksekutif Digital Identity Forum Indonesia, yang enggan disebutkan namanya, menilai bahwa transisi semacam ini memerlukan perencanaan matang, terutama dalam hal mitigasi gangguan layanan publik. "Penghentian sementara layanan adalah risiko yang harus dikelola dengan komunikasi publik yang jelas dan opsi prioritas bagi kebutuhan mendesak," ujarnya saat dihubungi LyndHub.
JPN sendiri menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang ditimbulkan. Masyarakat diminta memantau kanal resmi JPN untuk mendapatkan informasi terbaru mengenai jadwal layanan dan spesifikasi MyKad generasi baru. Sementara itu, bagi warga yang memiliki kebutuhan sangat mendesak—misalnya untuk keperluan medis atau perjalanan luar negeri—JPN diharapkan menyediakan jalur khusus, meski hal ini belum diumumkan secara eksplisit.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah sejauh mana MyKad generasi baru akan mengubah interaksi warga dengan layanan publik. Apakah kartu ini akan dilengkapi fitur biometrik yang lebih canggih atau terhubung dengan dompet digital? Jika Malaysia berhasil melewati masa transisi ini dengan mulus, bukan tidak mungkin negara-negara ASEAN lainnya, termasuk Indonesia, akan mempercepat langkah serupa. Namun, jika terjadi kendala teknis yang berkepanjangan, kepercayaan publik terhadap digitalisasi identitas bisa menjadi taruhannya.



