Survei di Jepang: Toilet Darurat Jadi Kekhawatiran Utama Bencana, tapi Kesiapan Minim
Baca dalam 60 detik
- Hampir 66% responden di Jepang mengkhawatirkan akses toilet saat bencana, namun hanya 41,3% yang memiliki perlengkapan darurat.
- Sebuah perusahaan farmasi membagikan toilet portabel gratis di stasiun Osaka untuk mendorong kesiapsiagaan, menyoroti kesenjangan antara kesadaran dan tindakan.
- Pakar memperingatkan bahwa kurangnya toilet darurat dapat memicu risiko kesehatan serius, terutama bagi lansia, dan mendorong masyarakat untuk segera menyiapkan perlengkapan.

Osaka, Jepang โ Ketakutan terbesar warga Jepang saat menghadapi bencana alam bukanlah gempa bumi atau banjir itu sendiri, melainkan ketidakmampuan menggunakan toilet. Survei terbaru yang dirilis Taiko Pharmaceutical, perusahaan farmasi asal Osaka, mengungkap bahwa 66,1% responden menempatkan akses toilet sebagai kekhawatiran utama, melampaui kekhawatiran akan kekurangan air minum (61,2%) dan makanan (57,9%). Namun, ironisnya, kurang dari separuh responden (41,3%) mengaku memiliki perlengkapan toilet darurat di rumah.
Temuan ini muncul di tengah peringatan Hari Pencegahan Bencana Jepang yang jatuh pada 1 September. Taiko Pharmaceutical, yang merayakan 80 tahun berdirinya tahun ini, memanfaatkan momen tersebut untuk membagikan sekitar 1.000 paket toilet portabel gratis di Stasiun Namba, Osaka Metro Jalur Midosuji, pada 31 Agustus lalu. Aksi ini merupakan bagian dari kampanye untuk meningkatkan kesadaran masyarakat akan pentingnya kesiapan menghadapi gangguan sanitasi saat bencana.
Survei yang dilakukan secara daring pada pertengahan Juli terhadap 1.095 responden berusia 20-69 tahun ini menunjukkan adanya kesenjangan signifikan antara kesadaran dan tindakan. Sebanyak 24,1% dari mereka yang belum memiliki perlengkapan toilet darurat mengaku bahwa mereka menganggapnya perlu, tetapi belum sempat membeli. Hal ini mengindikasikan bahwa meskipun risiko sudah dipahami, banyak rumah tangga masih menunda persiapan.
Kondisi ini semakin memprihatinkan jika dibandingkan dengan rekomendasi pemerintah Jepang yang menyarankan setiap orang menyediakan perlengkapan toilet darurat untuk lima kali penggunaan per hari, atau 35 kali selama tujuh hari bencana. Namun, dari mereka yang sudah memiliki perlengkapan, 56,5% hanya menyediakan kurang dari 20 kali penggunaan, dan 11,6% bahkan tidak mengetahui berapa kali pemakaian yang bisa ditutupi oleh stok mereka. Artinya, mayoritas persediaan yang ada jauh di bawah standar yang dianjurkan.
Tomoya Takani, penasihat kesiapsiagaan bencana yang mengawasi survei ini, menegaskan bahwa akses toilet bukan sekadar soal kenyamanan, melainkan fundamental bagi kesehatan secara keseluruhan. "Di luar pentingnya kebersihan saat evakuasi, akses toilet sangat penting untuk menjaga kesehatan," ujarnya. Ia menyoroti risiko yang lebih besar pada kelompok lanjut usia, yang kerap mengurangi asupan makanan dan minuman untuk menghindari penggunaan toilet darurat yang tidak familiar. Perilaku ini dapat memicu heatstroke dan sindrom kelas ekonomi, yaitu kondisi pembekuan darah yang berbahaya.
Wataru Shibata, kepala departemen hubungan masyarakat Taiko Pharmaceutical, mengungkapkan harapannya agar kampanye ini mendorong rumah tangga untuk meninjau kembali persediaan darurat mereka. "Dengan bencana yang semakin sering terjadi, masyarakat mungkin mulai menyadari bahwa akses toilet juga isu kritis," katanya. Senada, Yuki Nakamura dari tim humas perusahaan menambahkan, "Sebagai perusahaan yang telah mendukung kesehatan pencernaan selama bertahun-tahun, kami ingin mengambil peran utama dalam meningkatkan kesadaran ini."
Fenomena ini relevan bagi Indonesia, yang juga rawan bencana gempa dan banjir. Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat ribuan kejadian bencana setiap tahunnya, dan akses sanitasi sering menjadi masalah kritis di lokasi pengungsian. Minimnya kesadaran akan pentingnya toilet darurat di Indonesia tercermin dari jarangnya masyarakat yang menyiapkan perlengkapan serupa, meskipun risiko bencana tinggi. Kampanye seperti yang dilakukan Taiko Pharmaceutical bisa menjadi contoh bagi perusahaan dan pemerintah Indonesia untuk lebih gencar mengedukasi publik.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah kesadaran yang tinggi ini akan diikuti oleh aksi nyata. Di Jepang, perusahaan swasta mulai mengambil inisiatif, tetapi di Indonesia, peran pemerintah dan sektor swasta dalam menyediakan akses toilet darurat yang terjangkau dan mudah didapat masih menjadi pekerjaan rumah. Apakah masyarakat Indonesia akan belajar dari pengalaman Jepang sebelum bencana besar terjadi, atau justru menunggu hingga keadaan memaksa?



