Harriet Dart Akhiri Puasa 19 Bulan di Grand Slam, Kalahkan Peyton Stearns di US Open
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris peringkat 131 dunia, Harriet Dart, sukses melewati rintangan pertama US Open setelah menaklukkan Peyton Stearns dengan skor 3-6, 6-3, 6-2.
- Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Dart di babak utama Grand Slam sejak Australia Terbuka 2025, sekaligus menandai kebangkitannya setelah gagal di beberapa turnamen besar.
- Dengan tambahan sosok Marion Bartoli di tim pelatih, Dart menunjukkan progres signifikan dan siap menantang unggulan ke-25, Marie Bouzkova, di babak kedua.

Harriet Dart akhirnya memutus rentetan hasil buruknya di turnamen Grand Slam. Petenis asal Inggris itu memastikan tempat di babak kedua US Open setelah mengalahkan wakil tuan rumah, Peyton Stearns, dalam pertarungan tiga set yang menegangkan, Senin (26/8) waktu setempat. Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Dart di babak utama turnamen mayor sejak Australia Terbuka 2025, sekaligus mengakhiri penantian selama 19 bulan.
Bermain di lapangan keras Flushing Meadows, Dart sempat tertinggal satu set dan satu break. Namun, dengan kegigihan luar biasa, ia berbalik unggul dan menuntaskan laga dengan skor 3-6, 6-3, 6-2 dalam waktu hampir dua setengah jam. Kemenangan ini terasa istimewa mengingat lawannya, Stearns, berada di peringkat 75 lebih tinggi darinya. Dart juga harus melewati babak kualifikasi yang berat, di mana ia selalu bermain tiga set, termasuk saat mengalahkan Kristina Penickova dan Heather Watson.
Bagi Dart, kemenangan ini bukan sekadar angka. Sejak mencapai babak kedua Australia Terbuka tahun lalu, ia gagal melaju dari babak kualifikasi di empat dari enam Grand Slam berikutnya. Di Wimbledon, ia selalu tersingkir di babak pertama meski mendapat wildcard. Kondisi ini sempat membuat kariernya dipertanyakan. Namun, kedatangan Marion Bartoli, juara Wimbledon 2013, sebagai bagian dari tim pelatihnya sejak sebelum Prancis Terbuka, memberi warna baru. Di bawah bimbingan Bartoli, Dart mencapai perempat final turnamen Challenger di Vancouver dan lolos kualifikasi Cincinnati Open bulan lalu.
“Dia juara Grand Slam, jadi saya bisa berdiskusi tentang pengalamannya, cara dia melihat permainan, dan cara dia menilai permainan saya,” ujar Dart kepada BBC Radio 5. “IQ tenisnya—dan IQ-nya secara umum—sangat luar biasa. Saya hanya ingin terus berkembang dan memperbaiki semua aspek. Saya sangat senang dia mau bergabung dan berterima kasih karena dia ada di sini untuk saya.”
Pertandingan melawan Stearns berjalan alot. Dart gagal memanfaatkan empat break point di game pembuka, dan Stearns yang tampil agresif berhasil merebut break di game kedelapan untuk memenangkan set pertama. Memasuki set kedua, Dart kembali kehilangan servis di game awal. Namun, Stearns mulai banyak melakukan kesalahan sendiri—mencatat 40 winner tetapi juga 47 unforced errors—yang membuka peluang bagi Dart untuk membalas. Dart memanfaatkan dua break untuk memaksa set penentu.
Di set ketiga, Dart tampil lebih tenang. Ia melakukan hold krusial di game keenam untuk menghentikan rentetan tiga break beruntun, lalu mengonversi match point keempatnya untuk memastikan kemenangan. Kemenangan ini mengantarkannya bergabung dengan Toby Samuel dan Katie Boulter di babak kedua. Selanjutnya, Dart akan menghadapi unggulan ke-25, Marie Bouzkova, yang tentu menjadi ujian berat.
Kemenangan Dart menjadi sorotan di tengah hiruk-pikuk US Open yang juga menyajikan kejutan lain, seperti kekalahan beruntun Venus Williams yang kini telah menelan 15 kekalahan beruntun. Namun, bagi Dart, ini adalah momentum kebangkitan yang layak diapresiasi. Dengan dukungan tim yang semakin solid, ia berpeluang melaju lebih jauh. Pertanyaannya, akankah Dart mampu memanfaatkan kepercayaan diri ini untuk menembus babak-babak awal dan mengulang pencapaian terbaiknya di Grand Slam? Publik tenis, termasuk penggemar di Indonesia yang mengikuti perkembangan tenis dunia, tentu menantikan jawabannya.



