Geger Times Square: Perempuan Bersajam Menyerang, Dua Tewas Sebelum Dilumpuhkan Polisi
Baca dalam 60 detik
- Seorang perempuan 49 tahun menusuk dua orang di Times Square, menewaskan satu, sebelum ditembak mati polisi.
- Pelaku memiliki riwayat gangguan jiwa dan menolak menyerah, bahkan mengancam aparat, sehingga petugas melepaskan tembakan.
- Insiden ini memicu kembali perdebatan tentang penanganan kesehatan mental dan keamanan di pusat keramaian global.

New York, 31 Agustus 2026 โ Sebuah aksi penusukan brutal mengguncang jantung kota New York, Times Square, pada Senin siang waktu setempat. Seorang perempuan bersenjatakan dua pisau besar menyerang dua orang pejalan kaki, menewaskan satu di antaranya, sebelum akhirnya ditembak mati oleh aparat kepolisian yang bergegas ke lokasi. Peristiwa ini terjadi di tengah keramaian wisatawan dan pekerja, memicu kepanikan massal dan menyoroti kembali tantangan keamanan di salah satu titik paling ikonik di dunia.
Komisaris Polisi New York, Jessica Tisch, dalam konferensi pers yang digelar segera setelah insiden, mengidentifikasi pelaku sebagai Pamela Cisneros, warga Queens berusia 49 tahun. Ia diketahui memiliki riwayat gangguan kesehatan mental. Menurut Tisch, Cisneros mengeluarkan dua pisau besar dari tas bermerek supermarket terkenal sebelum mengancam orang-orang di sekitarnya. Dalam rentang waktu hanya 20 detik, ia menusuk seorang pria 68 tahun di bagian perut, kemudian seorang wanita 32 tahun dengan luka serupa. Wanita muda tersebut kemudian meninggal dunia akibat luka yang dideritanya, sementara pria tersebut masih dalam perawatan intensif di rumah sakit dan dilaporkan dalam kondisi stabil.
Kejadian berlangsung cepat dan dramatis. Polisi yang tiba di lokasi segera mencoba bernegosiasi dengan pelaku. Tisch mengungkapkan bahwa petugas berdialog selama empat menit, memerintahkan Cisneros untuk menjatuhkan pisaunya, namun ia menolak. Bahkan, ia sempat melontarkan ancaman, "Saya tidak akan menjatuhkan apa pun. Saya lebih suka membunuh kalian berdua." Situasi memaksa petugas untuk menggunakan alat kejut listrik (taser) terlebih dahulu, namun tidak berhasil. Akhirnya, dua tembakan dilepaskan ke arah pelaku, yang kemudian dinyatakan tewas di rumah sakit.
Wali Kota New York, Zohran Mamdani, mengonfirmasi dua korban tewas dalam insiden ini, termasuk pelaku. Ia menyampaikan belasungkawa dan menegaskan bahwa pihak berwenang akan menyelidiki tuntas peristiwa ini. Sementara itu, Komisaris Tisch menegaskan bahwa serangan ini tidak terkait dengan terorisme. "Ini adalah situasi yang sangat berbahaya yang terjadi di jantung Times Square, persimpangan dunia," ujarnya. "Pada saat tertentu, ada ribuan warga New York, komuter, turis, keluarga, dan pekerja yang melintasi jalan-jalan ini."
Insiden ini kembali memicu diskusi tentang penanganan gangguan kesehatan mental di ruang publik. Di Indonesia, peristiwa serupa juga pernah terjadi, meskipun dengan skala yang lebih kecil. Menurut psikolog klinis dari Universitas Indonesia, Dr. Ratna Juwita, kasus seperti ini menyoroti pentingnya deteksi dini dan akses layanan kesehatan mental yang memadai. "Sayangnya, stigma dan keterbatasan fasilitas seringkali menjadi penghalang bagi mereka yang membutuhkan pertolongan," ujarnya. "Peristiwa di New York ini menjadi pengingat bahwa kesehatan mental adalah isu global yang membutuhkan perhatian serius dari semua pihak."
Polisi masih menyelidiki motif di balik serangan ini. Identitas para korban belum diumumkan karena menunggu pemberitahuan kepada keluarga. Sementara itu, suasana di Times Square perlahan kembali normal, namun bekas luka psikologis bagi para saksi mata dan warga sekitar diperkirakan akan membekas lama. Pertanyaan yang muncul kemudian: bagaimana kota-kota besar di dunia, termasuk Jakarta, dapat meningkatkan kesiapsiagaan menghadapi insiden serupa tanpa mengorbankan kebebasan publik? Jawabannya mungkin terletak pada keseimbangan antara keamanan, kesehatan mental, dan hak-hak sipil.



