Djokovic Tersingkir di Babak Pertama US Open, Kekalahan Perdana Sejak 2006
Baca dalam 60 detik
- Novak Djokovic menelan kekalahan mengejutkan dari petenis Argentina, Mariano Navone, pada putaran pertama US Open 2025, sekaligus mengakhiri laju 19 tahun tanpa kekalahan di babak awal Grand Slam.
- Kondisi fisik Djokovic yang memburukโdisertai muntah di lapangan serta masalah punggung dan bahuโmenjadi faktor krusial di balik kekalahan tersebut.
- Kekalahan ini memunculkan tanda tanya besar mengenai masa depan karier Djokovic dan ambisinya mengejar gelar Grand Slam ke-25.

New York, 30 Agustus 2025 โ Novak Djokovic harus menerima kenyataan pahit di Flushing Meadows. Unggulan keempat itu tersingkir di babak pertama US Open setelah dikalahkan petenis Argentina, Mariano Navone, dengan skor 7-6(5), 5-7, 4-6, 6-2, 6-1 dalam laga yang berlangsung selama 4 jam 36 menit. Ini merupakan kekalahan perdana Djokovic di ronde pembuka Grand Slam sejak Australian Open 2006, sekaligus mengubur asanya untuk meraih gelar mayor ke-25 yang memecahkan rekor.
Pertandingan yang berlangsung Minggu malam waktu setempat itu berjalan dramatis sejak awal. Djokovic sempat unggul 3-0 di set pertama, namun Navone yang berperingkat 49 dunia mampu menyamakan kedudukan dan memaksa tiebreak. Setelah sempat tertinggal, petenis berusia 39 tahun itu berhasil merebut set kedua, tetapi kondisinya mulai menurun drastis. Ia terlihat muntah di pinggir lapangan pada set ketiga, dan masalah punggung serta bahu mulai mengganggu servisnya.
Meski sempat unggul 5-4 di set ketiga, Djokovic kehilangan fokus dan membiarkan Navone membalikkan keadaan. Petenis Argentina berusia 25 tahun itu tampil percaya diri dan berhasil memaksa set penentu. Di set kelima, Djokovic tak mampu berbuat banyak dan hanya meraih satu game. Kekalahan ini menjadi yang tercepat bagi Djokovic di US Open, turnamen yang telah ia menangkan empat kali.
"Rasanya mengerikan berada di lapangan," ujar Djokovic dengan mata berkaca-kaca setelah pertandingan. "Masalah ini sudah saya bawa hampir di setiap pertandingan tahun ini. Muntah, kram, dan nyeri di sekujur tubuh. Punggung dan bahu saya menyerah di akhir pertandingan. Saya tidak bisa menutupnya." Meski demikian, ia tetap memberikan penghormatan kepada Navone: "Dia petenis yang baik dan pejuang. Selamat untuknya."
Bagi Navone, kemenangan ini adalah yang terbesar dalam kariernya. "Lima set melawan GOAT, itu bukan hal yang terjadi setiap hari. Saya sangat bahagia. Ini mimpi yang menjadi kenyataan," ujarnya di lapangan. Ia mengaku masih sulit mempercayai apa yang telah ia raih, terutama setelah ponselnya terus berdering oleh ucapan selamat dari keluarga dan teman-temannya di Argentina.
Kekalahan ini tentu menjadi sorotan bagi penggemar tenis di Indonesia, yang selama ini mengidolakan Djokovic. Banyak yang berharap ia bisa tampil di Asian Games atau turnamen di Asia Tenggara, namun kondisi fisiknya yang menurun menjadi kekhawatiran tersendiri. Para pengamat menilai bahwa usia dan akumulasi cedera mulai menjadi faktor penghambat bagi permainan Djokovic yang sebelumnya nyaris sempurna.
Analis tenis menilai bahwa kekalahan ini bukan hanya soal fisik, tetapi juga mental. Djokovic yang dikenal sebagai petenis dengan mental baja, kali ini tampak rapuh. "Dia tidak bisa menyembunyikan rasa frustrasinya. Ini jarang terjadi," kata seorang komentator olahraga. Pertanyaan besarnya kini adalah apakah Djokovic masih bisa bangkit dan bersaing di level tertinggi, atau justru ini menjadi awal dari akhir karier gemilangnya.
Bagi Navone, kemenangan ini membuka peluang besar untuk melangkah lebih jauh di turnamen. Ia akan menghadapi lawan yang lebih tangguh di babak berikutnya, tetapi kepercayaan dirinya kini berada di titik tertinggi. "Saya hanya ingin menikmati momen ini. Besok saya harus siap lagi," ujarnya.
Dengan tersingkirnya Djokovic, persaingan di US Open tahun ini menjadi semakin terbuka. Para petenis muda seperti Carlos Alcaraz dan Jannik Sinner tentu akan diuntungkan. Namun, publik tenis dunia tetap bertanya-tanya: apakah ini akhir dari era dominasi Djokovic, atau justru awal dari kebangkitan yang lebih dramatis? Hanya waktu yang bisa menjawab.



