Garda Baru Inggris: Bisakah Kuartet Pace 2025 Meniru Legenda Ashes 2005?
Baca dalam 60 detik
- Empat pace bowler Inggris pasca-pensiunnya Ben Stokes sukses membawa tim meraih kemenangan seri atas Pakistan, memicu perbandingan dengan kuartet legendaris 2005.
- Pelatih interim Marcus Trescothick menilai kombinasi kecepatan dan akurasi para bowler baru ini menyerupai Harmison, Hoggard, Jones, dan Flintoff, meski kritik muncul karena belum diuji di seri besar.
- Fokus jangka pendek Inggris adalah sapu bersih Pakistan di Edgbaston, sementara ujian sesungguhnya menanti pada Ashes 2025 melawan Australia.

Kuartet pace bowler anyar Inggris yang terbentuk setelah pensiunnya Ben Stokes berhasil menghentikan tren buruk tim dan memicu perbandingan dengan generasi emas peraih Ashes 2005. Pelatih interim Marcus Trescothick, yang menjadi bagian dari skuad legendaris itu, menilai kesamaan gaya bermain antara Ollie Robinson, Jofra Archer, Gus Atkinson, dan Josh Tongue dengan Stephen Harmison, Matthew Hoggard, Simon Jones, serta Andrew Flintoff bukanlah hal yang berlebihan.
Kemenangan beruntun atas Pakistan di dua laga pertama memberi Inggris gelar seri pertama sejak 2024, setelah sebelumnya hanya meraih dua kemenangan dalam sepuluh pertandingan. Periode kelam tersebut bertepatan dengan akhir era kepemimpinan Stokes sebagai kapten, yang kemudian digantikan Joe Root. Untuk menyeimbangkan komposisi tim, Inggris kini memilih memainkan empat bowler pace murni tanpa spinner spesialis, dengan Dan Lawrence sebagai opsi part-time.
Perubahan strategi ini menandai pergeseran dari pendekatan era Stokes-McCullum yang mengutamakan kecepatan tinggi. Robinson, yang kembali setelah absen lebih dari dua tahun, justru menjadi kunci keseimbangan dengan akurasi dan kemampuan menggerakkan bola, terbukti dari 23 wicket yang ia ambil musim ini dengan rata-rata fantastis 8.3. Sementara itu, tiga rekannya mampu melempar dengan kecepatan hingga 92 mil per jam, memberikan variasi yang sulit dibaca lawan.
Meski optimisme menguar, tidak semua pihak sepakat dengan perbandingan tersebut. Michael Vaughan, kapten Inggris 2005, melalui kolomnya di Telegraph menegaskan bahwa kuartet saat ini baru layak dibandingkan dengan pendahulunya jika mampu memenangkan seri besar. Namun, ia mengakui potensi mereka untuk melakukan sesuatu yang istimewa, termasuk merebut kembali Ashes musim panas mendatang.
Konteks Indonesia: Bagi penggemar kriket di Indonesia yang mulai melirik olahraga ini, perkembangan Inggris menjadi cermin bagaimana regenerasi pemain dapat berjalan mulus tanpa kehilangan identitas permainan. Strategi memadukan kecepatan dan akurasi ala Inggris bisa menjadi pelajaran bagi pengembangan kriket domestik yang masih mencari formula tepat di level internasional.
Menjelang laga pamungkas di Birmingham, Trescothick menegaskan prioritasnya adalah menyapu bersih Pakistan dengan skuad paling konsisten. Meski ada opsi memberi kesempatan bowler cadangan seperti Sam Cook, Sonny Baker, dan Matthew Fisher, pelatih berusia 50 tahun itu lebih memilih mempertahankan pemain inti yang sudah terbukti. Keputusan ini juga mempertimbangkan jadwal padat yang membuat para pemain butuh istirahat.
Situasi Brydon Carse, yang dikeluarkan dari skuad karena insiden di luar klub malam Derby, menambah dinamika tersendiri. Ia baru akan dipertimbangkan kembali setelah investigasi polisi dan regulator kriket selesai. Hal ini menunjukkan bahwa disiplin tetap menjadi prioritas, sejalan dengan upaya menjaga citra tim di mata publik.
Dengan fondasi yang mulai kokoh, pertanyaan besarnya adalah apakah kuartet ini mampu tampil konsisten saat menghadapi Australia di Ashes 2025. Jika ya, bukan tidak mungkin Inggris akan mengulang kejayaan dua dekade lalu. Namun, jika gagal, perbandingan dengan 2005 hanya akan menjadi nostalgia belaka.



