Katie Taylor Pensiun di Croke Park: Perburuan Gelar Ketiga yang Menyentuh Sejarah
Baca dalam 60 detik
- Petinju Irlandia Katie Taylor akan menjalani laga terakhirnya pada Sabtu melawan Flora Pili, dengan ambisi merebut gelar undisputed ketiga.
- Pertarungan di Croke Park diperkirakan disaksikan 80.000 penonton, menandai puncak karier yang mengubah wajah tinju wanita global.
- Kemenangan Taylor akan memperkuat warisannya sebagai ikon olahraga, sekaligus membuka babak baru bagi tinju putri di panggung internasional.

Katie Taylor, petinju legendaris asal Irlandia, akan mengakhiri karier profesionalnya pada akhir pekan ini setelah hampir satu dekade mendominasi ring. Dalam laga ke-27 yang menjadi pertarungan pamungkas, perempuan 40 tahun itu menargetkan gelar undisputed ketiga saat menghadapi Flora Pili asal Prancis di Croke Park, Dublin, Sabtu (25/5).
Taylor, yang memegang sabuk WBO, WBA, dan IBF kelas ringan super, akan mempertahankan gelarnya sekaligus memperebutkan sabuk WBC yang kosong. Jika menang, ia akan menjadi petinju pertama yang meraih status undisputed di tiga kelas berbeda. Lawannya, Pili, 11 tahun lebih muda, datang dengan rekor sempurna 12-0, namun hanya dua kali menang KO dan belum pernah bertarung di panggung sebesar ini.
Pertarungan ini bukan sekadar laga perpisahan. Croke Park, stadion dengan kapasitas 80.000 penonton, akan menjadi saksi bagaimana Taylor, yang dulu dilarang bertinju di Irlandia karena gender, kini menjadi pusat perhatian dunia. Banyak penonton yang diperkirakan baru pertama kali menyaksikan tinju secara langsung, menunjukkan pengaruh Taylor yang melampaui batas olahraga itu sendiri.
Perjalanan Taylor dimulai dari amatir yang gemilang, termasuk medali emas Olimpiade London 2012. Setelah profesional pada 2016, ia cepat naik daun dengan merebut gelar WBA ringan di laga ketujuhnya. Sejak itu, ia bertarung dalam 20 laga perebutan gelar dunia berturut-turut dan memenangi 19 di antaranya. Satu-satunya kekalahan, dari Chantelle Cameron, sudah dibalas di rematch.
Trilogi dengan Amanda Serrano menjadi puncak komersial tinju wanita. Pertemuan pertama di Madison Square Garden yang sold-out pada 2022, disusul dua rematch yang disiarkan global di Netflix, membuktikan daya tarik Taylor dalam menarik penonton baru. Kini, laga terakhirnya di Croke Park menjadi simbol perjuangan panjangnya, dari larangan bertinju hingga menjadi panutan bagi generasi petinju wanita.
Bagi penggemar tinju di Indonesia, karier Taylor memberikan pelajaran tentang ketekunan dan terobosan. Meski tinju wanita di Indonesia belum sepopuler di Irlandia, kesuksesan Taylor bisa menjadi inspirasi bagi atlet perempuan untuk menembus batas. Pertarungan ini juga menegaskan bahwa tinju bukan lagi domain maskulin, melainkan panggung bagi siapa pun yang punya mimpi.
Pili, yang tampil sebagai penantang wajib, tidak bisa dianggap remeh. Namun, Taylor yang dikenal disiplin dan profesional diprediksi akan tampil habis-habisan. Pertanyaannya, mampukah ia mengukir akhir yang sempurna, atau justru Pili yang akan mencuri perhatian? Jawabannya akan menentukan arah tinju wanita ke depan, terutama dalam hal komersialisasi dan pengakuan global.



