Djokovic Tersingkir di Babak Awal US Open: Usia dan Masalah Kesehatan Jadi Sorotan
Baca dalam 60 detik
- Novak Djokovic menelan kekalahan mengejutkan dari Mariano Navone di putaran pertama US Open, mengakhiri rekor 19 kemenangan beruntun di babak pembuka turnamen tersebut.
- Kondisi fisik yang memburuk, termasuk muntah-muntah dan kram, menjadi faktor utama di balik kekalahan ini, mempertegas tanda-tanda penurunan performa sang juara 24 Grand Slam.
- Kekalahan ini menggagalkan ambisi Djokovic meraih gelar Grand Slam ke-25 yang bersejarah, sekaligus memunculkan pertanyaan besar tentang masa depannya di panggung tenis dunia.

Novak Djokovic, petenis legendaris asal Serbia, harus mengakui keunggulan wakil Argentina, Mariano Navone, di babak pertama US Open. Kekalahan dengan skor 7-6 (7-5), 5-7, 4-6, 6-2, 6-1 ini bukan sekadar hasil mengejutkan, melainkan juga momen emosional yang memperlihatkan betapa beratnya beban fisik dan mental yang ia pikul di usia 39 tahun. Djokovic bahkan tak kuasa menahan air mata di lapangan, sebuah pemandangan yang jarang terlihat dari petenis sekaliber dirinya.
Ini merupakan kekalahan perdana Djokovic di babak awal Flushing Meadows sepanjang kariernya. Sebelumnya, ia selalu mampu melaju mulus di putaran pembuka. Lebih dari itu, kekalahan ini menjadi yang pertama di babak awal Grand Slam sejak 2006, menandai sebuah era baru yang penuh tantangan bagi sang juara 24 Grand Slam. Ambisinya untuk meraih gelar ke-25 yang memecahkan rekor Margaret Court pun harus pupus di New York.
Sepanjang pertandingan yang berlangsung di tengah kelembapan tinggi, Djokovic terlihat kesulitan. Ia beberapa kali tampak mual dan bahkan harus memuntahkan isi perutnya ke dalam wadah handuk. Kondisi ini bukan hal baru baginya; ia sempat mengalami masalah serupa di Cincinnati Open dua pekan sebelumnya. Djokovic sendiri mengakui bahwa ia telah bergelut dengan masalah kesehatan ini selama bertahun-tahun, terutama saat bermain di kondisi panas dan lembap.
"Ini sesuatu yang saya bawa hampir di setiap pertandingan tahun iniโmuntah-muntah," ungkap Djokovic dalam konferensi pers usai laga. "Lalu seluruh tubuh saya mulai kolaps, kram, dan nyeri. Punggung saya menyerah di akhir, bahu juga, dan saya tidak bisa menuntaskannya." Pengakuan jujur ini menunjukkan betapa seriusnya kondisi yang dihadapinya, yang tak hanya mengganggu performa tetapi juga kesehatannya secara keseluruhan.
Kekalahan ini memicu perdebatan mengenai masa depan Djokovic di dunia tenis. Analis olahraga menilai bahwa kombinasi usia dan masalah kesehatan yang berulang menjadi sinyal kuat bahwa era dominasi Djokovic mungkin akan segera berakhir. Meski ia masih menunjukkan kegigihan dan semangat juang yang luar biasa, fisiknya tak lagi mampu mendukung ambisinya yang tinggi. Pertanyaan besar kini menggantung: apakah ini awal dari akhir karier gemilangnya?
Bagi penggemar tenis di Indonesia, kekalahan ini menjadi pengingat bahwa bahkan legenda sekalipun tidak kebal terhadap waktu. Djokovic, yang selama ini menjadi inspirasi bagi banyak petenis muda Asia, termasuk Indonesia, kini menghadapi fase kritis dalam kariernya. Pertanyaannya, apakah ia akan mampu bangkit seperti yang sering ia lakukan sebelumnya, atau justru ini menjadi awal dari pensiun dini? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, dunia tenis akan kehilangan salah satu pejuang terhebatnya jika ia memutuskan untuk mundur.



