Kemlu Pastikan 51 WNI di Nepal Aman, Ribuan Korban Banjir Bandang Masih Hilang
Baca dalam 60 detik
- Kementerian Luar Negeri memastikan 45 warga Indonesia yang menetap dan 6 turis di Pokhara selamat dari bencana banjir bandang yang melanda Nepal pekan lalu.
- Bencana yang dipicu retaknya gletser di Gunung Langtang Lirung telah menewaskan ratusan orang dan menyebabkan lebih dari 2.400 warga Nepal dinyatakan hilang.
- Pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan evakuasi, sementara 420 turis asing, termasuk dari negara lain, masih belum bisa dihubungi akibat gangguan komunikasi.

Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia memastikan seluruh warga negara Indonesia yang berada di Nepal dalam kondisi selamat setelah bencana banjir bandang dan tanah longsor yang dipicu pecahnya gletser Gunung Langtang Lirung pada 26 Agustus lalu. Dari total 51 WNI yang terdata, 45 orang merupakan penduduk tetap dan enam lainnya wisatawan, semuanya berada di kawasan Kota Pokhara yang menjadi salah satu destinasi favorit turis asing.
Direktur Pelindungan Warga Negara Indonesia, Heni Hamidah, dalam keterangan daringnya Senin (31/8) menyampaikan bahwa pemantauan terus dilakukan melalui koordinasi dengan perwakilan RI di Kathmandu. "Pantauan terhadap kondisi WNI seluruhnya dalam keadaan baik," ujarnya, menegaskan tidak ada korban jiwa dari warga Indonesia dalam musibah yang meluluhlantakkan sejumlah lembah di Nepal dan China tersebut.
Bencana yang terjadi pekan lalu itu bukan sekadar banjir biasa. Retaknya gletser pada ketinggian 5.200 meter memicu longsoran es dan batu yang berubah menjadi aliran puing raksasa, menerjang wilayah Rasuwa, Nuwakot, Dhading, Kavre, hingga Lembah Kathmandu. Di sisi China, daerah perbatasan Gyirong ikut tertimbun material. Data terbaru dari otoritas setempat mencatat sedikitnya 919 orang tewas, 4.800 orang hilang, dan lebih dari 4.400 orang berhasil dievakuasi.
Skala dampak yang luar biasa ini menempatkan Nepal dalam keadaan darurat. Heni juga mengungkapkan bahwa 184 dari 604 wisatawan asing yang sempat dilaporkan hilang telah ditemukan selamat. Namun, 420 wisatawan lainnya masih belum dapat dikontak karena jaringan komunikasi yang lumpuh di sejumlah lokasi terdampak. Angka ini menunjukkan betapa parahnya gangguan infrastruktur pascabencana.
Bagi Indonesia, kejadian ini menjadi pengingat akan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi yang kian ekstrem. Meski fokus utama saat ini adalah evakuasi dan bantuan kemanusiaan, pertanyaan tentang mitigasi jangka panjang di kawasan rawan longsor dan banjir bandang, termasuk di Indonesia, menjadi relevan. Pengalaman Nepal dalam menangani krisis ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi negara kita yang memiliki karakteristik geografis serupa.
Pemerintah Indonesia melalui Kemlu telah mengaktifkan posko darurat dan terus berkoordinasi dengan otoritas Nepal. Hingga saat ini, belum ada rencana evakuasi khusus untuk WNI karena kondisi mereka dinilai aman. Namun, jika situasi memburuk, pemerintah siap mengambil langkah lebih lanjut. Masyarakat Indonesia yang memiliki keluarga di Nepal diimbau untuk tetap tenang dan memantau informasi resmi dari kedutaan.
Ke depan, tantangan terbesar adalah pemulihan pascabencana. Nepal harus membangun kembali infrastruktur yang hancur, sementara pencarian korban hilang masih terus berlangsung. Bagi Indonesia, peristiwa ini menegaskan perlunya sistem peringatan dini yang lebih baik dan kerja sama regional dalam penanggulangan bencana. Apakah negara-negara Asia Tenggara, termasuk Indonesia, akan memperkuat kolaborasi untuk menghadapi ancaman serupa? Jawabannya akan menentukan ketahanan kawasan dalam menghadapi perubahan iklim yang semakin tidak menentu.



