Gagal di Laga Perebutan Gelar IBF, Moses Itauma Berjanji Akan Kembali
Baca dalam 60 detik
- Petinju Inggris berusia 21 tahun, Moses Itauma, menyerah di ronde kesembilan melawan Filip Hrgovic dalam perebutan gelar kelas berat IBF di O2 Arena London.
- Kekalahan ini menghentikan laju 14 kemenangan beruntun Itauma dan membuatnya gagal menjadi juara dunia kelas berat termuda kedua dalam sejarah.
- Promotor Frank Warren menilai Itauma perlu memperbaiki taktik dan tidak lagi mengandalkan kekuatan pukulan semata untuk bersaing di level elite.

Mimpi Moses Itauma untuk menjadi juara dunia kelas berat termuda kedua dalam sejarah tinju harus pupus. Pada Sabtu malam di O2 Arena London, petinju Inggris berusia 21 tahun itu menyerah di ronde kesembilan setelah timnya melempar handuk saat melawan Filip Hrgovic dalam perebutan gelar IBF yang kosong.
Sejak awal karier profesionalnya, Itauma tampil mengesankan dengan merobek 14 lawan pertamanya. Namun, menghadapi Hrgovic yang berusia 34 tahun dan hanya kalah sekali dari Daniel Dubois pada 2024, pengalaman menjadi pembeda. Itauma sempat unggul cepat, tetapi kehabisan tenaga dan kesulitan bertahan saat Hrgovic meningkatkan tekanan.
Usai pertarungan, Itauma harus keluar arena dengan tandu dan menjalani pemeriksaan medis di rumah sakit sebelum dinyatakan aman. Melalui media sosial, ia menulis, "Ini bukan malam saya, kami mencoba mencapai kehebatan dan hanya kalah dari yang lebih berpengalaman. Saya ucapkan selamat kepada Filip Hrgovic atas kemenangannya. Meski tidak mencapai hasil yang diinginkan, saya yakin pengalaman ini akan berguna untuk pertarungan mendatang. Saya akan kembali."
Kekalahan ini menjadi tamparan keras bagi prospek Itauma yang sebelumnya dijagokan. Frank Warren, bos Queensberry Promotions, menilai aura tak terkalahkan Itauma kini sirna. "Orang akan melihat ini dan mungkin akan lebih mudah membuat pertarungan untuknya," ujar Warren. "Dia masih salah satu talenta paling luar biasa yang pernah saya tangani. Kami akan tetap mendukungnya. Dia butuh lebih banyak kecerdasan bertarung dan berhenti berpikir untuk selalu meng-KO lawan."
Warren menekankan perlunya perubahan pendekatan. Itauma dikenal dengan kekuatan pukulannya, tetapi di level tertinggi, strategi dan ketahanan fisik menjadi kunci. Pertarungan melawan Hrgovic membuktikan bahwa bakat mentah saja tidak cukup. Itauma perlu mengasah kemampuan bertahan, mengatur ritme, dan tidak terburu-buru mencari kemenangan cepat.
Bagi penggemar tinju Indonesia, kekalahan Itauma menjadi pelajaran berharga tentang pentingnya pengalaman dan strategi di atas ring. Meski bakat muda seringkali menjanjikan, jalan menuju gelar dunia penuh dengan rintangan. Itauma masih muda dan punya waktu untuk bangkit. Pertanyaannya, akankah ia mampu beradaptasi dan kembali ke jalur juara? Atau justru kekalahan ini menjadi awal dari kemunduran? Hanya waktu yang bisa menjawab.



