Cameron Kalahkan Mayer, Rebut Gelar Juara Dunia Kelas Menengah Ringan
Baca dalam 60 detik
- Petinju Inggris Chantelle Cameron memenangkan duel sengit melawan Mikaela Mayer dengan keputusan mutlak, merebut sabuk WBA dan WBC.
- Kemenangan ini menegaskan dominasi Cameron di kelas menengah ringan, sekaligus menjadi pukulan telak bagi karier Mayer yang harus kehilangan dua gelar.
- Dengan tambahan dua sabuk, Cameron kini mengincar laga unifikasi melawan juara IBF Oshae Jones atau laga besar lain di bawah naungan MVP.

Chantelle Cameron tampil memukau di atas ring BP Pulse Arena, Birmingham, Sabtu malam (24/8), dengan menundukkan Mikaela Mayer lewat keputusan mutlak. Dua juri memberi nilai 97-93, sementara satu juri lainnya 96-94, menjadikan petinju Inggris itu kini menyandang tiga sabuk sekaligus: WBA, WBC, dan WBO di kelas menengah ringan.
Kemenangan ini bukan sekadar menambah koleksi gelar. Cameron, yang belum terkalahkan sejak duel keduanya melawan Katie Taylor pada 2023, membuktikan bahwa tekanan tanpa henti yang ia terapkan sejak ronde awal mampu melumpuhkan adaptabilitas Mayer. Sepanjang laga, Mayer kesulitan menembus pertahanan Cameron dan mulai kehabisan napas pada ronde keenam, bahkan sempat mengeluarkan darah.
Mayer, yang datang sebagai juara tiga divisi, tidak terima dengan hasil ini. Ia mengklaim telah mengungguli Cameron dan menuduh tuan rumah diuntungkan oleh dukungan penonton. Pernyataan itu memicu adu mulut di dalam ring setelah laga usai. Cameron, dengan nada dingin, hanya berkomentar, "Omong kosong." Kedua petinju pun membuka peluang untuk laga ulang, meski belum ada kesepakatan resmi.
Duel ini sejatinya menjadi puncak perayaan lima tahun Most Valuable Promotions (MVP), perusahaan promosi yang digawangi Jake Paul. Namun, atmosfernya sedikit meredup karena pertandingan utama yang dinanti, duel Moses Itauma melawan Filip Hrgovic, justru dipromosikan sebagai laga perebutan gelar dunia. Akibatnya, banyak kursi kosong di arena; diperkirakan hanya separuh kapasitas yang terisi saat Cameron dan Mayer masuk ring.
Bagi pecinta tinju Indonesia, kemenangan Cameron menegaskan bahwa kelas menengah ringan kini memiliki tiga juara yang sangat dominan. Namun, yang lebih menarik adalah potensi laga unifikasi melawan Oshae Jones, juara IBF, atau Tammara Thibeault dari Kanada. Jika terealisasi, laga tersebut akan menjadi magnet besar bagi penggemar tinju dunia, termasuk di Indonesia yang semakin antusias mengikuti perkembangan tinju internasional.
Di balik kemenangan ini, ada kritik tajam terhadap promosi MVP. Banyak pengamat menilai Cameron layak mendapatkan sorotan yang lebih besar, mengingat kualitasnya yang konsisten sejak mengalahkan Taylor. Namun, keputusan MVP untuk menaikkan laga Itauma-Hrgovic ke status perebutan gelar dunia membuat duel Cameron-Mayer seperti pertandingan pendamping, meski sebenarnya menjadi sajian utama.
Ke depan, Cameron diprediksi akan menuntut laga-laga besar yang sepadan dengan kemampuannya. Ia telah lama mengeluh jarang mendapat kesempatan emas sejak dua laga spektakulernya melawan Taylor. Dengan tiga sabuk di pinggang, tuntutannya kini semakin kuat. Pertanyaannya, akankah MVP memberikan panggung yang layak, atau justru kembali mengorbankan Cameron demi laga-laga yang lebih komersial?



