Moses Itauma Tumbang di Ronde Kesembilan, Filip Hrgovic Kunci Gelar Juara Dunia IBF
Baca dalam 60 detik
- Petinju Inggris berusia 21 tahun, Moses Itauma, harus mengakui keunggulan Filip Hrgovic setelah kehabisan tenaga di ronde kesembilan, meski sempat menjatuhkan lawan di ronde kedua.
- Kekalahan ini menghentikan laju Itauma yang sebelumnya dianggap sebagai calon bintang baru tinju kelas berat, sekaligus memberi Hrgovic gelar juara dunia pertamanya.
- Promotor Frank Warren mengisyaratkan adanya cedera kaki yang diderita Itauma, namun menegaskan bahwa petinju muda itu akan kembali bangkit.

LONDON โ Mimpi Moses Itauma untuk menjadi juara dunia tinju kelas berat harus kandas di O2 Arena, London, Sabtu malam. Petinju Inggris berusia 21 tahun itu menyerah kalah dari Filip Hrgovic pada ronde kesembilan setelah kehabisan tenaga, padahal ia sempat mendominasi jalannya pertarungan dan menjatuhkan lawannya di ronde kedua.
Pertarungan yang memperebutkan gelar IBF yang kosong itu berlangsung sengit. Itauma, yang dijagokan sebagai calon juara dunia termuda kedua dalam sejarah kelas berat, tampil agresif sejak awal. Pukulan-pukulan kirinya dari stance southpaw membuat Hrgovic kesulitan mengimbangi kecepatan. Bahkan, di ronde kedua, sebuah hook kanan membuat Hrgovic kehilangan keseimbangan dan menyentuh kanvas. Namun, Hrgovic yang dikenal dengan ketahanannya, mampu bertahan dan terus menekan.
Memasuki ronde ketiga, Itauma mulai terlihat kelelahan. Ia hanya memiliki pengalaman 26 ronde profesional sebelum laga ini, dan intensitas serangannya yang tinggi mulai menguras energinya. Hrgovic, yang merupakan peraih medali perunggu Olimpiade, mulai melancarkan pukulan-pukulan berat. Meski Itauma sempat menunjukkan ketahanan, pada ronde kesembilan kondisinya memburuk drastis. Ia nyaris roboh setelah menerima pukulan kanan keras, dan akhirnya timnya memutuskan untuk melemparkan handuk saat Itauma terlihat tidak mampu lagi bertahan.
Kekalahan ini menjadi pukulan telak bagi Itauma yang sebelumnya dianggap sebagai bintang masa depan tinju kelas berat. Ia telah melibas 14 lawan pertamanya, dengan 12 di antaranya berakhir dengan knockout. Namun, pengalaman Hrgovic yang lebih matang menjadi pembeda. Hrgovic, yang kini menjadi juara dunia kelas berat pertama dari Kroasia, mengakui bahwa ia sempat kalah dalam hal teknis, tetapi ia percaya pada kecepatan dan ketahanannya.
Kekalahan ini memunculkan pertanyaan apakah langkah Itauma untuk naik ke level juara dunia terlalu cepat. Namun, sejarah mencatat bahwa kekalahan di usia muda bukanlah akhir segalanya. Daniel Dubois, yang kini memegang gelar WBO, juga pernah mengalami kekalahan di usia 23 tahun sebelum akhirnya menjadi juara dunia dua kali. Itauma masih memiliki waktu untuk belajar dan bangkit.
Promotor Frank Warren mengungkapkan bahwa Itauma mungkin mengalami cedera kaki di ronde-ronde akhir, namun ia yakin petinju muda itu akan kembali. "Moses memberikan segalanya. Dia harus kembali ke papan gambar dan dia bisa bangkit lagi," ujar Warren. Hrgovic sendiri memberikan pujian kepada Itauma, menyebutnya sebagai petinju terbaik yang pernah ia hadapi dan "masa depan" tinju kelas berat.
Bagi Indonesia, kekalahan ini menjadi pengingat bahwa dalam olahraga profesional, pengalaman dan manajemen energi adalah kunci. Meski bukan berita langsung dari Tanah Air, antusiasme penggemar tinju di Indonesia terhadap kelas berat tetap tinggi, dan kisah Itauma bisa menjadi pelajaran tentang pentingnya kesabaran dalam membangun karier.
Ke depan, Hrgovic akan menghadapi penantang wajib IBF, Frank Sanchez, dan berpotensi melakukan unifikasi gelar dengan Dubois. Sementara itu, Itauma harus mengevaluasi kembali strateginya dan memastikan kesiapannya sebelum kembali naik ring. Apakah ia akan belajar dari kekalahan ini dan menjadi juara di masa depan? Waktu yang akan menjawab.



