54 Tahun Setelah Muhammad Ali, Tinju Kembali ke Croke Park: Katie Taylor Tutup Karier di Tempat Bersejarah
Baca dalam 60 detik
- Sabtu ini, Katie Taylor akan menjalani laga pamungkas melawan Flora Pili di Croke Park, stadion yang sama yang menjadi saksi kemenangan Muhammad Ali pada 1972.
- Kembalinya tinju ke Croke Park setelah 54 tahun menjadi momen bersejarah, sekaligus penanda kebangkitan tinju wanita yang dipelopori Taylor.
- Kisah Paddy Maguire, petinju Belfast yang bertarung di bawah card Ali, menjadi pengingat bahwa Croke Park bukan sekadar stadion, melainkan simbol transisi olahraga Irlandia.

Setengah abad lebih telah berlalu sejak Muhammad Ali menghiasi ring di Croke Park, dan akhir pekan ini stadion ikonik Dublin itu kembali menjadi panggung tinju dunia. Katie Taylor, sang juara tak terbantahkan kelas ringan welter, akan melakoni laga pamungkas kariernya melawan Flora Pili, Sabtu (25/5/2024). Momen ini bukan sekadar pertarungan; ia adalah jembatan antara dua era, menghubungkan legenda 'The Greatest' dengan sang pelopor tinju wanita modern.
Pada 19 Juli 1972, Croke Park, yang biasanya menjadi saksi kehebatan olahraga Gaelik, berubah menjadi arena tinju. Ali, saat itu berusia 30 tahun, menerima tawaran 300.000 poundsterling dari promotor Kerry, Michael 'Butty' Sugrue, untuk bertarung melawan Al 'Blue' Lewis. Meski sedang pilek, Ali menghentikan Lewis di ronde ke-11. Namun, yang menarik perhatian bukan hanya kemenangan Ali, melainkan juga kisah para petinju lain yang berlaga di card yang sama, salah satunya Paddy Maguire dari Belfast.
Maguire, yang saat itu baru beralih ke profesional, menjadi petinju terakhir yang tampil malam itu. Ia menang angka atas Guy Caudron dari Prancis, setelah penonton yang tersisa menyaksikan aksinya. "Sulit dipercaya butuh waktu begitu lama bagi tinju untuk kembali ke Croke Park," ujar Maguire kepada BBC Sport NI, mengenang malam bersejarah itu. Baginya, tampil di card yang sama dengan Ali adalah kebanggaan tersendiri, terutama karena ia berasal dari Kashmir Road, Belfast.
Kembalinya tinju ke Croke Park kali ini membawa makna yang lebih dalam. Katie Taylor, yang lahir di Bray, Irlandia, bukan hanya seorang petinju; ia adalah ikon yang mengubah wajah tinju wanita. Dengan rekor tak terkalahkan dan gelar juara dunia di berbagai kelas, Taylor telah menginspirasi jutaan orang. Laga melawan Pili akan menjadi puncak kariernya, dan memilih Croke Park sebagai lokasi adalah simbolis: tempat yang sama yang pernah menjadi saksi kejayaan Ali kini menjadi saksi perpisahan sang ratu tinju.
Namun, di balik kemegahan acara, ada cerita tentang persiapan yang kacau pada 1972. Sarung tinju tidak tersedia, sehingga harus didatangkan mendadak dari Inggris, menyebabkan pertandingan undercard tertunda. Maguire, yang harus menunggu hingga setelah main event, mengaku tidak masalah. "Mungkin mereka sengaja menaruh saya di urutan terakhir untuk menjaga penonton tetap tinggal," candanya. Meski demikian, Maguire mengenang Ali sebagai "pria yang menyenangkan", dan keduanya sempat bertemu lagi beberapa kali setelah itu, termasuk di Wembley dan di Hotel Grosvenor House untuk acara testimoni.
Kisah Maguire dan Ali hanyalah salah satu dari banyak cerita yang mewarnai sejarah Croke Park. Eddie Keher, legenda hurling Kilkenny, juga hadir malam itu. Ia bahkan sempat bertemu Ali di Hotel Kilternan dalam acara promosi. "Saya tercengang melihatnya. Dia berbeda dari yang saya bayangkan, tidak seperti pria flamboyan di TV," kenang Keher. Ali, yang mencoba belajar hurling, justru memukul bola dengan satu tangan seperti raket tenis. "Dia masih pria biasa, tapi kemudian dia mendekati saya dan berkata, 'kita akan membuat pertunjukan untuk orang-orang ini'," tambah Keher.
Bagi Indonesia, kisah ini memiliki resonansi tersendiri. Dunia olahraga kita juga memiliki momen-momen bersejarah yang menjadi tonggak kebangkitan, seperti ketika tim bulu tangkis meraih medali emas Olimpiade atau saat stadion Gelora Bung Karno menjadi saksi kemenangan timnas. Kembalinya tinju ke Croke Park mengingatkan kita bahwa olahraga bukan hanya tentang pertandingan, tetapi juga tentang warisan dan identitas. Seperti Taylor yang memilih Croke Park untuk laga pamungkasnya, atlet Indonesia juga sering memilih tempat-tempat yang memiliki makna emosional untuk mengakhiri karier.
Maguire, yang kini berusia 70-an, akan menonton pertarungan Taylor dari rumah. Ia berharap momen ini tidak menjadi yang terakhir. "Katie Taylor memiliki karier yang hebat dan layak mendapatkan malam yang istimewa, tetapi semoga tidak butuh 50 tahun lagi sebelum tinju kembali ke Croke Park," katanya. Pertanyaannya, akankah laga Taylor melawan Pili menjadi awal dari era baru tinju di Irlandia, atau justru menjadi penutup yang manis? Yang jelas, Croke Park akan kembali menjadi saksi bisu dari sebuah babak baru dalam sejarah olahraga Irlandia.



