Enric Mas Kunci Posisi Puncak Vuelta usai Menangi Etape 9 di Alto de Aitana
Baca dalam 60 detik
- Enric Mas memenangi etape 9 Vuelta a Espana dan mempertahankan jersey merah, memperkuat posisinya sebagai pemimpin klasemen.
- Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Mas di Grand Tour sejak 2018, sekaligus balas dendam atas kegagalan di masa lalu.
- Dengan keunggulan 1 menit 18 detik atas Primoz Roglic, persaingan menuju Madrid diprediksi memanas di etape-etape pegunungan berikutnya.

Pembalap tuan rumah Enric Mas mengukuhkan dominasinya di Vuelta a Espana 2025 dengan merebut kemenangan etape kesembilan di puncak Alto de Aitana, Minggu (30/8). Serangan telat yang dilancarkan pebalap Movistar itu pada kilometer-km terakhir tanjakan memastikan ia mempertahankan jersey merah sekaligus memperlebar jarak dengan rival terdekatnya di klasemen umum.
Kemenangan ini menjadi yang pertama bagi Mas di ajang Grand Tour sejak 2018. Pria 31 tahun itu tampil cermat sepanjang rute pegunungan, menghemat tenaga sebelum melancarkan akselerasi pamungkas yang tak mampu diimbangi lawan-lawannya. Di garis finis, ia mengungguli Oscar Onley dari Netcompany Ineos yang harus puas menjadi runner-up, sementara Primoz Roglic dari Red Bull-Bora-Hansgrohe melengkapi podium ketiga.
Dengan hasil ini, selisih waktu antara Mas dan Roglic di klasemen umum kini menjadi 1 menit 18 detik. Felix Gall yang finis keempat pada etape tersebut tetap bertahan di posisi ketiga klasemen. Persaingan menuju Madrid dipastikan masih terbuka, namun momentum jelas berada di pihak Mas yang tampil percaya diri.
"Sekarang saya mengerti Tadej Pogacar, jersey merah memberi sayap," ujar Mas usai etape, merujuk pada pemimpin klasemen yang cedera. "Pagi ini saya bersemangat seperti anak kecil. Menang sambil mengenakan jersey merah adalah hal yang sangat istimewa."
Kemenangan ini terasa istimewa mengingat sehari sebelumnya Mas menolak merayakan atau mengenakan jersey merah setelah Pogacar mengalami kecelakaan. Sikap sportif itu justru berbuah berkah, karena ia tampil trengginas di etape yang didominasi tanjakan terjal sepanjang 22 kilometer menuju Alto de Aitana. Sepanjang etape, ia bertahan di dalam kelompok utama bersama para pesaing terdekatnya, membiarkan serangan awal terjadi tanpa tergoda.
Menjelang tanjakan final, beberapa pembalap yang lolos dalam breakaway terpecah menjadi beberapa grup. Pavel Sivakov dari UAE Team Emirates-XRG dan Marcel Camprubi dari Pinarello-Q36.5 memimpin lomba dengan keunggulan empat menit atas peloton. Sivakov, yang finis kesembilan pada edisi 2024, terus memacu laju dan meninggalkan Camprubi pada 10 kilometer terakhir.
Di tengah tanjakan, sekitar 20 pembalap termasuk Mas dan para calon pemegang jersey merah mulai mengejar ketertinggalan. Gregor Muehlberger dari Decathlon CMA CGM, rekan setim Gall, memacu tempo di depan rombongan. Ketika jarak dengan Sivakov menyusut menjadi satu menit, Gall melancarkan serangan dan diikuti oleh Mas serta Roglic. Mereka berhasil menangkap Sivakov dan melewatinya dengan mudah sebelum Santiago Buitrago mencoba peruntungan pada empat kilometer terakhir.
Namun, serangan Buitrago hanya menjadi pemanasan. Tak lama berselang, Mas melesat dan hanya Onley yang mampu mengikutinya. Roglic menyusul di belakang mereka memasuki kilometer akhir, tetapi tak mampu mengejar duo di depannya. Mas melintasi garis finis dengan mengangkat tangan, disambut sorak sorai penonton, sementara Onley menguntit di belakangnya.
Bagi penggemar balap sepeda di Indonesia, performa Mas ini menegaskan bahwa Vuelta a Espana selalu menyajikan drama dan kejutan. Meski tanpa Pogacar, persaingan memperebutkan jersey merah tetap sengit. Roglic, yang sudah empat kali juara Vuelta, jelas tak akan menyerah begitu saja. Ia masih memiliki peluang di etape-etape pegunungan berikutnya, termasuk etape 10 yang menempuh rute bergelombang sepanjang 184,7 km dari Alcaraz ke Elche de la Sierra pada Selasa (1/9).
Pertanyaannya, akankah Mas mampu mempertahankan konsistensinya hingga Madrid? Atau akankah Roglic menemukan celah untuk merebut kembali kendali balapan? Satu hal yang pasti: persaingan menuju ibukota Spanyol masih panjang dan penuh intrik.



