Chivu Akui Inter Hampir Terperosok di Sardinia: Ketajaman Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Baca dalam 60 detik
- Inter Milan mempertahankan rekor sempurna di Serie A, tetapi kemenangan tipis atas Cagliari menyisakan catatan soal efektivitas penyelesaian akhir.
- Pelatih Cristian Chivu menyoroti adaptasi pemain anyar seperti John Stones dan Curtis Jones yang masih membutuhkan waktu untuk mencapai kebugaran optimal.
- Jadwal berat melawan Real Madrid dan Napoli dalam waktu berdekatan menjadi ujian sesungguhnya bagi kedalaman skuad Inter musim ini.

Inter Milan nyaris kehilangan dua poin di Sardinia. Bermain dominan dengan 31 tembakan dan nilai xG 3,9, Nerazzurri hanya mampu menang 1-0 atas Cagliari berkat gol Hakan Calhanoglu dari luar kotak penalti. Kemenangan ini mempertahankan start sempurna mereka di Serie A, tetapi pelatih Cristian Chivu mengakui timnya hampir 'masuk angin' karena gagal memanfaatkan peluang.
Pertandingan di Sardegna Arena itu menjadi ujian yang jauh lebih berat daripada kemenangan 4-1 atas Monza pekan lalu. Inter mendominasi penguasaan bola dan menciptakan banyak peluang, namun penyelesaian akhir yang buruk membuat Cagliari hampir menyamakan kedudukan di menit-menit akhir. "Ini laga klasik di mana jika Anda tidak membunuh pertandingan, Anda bisa mendapat masalah," ujar Chivu kepada Sky Sport Italia.
Chivu menyebut timnya panik sendiri di babak kedua. "Kami sedikit kacau dan meregang, panik tanpa sebab. Kami menciptakan banyak peluang, jadi jika ada penyesalan, itu karena tidak bisa mengonversi lebih banyak kesempatan," tambahnya. Meski demikian, ia tetap bersyukur membawa pulang tiga poin, terutama dengan sejumlah pemain yang baru kembali dari Piala Dunia.
Laga ini juga menjadi ajang adaptasi bagi rekrutan anyar. Curtis Jones menjalani debutnya sebagai pemain pengganti, sementara John Stones dan Marcus Thuram menambah menit bermain. "Mereka butuh waktu untuk mencapai kebugaran. Satu-satunya cara adalah dengan bermain," jelas Chivu. Ia juga terpaksa memainkan Benjamin Pavard sebagai wing-back karena masalah taktis, sebuah keputusan yang diakuinya kurang ideal.
Strategi transfer Inter musim ini memang lebih berfokus pada karakter daripada sekadar kemampuan teknis. Kehilangan lima pemain, termasuk Palestra dan Khalaili, membuat manajemen harus mencari profil yang tepat. "Kami memikirkan Curtis Jones sejak lama karena intensitas dan ketenangannya," ungkap Chivu. Ia mengakui tugasnya untuk meramu lini tengah yang penuh bintang adalah bagian tersulit.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, laga ini mengingatkan pada pentingnya efektivitas di depan gawang, sebuah pelajaran yang relevan bagi Timnas Indonesia yang kerap mendominasi penguasaan bola namun kesulitan mencetak gol. Selain itu, adaptasi pemain anyar seperti Jones dan Stones menunjukkan bahwa kualitas individu tidak cukup tanpa kesiapan fisik dan mental, sesuatu yang juga dihadapi pemain naturalisasi Garuda.
Inter kini bersiap menghadapi ujian berat: tandang ke markas Real Madrid di Bernabeu pada laga perdana Liga Champions, kemudian berhadapan dengan Napoli. Chivu sendiri mengaku langsung terpikir pada Napoli karena kedua laga beruntun itu akan menguras energi. "Kami ingin kompetitif dan tahu berapa poin yang dibutuhkan untuk menghindari play-off," katanya sambil tersenyum.
Pertanyaan besarnya: akankah Inter mampu menjaga konsistensi performa di tengah padatnya jadwal dan masih belum optimalnya kebugaran pemain kunci? Jika tidak, impian Scudetto dan Liga Champions bisa sirna sebelum musim mencapai titik tengah.



