Džeko Cetak Sejarah Bundesliga: Comeback 15 Tahun, Kini Incar Rekor Gol Tertua
Baca dalam 60 detik
- Penyerang Schalke, Edin Džeko, kembali tampil di Bundesliga setelah absen 15 tahun 255 hari, rekor terpanjang kedua dalam sejarah liga.
- Pada usia 40 tahun 166 hari, ia kini menjadi pemain tertua kedelapan yang pernah berlaga di kasta tertinggi Jerman, dengan tiga pemain non-kiper di atasnya.
- Jika mencetak gol dalam dua bulan ke depan, Džeko akan menjadi pencetak gol tertua kedua, dan jika melampaui itu, ia memecahkan rekor absolut Claudio Pizarro.

Setelah menanti lebih dari satu setengah dekade, Edin Džeko akhirnya menginjakkan kaki lagi di panggung Bundesliga. Minggu lalu, saat Schalke bertandang ke Augsburg, sang penyerang berusia 40 tahun masuk sebagai pemain pengganti di babak kedua, menandai kembalinya ia ke liga elite Jerman setelah terakhir kali tampil bersama Wolfsburg pada musim 2010/11. Momen singkat itu bukan sekadar nostalgia, melainkan sebuah pencapaian statistik yang menempatkannya di jajaran legenda.
Džeko, yang kini membela Schalke, tercatat tampil selama 14 menit di WWK Arena. Dengan penampilan tersebut, ia resmi menjadi pemain tertua kedelapan dalam sejarah Bundesliga, tepatnya di usia 40 tahun 166 hari. Di atasnya, hanya ada tiga pemain non-kiper yang lebih tua: Klaus Fichtel, Claudio Pizarro, dan Mirko Votava. Sementara itu, jarak antara penampilan terakhirnya di Wolfsburg dan debutnya bersama Schalke mencapai 15 tahun 255 hari—rekor terpanjang kedua sepanjang masa, hanya kalah dari Wolfgang Böhni yang sempat absen 16 tahun 245 hari.
Kembalinya Džeko bukan sekadar seremoni. Ia masih menyimpan ambisi untuk menambah pundi-pundi golnya di usia senja. Jika dalam dua bulan ke depan ia berhasil mencetak gol, ia akan menjadi pemain tertua kedua yang pernah menjebol gawang lawan di Bundesliga, menggeser posisi Mirko Votava. Lebih dari itu, jika ia mampu mencetak gol setelah itu, rekor Claudio Pizarro sebagai pencetak gol tertua akan pecah. Pizarro sendiri mencetak gol terakhirnya di usia 41 tahun 268 hari.
Fenomena Džeko mengingatkan pada era di mana pengalaman dan ketajaman masih menjadi komoditas berharga di sepak bola Eropa. Di tengah gempuran pemain muda dengan kecepatan dan stamina, kehadiran striker sekaliber Džeko memberikan warna tersendiri. Ia membuktikan bahwa usia hanyalah angka, selama hasrat dan perawatan fisik tetap terjaga. Seperti yang pernah ia katakan, "Saya masih punya gairah untuk bermain."
Bagi penggemar sepak bola Indonesia, kisah Džeko menjadi inspirasi bahwa karier pemain tidak harus berakhir di usia 30-an. Banyak pemain Asia Tenggara yang masih produktif di usia 35 tahun ke atas, seperti pemain-pemain legendaris Thailand atau Vietnam. Kehadiran Džeko di Bundesliga juga menegaskan bahwa liga Jerman tetap memberi ruang bagi pemain senior yang berkualitas, berbeda dengan beberapa liga lain yang cenderung mengutamakan regenerasi.
Schalke sendiri tengah berjuang untuk bangkit setelah beberapa musim terpuruk. Kedatangan Džeko diharapkan tidak hanya memberikan pengalaman di lapangan, tetapi juga menjadi mentor bagi para penyerang muda. Dengan kontrak yang berlaku hingga akhir musim, ia memiliki waktu untuk membuktikan bahwa keputusan manajemen membawanya kembali bukanlah langkah sentimental semata.
Pertanyaannya kini: mampukah Džeko menambah daftar golnya dan mengukir nama di puncak rekor? Jika ya, ia akan menjadi bukti hidup bahwa dedikasi dan profesionalisme mampu menaklukkan batas usia. Jika tidak, ia tetap telah mencatatkan sejarah yang sulit ditandingi oleh generasi mana pun.



