Banjir Bandang di Grand Canyon: Puluhan Dievakuasi, 20 Orang Dikhawatirkan Hilang
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang di Bright Angel Creek, Grand Canyon, memaksa evakuasi puluhan orang dan menghanyutkan material besar ke Sungai Colorado.
- Otoritas taman nasional masih mencari informasi tentang lebih dari 20 orang yang dilaporkan hilang atau belum dapat dihubungi pasca-bencana.
- Peristiwa ini menyoroti kerentanan kawasan wisata alam terhadap cuaca ekstrem, dengan implikasi bagi pengelolaan destinasi serupa di Indonesia.

Banjir bandang yang menerjang Grand Canyon pada Sabtu sore memaksa evakuasi puluhan wisatawan dan menghanyutkan bongkahan batu besar serta material lain ke Sungai Colorado. Otoritas Taman Nasional Grand Canyon kini tengah mencari informasi mengenai lebih dari 20 orang yang dilaporkan hilang atau belum dapat dikonfirmasi keberadaannya.
Peristiwa ini terjadi di Bright Angel Creek, anak sungai yang bermuara ke Colorado, setelah hujan deras mengguyur kawasan tersebut. Dalam waktu singkat, debit air naik drastis, merobohkan jembatan penyeberangan, memperlebar dasar sungai, dan bahkan membentuk jeram baru yang sebelumnya tidak ada. Kondisi ini memaksa penutupan sejumlah lokasi populer seperti Bright Angel Campground, Phantom Ranch, dan sebagian jalur North Kaibab.
Menurut Justin Johndrow, meteorolog dari National Weather Service di Flagstaff, curah hujan mencapai 1 hingga 2,5 sentimeter hanya dalam 30 menit di area berbatu dengan perbedaan elevasi curam. "Sebagian besar air langsung mengalir deras," ujarnya. Aliran deras ini turun dari North Rim menuju Sungai Colorado, dengan penurunan ketinggian sekitar 1.800 meter, menciptakan daya rusak yang luar biasa.
Lebih dari 60 orang telah dievakuasi dari Phantom Ranch, sebuah tempat bersejarah yang kerap menjadi persinggahan para pengarung sungai. Evakuasi lanjutan direncanakan pada Minggu dengan bantuan Departemen Keselamatan Publik Arizona. Hingga kini, belum ada laporan korban luka, namun pihak taman nasional mengimbau siapa pun yang memiliki informasi tentang pendaki atau berkemah di area tersebut untuk segera melapor.
Erica Viola, salah satu wisatawan yang selamat, menuturkan bahwa ia berada di Bright Angel Campground saat hujan mulai turun. Bersama sekitar 50 pendaki lain, ia menyaksikan sungai naik dan material seperti rumah kayu hanyut terbawa arus. Kelompoknya akhirnya dievakuasi menggunakan helikopter, mengakhiri petualangan mereka lebih cepat dua hari dari rencana.
Jack Schmidt, direktur Center for Colorado River Studies di Utah State University, mengingatkan bahwa peristiwa ini adalah bukti betapa dinamisnya lanskap Grand Canyon. "Ini pengingat bahwa kawasan ini selalu berubah," katanya. Para ahli memperkirakan perubahan iklim akan meningkatkan frekuensi cuaca ekstrem, termasuk hujan deras yang memicu banjir bandang di daerah semacam ini.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pelajaran berharga. Destinasi wisata alam seperti kawasan pegunungan di Jawa Barat, Sumatera, atau Nusa Tenggara memiliki karakteristik geografis serupa dengan Grand Canyonโlereng curam dan sungai yang mudah meluap. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat banjir bandang sering terjadi di Indonesia, terutama saat La Nina meningkatkan curah hujan. Sistem peringatan dini dan prosedur evakuasi yang jelas menjadi krusial untuk melindungi wisatawan dan penduduk lokal.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana taman nasional di seluruh dunia, termasuk Indonesia, akan beradaptasi dengan ancaman cuaca ekstrem yang semakin sering. Akankah investasi infrastruktur mitigasi seperti tanggul dan jalur evakuasi ditingkatkan? Atau justru pembatasan jumlah pengunjung di kawasan rawan bencana menjadi pilihan? Keputusan ini akan menentukan keselamatan jutaan wisatawan yang setiap tahunnya menikmati keindahan alam.



