Krisis Listrik di PLTN Zaporizhzhia: Pasokan Diesel Hanya Cukup 10 Hari, IAEA Desak Gencatan Senjata
Baca dalam 60 detik
- PLTN Zaporizhzhia kehilangan pasokan listrik eksternal selama lebih dari seminggu, memaksa penggunaan generator diesel darurat dengan stok terbatas.
- IAEA menyoroti risiko keamanan nuklir yang meningkat akibat insiden drone dan kesulitan logistik bahan bakar di tengah konflik.
- Negosiasi gencatan senjata lokal menjadi kunci untuk memungkinkan perbaikan jaringan listrik dan mencegah potensi bencana.

Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) Zaporizhzhia di Ukraina selatan kembali berada di ambang krisis. Badan Energi Atom Internasional (IAEA) mengonfirmasi bahwa fasilitas tersebut telah kehilangan pasokan listrik eksternal selama lebih dari seminggu, memaksa operator mengandalkan generator diesel darurat untuk menjaga sistem pendingin enam reaktor yang telah dimatikan. Dengan stok solar di lokasi yang diperkirakan hanya bertahan sepuluh hari, situasi ini menempatkan instalasi nuklir terbesar di Eropa pada risiko keamanan yang serius.
Dalam pernyataan resminya, Sabtu (29/8), IAEA mengungkapkan bahwa gangguan pasokan listrik terjadi setelah aktivitas militer di sisi utara Sungai Dnipro. Padahal, listrik eksternal sangat krusial untuk mendinginkan reaktor yang tidak beroperasi, mencegah panas berlebih yang dapat berujung pada kecelakaan nuklir. Meskipun pengiriman diesel sempat dilakukan pada Kamis dan Jumat dari lokasi luar, pasokan ke fasilitas penyimpanan di luar lokasi telah terhenti selama sekitar enam bulan.
Direktur Jenderal IAEA, Rafael Grossi, menegaskan bahwa ketersediaan bahan bakar diesel menjadi faktor penentu ketika pembangkit nuklir kehilangan daya eksternal. "Situasi ini sekali lagi menunjukkan mengapa pasokan listrik eksternal yang andal dan jalur pasokan yang aman sangat diperlukan untuk keselamatan dan keamanan nuklir," ujarnya. IAEA, yang bermarkas di Wina, kini tengah berupaya menegosiasikan gencatan senjata lokal untuk memungkinkan perbaikan saluran listrik yang rusak.
Ketegangan di sekitar PLTN Zaporizhzhia semakin meningkat setelah tiga insiden drone dilaporkan terjadi pekan ini, melukai dua karyawan dan memicu kekhawatiran baru akan keselamatan. Fasilitas yang direbut pasukan Rusia pada Maret 2022 ini telah menjadi titik api konflik, dengan kedua belah pihak saling menuding melakukan serangan di kawasan yang menjadi garis depan tersebut. Sejak September 2022, tim IAEA telah hadir secara permanen di lokasi untuk memantau kondisi, namun enam reaktor di sana telah dimatikan sejak tahun itu.
Bagi Indonesia, peristiwa ini menjadi pengingat akan pentingnya ketahanan infrastruktur energi nasional. Meskipun Indonesia tidak memiliki pembangkit nuklir yang beroperasi, rencana pengembangan PLTN di masa depan harus memperhatikan aspek keamanan pasokan bahan bakar dan sistem cadangan yang andal. "Krisis di Zaporizhzhia menunjukkan bahwa faktor eksternal seperti konflik geopolitik dapat mengganggu operasional fasilitas nuklir secara drastis," ujar pengamat energi dari Universitas Indonesia, yang enggan disebutkan namanya. "Indonesia perlu belajar dari kasus ini untuk memperkuat protokol darurat dan diversifikasi sumber energi."
Lebih jauh, insiden ini menyoroti kerentanan fasilitas nuklir di zona perang. Para analis memperkirakan bahwa tanpa gencatan senjata yang efektif, risiko kecelakaan nuklir akan terus membayangi Eropa. IAEA telah berulang kali memperingatkan bahwa kerusakan pada sistem pendingin dapat menyebabkan pelepasan material radioaktif yang berdampak luas, tidak hanya bagi Ukraina tetapi juga negara-negara tetangga. Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: akankah komunitas internasional mampu menekan kedua belah pihak untuk mengamankan PLTN tersebut sebelum stok diesel habis?



