Fenomena Jepang di Kalangan Anak Muda Inggris: Media Sosial, Yen Lemah, dan Dampak Overtourism
Baca dalam 60 detik
- Kunjungan wisatawan Inggris ke Jepang melonjak 24,8% pada 2025, didorong tren media sosial dan nilai tukar yen yang rendah.
- Fenomena ini memicu kekhawatiran overtourism, dengan otoritas lokal mengambil langkah seperti denda dan pembatalan festival.
- Bagi Indonesia, tren ini menjadi pelajaran tentang pengelolaan pariwisata berkelanjutan di tengah popularitas destinasi yang meningkat.

Gelombang wisatawan muda asal Inggris berbondong-bondong menuju Jepang, menjadikan negeri Sakura sebagai destinasi impian yang tengah naik daun. Data Organisasi Pariwisata Nasional Jepang mencatat 483.157 wisatawan Inggris pada 2025, melonjak 24,8 persen dibanding tahun sebelumnya dan 40,8 persen di atas level 2019. Fenomena ini bukan sekadar tren liburan, melainkan cerminan pergeseran perilaku generasi milenial dan Gen Z yang terobsesi dengan konten media sosial.
Platform seperti TikTok dan Instagram menjadi panggung utama yang memicu ledakan minat ini. Video-video yang menampilkan keindahan Gunung Fuji, semangkuk ramen lezat, hingga gemerlap lampu Shibuya Crossing tersebar luas dan memikat jutaan pasang mata. Alex Baker, yang telah tiga kali berkunjung ke Jepang, mengaku tidak bisa lepas dari konten-konten tersebut di lini masanya. "Saya tidak bisa scroll TikTok atau Instagram tanpa melihat video orang-orang di 7-Eleven, mencoba skincare, camilan, sandwich viral, dan restoran viral," ujarnya.
Faktor ekonomi juga berperan signifikan. Pelemahan yen yang mencapai titik terendah dalam 40 tahun membuat biaya hidup di Jepang terasa lebih murah bagi wisatawan asing. Faye Jawad, pengulas restoran di TikTok, menyebut semangkuk ramen yang "mengubah hidup" hanya berharga ยฃ3-4, jauh lebih murah dibandingkan di Inggris yang bisa mencapai ยฃ20. Kondisi ini mendorong wisatawan untuk berbelanja lebih banyak, seperti yang dialami Sam Corbett yang sampai membeli koper tambahan untuk membawa pulang oleh-oleh.
Namun, popularitas yang melonjak ini membawa konsekuensi. Keluhan tentang perilaku wisatawan yang tidak sopan memicu perdebatan tentang overtourism. Chiyuki Izumii, pemandu wisata dari Japan Guide Agency, menyoroti perilaku buruk seperti melompati antrean, membawa koper besar di bus, hingga mengukir inisial di hutan bambu Kyoto. Pemerintah setempat mulai bertindak: Fujikawaguchiko membatalkan festival bunga sakura, Shibuya memberlakukan denda untuk pembuangan sampah, dan pajak turis internasional dinaikkan dari 1.000 yen menjadi 3.000 yen.
Bagi Indonesia, fenomena ini menawarkan pelajaran berharga. Sebagai negara dengan potensi pariwisata besar, Indonesia perlu mengantisipasi lonjakan wisatawan serupa dengan menyiapkan infrastruktur dan regulasi yang memadai. Pengalaman Jepang menunjukkan bahwa popularitas media sosial dapat menjadi pisau bermata dua: meningkatkan ekonomi namun juga menimbulkan masalah jika tidak dikelola dengan baik. Pertanyaannya, apakah Indonesia siap menghadapi gelombang wisatawan yang terinspirasi konten viral tanpa mengorbankan kelestarian lingkungan dan kenyamanan warga lokal?



