Fery Gagal Raih Gelar Perdana ATP, Takluk dari Buse di Final Winston-Salem
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris Arthur Fery harus mengakui keunggulan Ignacio Buse di partai puncak Winston-Salem Open dengan skor 6-3, 6-2.
- Kekalahan ini tak menghentikan laju Fery yang akan naik ke peringkat 33 dunia, menggeser Cameron Norrie sebagai petenis nomor satu Inggris.
- Fery kini bersiap menghadapi US Open, turnamen Grand Slam terakhir musim ini, dengan lawan berat Lorenzo Musetti di babak pertama.

Arthur Fery, petenis asal Inggris yang menjadi sorotan usai menembus semifinal Wimbledon, harus mengubur mimpinya meraih gelar perdana di ajang ATP Tour. Pada final Winston-Salem Open, Sabtu (24/8) waktu setempat, ia takluk dari petenis Peru, Ignacio Buse, dengan skor telak 6-3, 6-2. Kekalahan ini memang mengecewakan, namun di balik itu ada kabar baik: Fery akan naik ke peringkat 33 dunia, sekaligus menggeser Cameron Norrie sebagai petenis nomor satu Inggris.
Perjalanan Fery di Winston-Salem terbilang impresif. Ia menjadi petenis Inggris pertama yang mampu menembus final turnamen ATP 250 yang digelar di North Carolina tersebut. Padahal, baru delapan pekan lalu, sebelum kejutan di All England Club, peringkatnya masih di luar 100 besar. Kini, namanya melesat dan menjadi sorotan publik tenis internasional. Namun, di partai puncak, ia berhadapan dengan Buse yang tampil percaya diri dan mampu memanfaatkan setiap peluang.
Pertandingan diawali dengan ketat, kedua petenis saling jaga servis. Namun, Buse berhasil memecah servis Fery pada game kedelapan untuk unggul 5-3, lalu menutup set pertama dengan kemenangan 6-3. Memasuki set kedua, Buse semakin percaya diri. Ia langsung mencuri dua break untuk unggul jauh. Fery sempat memperkecil ketertinggalan dengan merebut satu break, tetapi Buse merespons dengan tiga game beruntun untuk memastikan kemenangan. Bagi Buse, kemenangan ini terasa spesial: ia menjadi juara termuda dalam sejarah Winston-Salem dan meraih gelar kedua di level ATP setelah menaklukkan Tommy Paul di Hamburg, Mei lalu.
Kekalahan ini tentu menjadi pelajaran berharga bagi Fery. Ia mengakui bahwa Buse tampil lebih baik dalam momen-momen krusial. Namun, dengan waktu yang singkat, Fery harus segera bangkit. Ia dijadwalkan tampil di US Open yang dimulai Minggu (25/8) waktu setempat. Ini akan menjadi debutnya di Flushing Meadows, dan ia langsung menghadapi ujian berat: Lorenzo Musetti, unggulan ke-13 asal Italia. Musetti dikenal sebagai petenis bertangan satu yang lincah dan memiliki variasi pukulan yang sulit ditebak.
Bagi penggemar tenis di Indonesia, performa Fery menjadi menarik untuk diikuti. Ia adalah salah satu dari sembilan petenis Inggris yang akan tampil di US Open. Selain Fery, ada Cameron Norrie, Jan Choinski, serta para petenis kualifikasi seperti Toby Samuel dan Harry Wendelken. Di sektor putri, Katie Boulter akan ditemani Fran Jones dan Harriet Dart. Namun, dua nama besar Inggris, Jack Draper dan Emma Raducanu, dipastikan absen karena cedera. Kehadiran banyak petenis Inggris ini menunjukkan regenerasi yang sehat di tenis Inggris, mirip dengan upaya Indonesia yang tengah berusaha melahirkan petenis-petenis muda berbakat untuk bersaing di level internasional.
Dengan kekalahan ini, Fery dihadapkan pada pertanyaan besar: apakah ia mampu bangkit dan memberikan perlawanan sengit di US Open? Pengalaman tampil di semifinal Wimbledon memberinya modal kepercayaan diri. Namun, lawan-lawannya di New York tentu tidak akan memberinya ruang bernapas. Jika Fery mampu melewati rintangan pertama, bukan tidak mungkin ia akan menjadi ancaman serius di turnamen Grand Slam terakhir musim ini. Semua mata akan tertuju pada penampilannya di Flushing Meadows.



