Serangan Drone Rusia di Gudang Amunisi Kyiv Tewaskan 37 Orang, Zelenskyy Janji Usut Tuntas
Baca dalam 60 detik
- Serangan drone Rusia di gudang amunisi dekat Kyiv memicu ledakan besar, menewaskan sedikitnya 37 orang dan melukai puluhan lainnya.
- Presiden Zelenskyy mengkritik kelalaian penyimpanan amunisi yang dekat dengan pemukiman, dan membuka penyelidikan kriminal atas insiden tersebut.
- Serangan ini merupakan bagian dari eskalasi serangan udara Rusia yang menargetkan Kyiv selama tiga hari berturut-turut, memicu kekhawatiran akan meluasnya dampak konflik.

Serangan drone Rusia terhadap depot amunisi di wilayah Kyiv pada Jumat (28/8) memicu ledakan dahsyat yang menewaskan sedikitnya 37 orang, menurut Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy. Insiden ini menjadi serangan paling mematikan di area Kyiv tahun ini, dan memicu kemarahan publik atas kelalaian yang diduga terjadi dalam penyimpanan bahan peledak.
Ledakan di desa Myla itu menghancurkan fasilitas militer yang menyimpan artileri, ranjau, dan drone. Gelombang ledakan merusak bangunan tempat tinggal, panti jompo, dan fasilitas untuk penyandang disabilitas di sekitarnya. Ratusan warga terpaksa dievakuasi, sementara puluhan lainnya dilaporkan luka-luka. Gubernur wilayah Kyiv, Tymur Tkachenko, menyebut korban termasuk seorang kepala desa tetangga yang tewas saat berupaya membantu warga.
Zelenskyy, dalam pidato video yang dirilis Sabtu (29/8), mengecam insiden tersebut sebagai "kelalaian yang mengerikan" karena bahan peledak disimpan dekat dengan permukiman. "Situasi yang mengerikan dan kelalaian yang mengerikan dari pihak mereka yang menyimpan bahan peledak tepat di samping warga," ujarnya. Ia juga mengaitkan insiden ini dengan kejadian serupa di Vyshneve bulan lalu yang menewaskan 10 orang, dan menegaskan bahwa kejadian berulang seperti ini "sangat tidak dapat diterima".
Pemerintah Ukraina telah membuka penyelidikan kriminal atas dugaan kelalaian resmi, dan Kementerian Pertahanan memerintahkan audit menyeluruh terhadap semua lokasi penyimpanan senjata. Langkah ini diambil untuk mencegah terulangnya tragedi serupa, sekaligus menjawab tuntutan publik akan transparansi. Namun, pihak militer Ukraina jarang mengungkapkan kerusakan pada target militer akibat serangan Rusia, sehingga audit ini menjadi langkah yang tidak biasa.
Serangan ini terjadi di tengah eskalasi serangan udara Rusia yang menargetkan Kyiv dan sekitarnya selama tiga hari berturut-turut. Pada Sabtu pagi, sirene serangan udara berbunyi lagi, dan pertahanan udara Ukraina terlihat berusaha menembak jatuh drone yang mendekat. Rusia dilaporkan menggunakan rudal balistik dan drone berkecepatan tinggi yang sulit ditembak jatuh oleh sistem pertahanan udara Ukraina. Dalam serangan terpisah, seorang gadis berusia 14 tahun tewas di distrik Boryspil, dan seorang balita berusia 2 tahun menjadi korban di Kyiv akibat jatuhnya drone yang ditembak jatuh.
Bagi Indonesia, konflik yang berk berkepanjangan ini menjadi pengingat akan pentingnya keamanan siber dan pertahanan udara, terutama di tengah meningkatnya penggunaan drone dalam peperangan modern. Meskipun Indonesia tidak terlibat langsung, dinamika geopolitik global dan potensi dampak ekonomi dari ketidakstabilan kawasan Eropa Timur patut dicermati. Selain itu, insiden ini menyoroti pentingnya manajemen penyimpanan material berbahaya, sebuah pelajaran yang relevan bagi industri dan militer di dalam negeri.
Ke depan, pertanyaan besar yang menggantung adalah bagaimana Ukraina akan memperkuat pertahanan udaranya untuk menghadapi ancaman drone dan rudal Rusia yang semakin canggih. Akankah audit penyimpanan amunisi mampu mencegah tragedi serupa? Atau justru eskalasi ini akan memicu respons internasional yang lebih keras terhadap Moskow?



