India Perketat Pemantauan Gletser Himalaya Usai Bencana Nepal: Ancaman Nyata bagi Kawasan Asia
Baca dalam 60 detik
- Pemerintah India menginstruksikan pemantauan menyeluruh terhadap gletser dan danau glasial di Uttarakhand setelah bencana di perbatasan Tibet-Nepal menewaskan ratusan orang.
- Para ilmuwan memperingatkan bahwa pencairan gletser Himalaya yang dipercepat oleh perubahan iklim meningkatkan risiko bencana hidrologi mendadak di kawasan padat penduduk.
- Langkah India ini menjadi sinyal bagi negara-negara Asia, termasuk Indonesia, untuk memperkuat sistem peringatan dini terhadap dampak perubahan iklim yang semakin ekstrem.

New Delhi โ India bergerak cepat memperketat pengawasan gletser di kawasan Himalaya yang berbatasan dengan China dan Nepal, hanya beberapa hari setelah bencana dahsyat di perbatasan Tibet-Nepal menewaskan ratusan jiwa. Langkah ini menjadi sorotan karena menyangkut keselamatan jutaan penduduk di kawasan yang rentan terhadap dampak perubahan iklim.
Bencana yang terjadi pada 26 Agustus lalu itu dipicu oleh runtuhnya gletser yang memicu banjir bandang dan lumpur, menurut Survei Geologi Amerika Serikat (USGS). Data resmi mencatat sedikitnya 682 orang tewas dan hampir 3.000 lainnya dinyatakan hilang. Peristiwa ini menjadi pengingat pahit bahwa gletser Himalaya, yang menjadi sumber air bagi hampir dua miliar orang, sedang mencair dengan kecepatan yang belum pernah terjadi sebelumnya.
Menyikapi situasi tersebut, Menteri Manajemen Bencana Negara Bagian Uttarakhand, Madan Kaushik, menyatakan bahwa pihaknya telah memerintahkan departemen terkait untuk memantau seluruh gletser dan danau glasial di wilayahnya. "Kami berbagi perbatasan dengan Nepal dan memiliki kondisi geografis yang serupa. Kami telah meminta tim untuk waspada dan memantau apakah situasi serupa muncul di negara bagian ini," ujarnya kepada AFP, Sabtu (29/8).
Uttarakhand, yang dikenal sebagai salah satu kawasan paling sensitif secara ekologis di India, memiliki 1.266 danau glasial. Angka ini menjadikannya wilayah dengan risiko tinggi terhadap bencana glasial. Para ahli menilai bahwa kombinasi antara perubahan iklim dan pembangunan yang tidak terencana semakin memperbesar frekuensi, tingkat keparahan, dan dampak bencana semacam ini.
Pencairan gletser dan mencairnya lapisan es abadi (permafrost) juga dapat mengganggu stabilitas lereng gunung, meningkatkan risiko longsor. Fenomena ini bukan hanya ancaman bagi India dan Nepal, tetapi juga bagi negara-negara lain di kawasan Asia yang bergantung pada aliran sungai yang berasal dari Himalaya.
Bagi Indonesia, meskipun tidak berbatasan langsung dengan Himalaya, peristiwa ini memberikan pelajaran penting. Sebagai negara kepulauan dengan banyak gunung berapi dan daerah aliran sungai yang rentan, Indonesia perlu memperkuat sistem peringatan dini terhadap bencana hidrometeorologi yang dipicu oleh perubahan iklim. Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) dalam berbagai kesempatan telah menekankan pentingnya kesiapsiagaan menghadapi cuaca ekstrem dan bencana geologi.
Para ilmuwan memperingatkan bahwa pencairan gletser Himalaya akan terus berlanjut seiring meningkatnya suhu global. Hal ini tidak hanya mengancam ketahanan air, tetapi juga stabilitas kawasan. Negara-negara di Asia Selatan dan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, harus mulai berinvestasi dalam teknologi pemantauan dan sistem peringatan dini yang lebih canggih untuk mengurangi risiko bencana serupa.
Pertanyaan yang kini mengemuka adalah: apakah langkah India ini akan diikuti oleh negara-negara lain yang berbagi ekosistem Himalaya, seperti Bhutan dan Pakistan? Dan yang lebih penting, bagaimana dunia internasional akan bekerja sama untuk mengatasi akar masalah perubahan iklim yang menjadi pemicu utama bencana-bencana ini? Tanpa aksi nyata, bencana serupa diprediksi akan semakin sering terjadi.


