Hoffman dan Gandolfini: Kehilangan Ayah Menjadi Tameng dari Kritik Nepo Baby
Baca dalam 60 detik
- Aktor Cooper Hoffman dan Michael Gandolfini mengaku jarang menerima kritik 'nepo baby' karena kehilangan ayah mereka di usia muda.
- Keduanya menilai publik cenderung bersimpati sehingga tidak melontarkan komentar negatif terkait karier mereka di industri film.
- Fenomena ini menyoroti bagaimana persepsi publik terhadap hak istimewa di Hollywood bisa berubah drastis oleh latar belakang personal.

Cooper Hoffman dan Michael Gandolfini, dua aktor muda Hollywood yang sama-sama kehilangan ayah terkenal di masa kanak-kanak, mengaku nyaris tidak pernah menerima kritik sebagai "nepo baby"โistilah untuk anak selebritas yang dianggap memanfaatkan koneksi orang tua. Dalam wawancara terbaru dengan Rolling Stone, Hoffman, yang kini berusia 23 tahun, mengungkapkan bahwa publik cenderung menahan diri untuk menyerang mereka karena rasa simpati atas kehilangan yang mereka alami.
Hoffman kehilangan ayahnya, Philip Seymour Hoffman, pemenang Oscar, pada 2014 ketika ia baru berusia 10 tahun. Sementara itu, Michael Gandolfini adalah putra mendiang James Gandolfini, bintang serial legendaris The Sopranos, yang wafat pada 2013. Keduanya tumbuh tanpa figur ayah yang menjadi ikon di industri film, dan justru kondisi inilah yang menurut mereka menjadi "tameng" dari hujatan netizen.
"Kami seperti berkata, 'Ya, nepo baby memang masalah sebenarnya,'" ujar Hoffman dengan nada bercanda. Ia menambahkan, "Nepo baby mendapat banyak hujatan di internet, tapi saya dan Michael tidak mendapatkannya sama sekali. Jika orang tua kami masih hidup, kami pasti dianggap nepo sepenuhnya. Saya pikir orang-orang secara naluriah merasa kasihan karena ayah kami sudah tiada, jadi mereka berpikir, 'Kami tidak akan menyentuh itu.'"
Pernyataan ini memicu diskusi tentang bagaimana standar ganda berlaku dalam industri hiburan. Di satu sisi, anak selebritas yang masih memiliki orang tua aktif kerap dituding hanya mengandalkan nama besar keluarga. Namun, ketika sang figur sentral telah tiada, narasi berubah menjadi kisah perjuangan dan penghormatan terhadap warisan. Fenomena ini tidak hanya terjadi di Hollywood, tetapi juga relevan di industri hiburan Indonesia, di mana anak-anak musisi atau aktor legendaris sering menghadapi ekspektasi tinggi sekaligus kecurigaan publik.
Di Indonesia, perbincangan tentang "anak sultan" atau "anak artis" yang berkarier di dunia hiburan kerap memicu perdebatan serupa. Namun, kasus seperti mendiang Didi Kempot atau Rhoma Irama yang mewariskan nama besar kepada anak-anaknya menunjukkan bahwa publik lebih mudah menerima jika sang pewaris menunjukkan kerja keras dan bakat nyata. Hoffman sendiri mengakui bahwa perbandingan dengan ayahnya adalah sebuah kehormatan besar, meskipun ia berusaha menemukan jati dirinya di luar bayang-bayang sang ayah.
"Saya akan tetap dibandingkan apa pun yang terjadi. Dan omong-omong, dibandingkan dengan pria itu adalah kehormatan besar. Ayah saya adalah aktor favorit saya. Saya mencoba mencari tahu siapa diri saya di luar itu. Yang saya harap bisa saya tinggalkan adalah banyak karya bagus," tuturnya.
Hoffman juga berbagi momen emosional ketika tim basket favoritnya, New York Knicks, akhirnya memenangkan gelar NBA tahun ini setelah penantian panjang. Ia mengaku sulit menahan kesedihan karena sang ayah tidak bisa menyaksikan momen bersejarah tersebut. "Saya sudah menunggu 23 tahun untuk Knicks sehebat sekarang. Ini gila. Saya tidak suka membicarakannya karena terdengar menyedihkan, tapi alasan saya menonton Knicks adalah karena ayah saya. Kepergiannya sangat terasa... Itu menambah lapisan kesedihan yang saya harap tidak ada," ungkapnya.
Di tengah sorotan terhadap isu nepotisme di industri kreatif global, pengakuan Hoffman dan Gandolfini membuka perspektif baru: bahwa konteks personal dapat mengubah cara publik memandang hak istimewa. Pertanyaan yang muncul kemudian, apakah simpati semacam ini akan bertahan seiring berjalannya waktu, atau justru semakin menguatkan posisi mereka di industri? Hanya waktu yang bisa menjawab, namun yang jelas, kedua aktor muda ini terus membangun karier mereka dengan karya, bukan sekadar nama besar.



