CNN Minta Maaf Usai Salah Pakai Foto Impersonator Dolly Parton
Baca dalam 60 detik
- CNN secara resmi meminta maaf kepada keluarga Dolly Parton setelah menayangkan foto Kelly Vohnn, seorang impersonator, dalam liputan kematian penyanyi legendaris itu.
- Insiden ini memicu diskusi tentang etika media dan verifikasi visual, terutama saat memberitakan tokoh publik yang sangat dikenal.
- Kelly Vohnn menegaskan tak pernah memberi izin penggunaan fotonya dan berjanji melanjutkan warisan kebaikan Dolly Parton.

Stasiun televisi CNN menyampaikan permintaan maaf resmi kepada keluarga mendiang Dolly Parton setelah keliru menayangkan foto seorang impersonator dalam liputan kematian penyanyi legendaris tersebut. Kesalahan ini terjadi pada Selasa malam (25/08/2026) dalam program Laura Coates Live, ketika gambar Kelly Vohnn, seorang penghibur asal Las Vegas, ditampilkan seolah-olah itu adalah foto Dolly Parton yang baru saja meninggal dunia.
Kekeliruan ini sontak menjadi sorotan publik, mengingat Dolly Parton adalah ikon musik country yang wajahnya dikenal luas di seluruh dunia. Bagi industri media, insiden ini menjadi pengingat betapa pentingnya verifikasi visual sebelum menayangkan materi, terutama dalam situasi peliputan yang serba cepat dan emosional. CNN sendiri telah mengakui kesalahan tersebut melalui pernyataan resmi: "Kami menyesali kesalahan ini dan meminta maaf kepada keluarga Parton."
Kelly Vohnn, yang telah lama berprofesi sebagai impersonator Dolly Parton, mengaku lega setelah CNN menghubungi keluarga Parton dan meminta maaf. Dalam wawancaranya dengan Entertainment Weekly, ia menuturkan, "Saya lega CNN telah menjangkau keluarga Dolly dan meminta maaf atas kekeliruan mereka. Kami semua sangat mencintai Dolly dan tidak ingin kesalahan seperti ini terus berlanjut." Vohnn juga menegaskan bahwa ia tidak pernah berniat menipu publik dengan menyamar sebagai Dolly yang asli, dan selalu mengedepankan transparansi sebagai seorang impersonator.
Dalam sebuah video yang diunggah ke Instagram, Vohnn menyampaikan kegelisahannya: "Saya adalah impersonator Dolly Parton. Beberapa hari terakhir ini sangat menghancurkan bagi saya dan jutaan orang di seluruh dunia. Saya menyadari bahwa media kembali menggunakan foto saya dan mengklaim bahwa saya adalah Dolly Parton. Saya ingin menegaskan bahwa saya tidak pernah memberikan izin kepada siapa pun untuk menggunakan gambar saya dan menyebut saya sebagai Dolly Parton. Saya tidak akan pernah menipu orang dengan cara seperti itu." Ia juga mengungkapkan bahwa ini bukan pertama kalinya fotonya dipakai dalam pemberitaan tentang Dolly; sebelumnya, gambar yang sama sempat digunakan dalam laporan tentang pembatalan residensi Dolly di Las Vegas pada bulan Mei lalu.
Permintaan maaf CNN ini memunculkan pertanyaan lebih luas tentang praktik jurnalistik di era digital, di mana kecepatan penyebaran informasi sering kali mengorbankan akurasi. Di Indonesia, fenomena serupa juga kerap terjadi, terutama dengan maraknya berita daring yang mengutamakan kecepatan tanpa verifikasi mendalam. Kasus ini bisa menjadi pelajaran berharga bagi media Tanah Air untuk lebih berhati-hati dalam memilih materi visual, khususnya ketika memberitakan tokoh publik yang memiliki banyak penggemar dan keluarga yang sedang berduka.
Dolly Parton, yang dikenal luas lewat lagu legendaris seperti "Jolene" dan "I Will Always Love You", meninggalkan warisan yang luar biasa. Selain karya musiknya, ia juga dikenal karena kedermawanannya, termasuk melalui Imagination Library yang telah mendonasikan ratusan juta buku untuk anak-anak, serta mendanai riset yang menghasilkan vaksin penyelamat nyawa. Keluarganya, dalam pernyataan resmi, mengenang Dolly sebagai sosok yang membawa kegembiraan, tawa, harapan, dan integritas dalam setiap hal yang ia sentuh.
Ke depan, insiden ini diharapkan menjadi momentum bagi industri media global untuk memperketat standar verifikasi visual. Akankah CNN dan media lainnya belajar dari kesalahan ini, atau justru akan terulang kembali di masa mendatang? Publik, terutama para penggemar Dolly Parton, tentu berharap agar kesalahan serupa tidak lagi mencederai penghormatan terhadap mendiang dan keluarganya.



