Jadwal Padat Timnas Bikin Mourinho Khawatir: Tiga Minggu Tanpa Pemain Inti
Baca dalam 60 detik
- Pelatih Real Madrid, Jose Mourinho, menyoroti jeda internasional tiga minggu yang akan membuat skuadnya kehilangan banyak pemain inti.
- Perubahan kalender FIFA ini memangkas jeda Oktober dan menggabungkannya dengan September, memaksa klub beradaptasi dengan risiko cedera.
- Situasi ini menjadi ujian bagi kedalaman skuad Madrid dan memicu diskusi tentang keseimbangan antara kepentingan klub dan negara.

Jose Mourinho, pelatih Real Madrid, kembali melontarkan kritik tajam terhadap kalender sepak bola internasional. Ia menilai jeda internasional selama tiga pekan pada September mendatang akan menjadi 'situasi sulit' bagi klub karena banyak pemain inti yang harus membela negaranya. Kekhawatiran ini disampaikan jelang laga La Liga melawan Malaga di Santiago Bernabeu, Minggu (16:00 BST).
Mourinho tidak mempermasalahkan pemain yang benar-benar tampil di tim nasional. Yang membuatnya gelisah justru mereka yang hanya ikut bergabung tanpa mendapat menit bermain. "Pemain yang bermain tidak terlalu saya khawatirkan. Yang menjadi masalah adalah mereka yang tidak benar-benar terlibat. Itu yang membuat saya khawatir," ujarnya dalam konferensi pers.
Perubahan kalender FIFA memang menjadi biang keladinya. Musim 2026-27, jeda internasional September dan Oktober yang biasanya terpisah kini digabung menjadi satu periode panjang di akhir September hingga awal Oktober. Alhasil, klub harus kehilangan pemainnya selama tiga pekan, lebih lama dari biasanya. Sebagai gantinya, negara akan memainkan empat laga internasional, bukan dua seperti sebelumnya.
Keputusan ini diambil FIFA dengan mempertimbangkan padatnya jadwal Piala Dunia 2026 yang finalnya digelar 19 Juli, menjadi final Piala Dunia musim panas terlambat sejak 1966. Faktor kesejahteraan pemain dan pengurangan perjalanan juga menjadi pertimbangan. Namun, bagi klub seperti Real Madrid yang memiliki banyak pemain bintang, kebijakan ini jelas merugikan.
Mourinho, yang akrab dengan manajemen pemain top, mengaku sudah berbicara panjang lebar dengan para pemainnya yang tampil di Piala Dunia, seperti Jude Bellingham, Marc Cucurella, dan Kylian Mbappe. Mereka semua menjalani musim panas yang melelahkan. "Saya sangat menghormati keputusan pemain dan tidak ingin mendramatisasi, tetapi sering kali mereka cedera saat jeda internasional atau setelah kembali," keluhnya.
Ia pun menegaskan bahwa klub sedang berupaya mengelola beban latihan para pemain untuk mengurangi risiko cedera. Namun, diakui Mourinho, situasi ini di luar kendali klub. "Ini memang seperti itu dan kita tidak bisa berbuat banyak," katanya pasrah.
Di tengah kekhawatiran itu, Mourinho menyempatkan diri memuji Bellingham. Ia menyebut gelandang Inggris tersebut sebagai pemain unik yang sangat penting bagi tim, tidak hanya dalam hal serangan tetapi juga mentalitas dan kemampuan bertahan. "Kami suka membicarakan Kylian, Vini, dan Jude, tetapi saya senang dengan semua pemain. Kami punya pemain hebat di sini," pujinya.
Mourinho juga angkat bicara soal perdebatan Ballon d'Or. Menurutnya, kemenangan di Liga Champions atau Piala Dunia tidak otomatis menjadikan seseorang favorit. "Ballon d'Or harus diberikan kepada pemain yang ketika pensiun, kita akan merindukannya selamanya. Saya merindukan Maradona, Ronaldinho, Ronaldo, Cristiano, Messi, Zizou, Lothar Matthaus. Saya merindukan mereka," tuturnya.
Bagi Indonesia, wacana ini relevan mengingat Timnas Garuda juga akan menghadapi jeda internasional yang panjang. Pelatih Shin Tae-yong tentu harus pintar-pintar mengatur kebugaran pemain yang bermain di liga luar negeri. Keputusan FIFA ini bisa menjadi pelajaran bagi PSSI untuk lebih memperhatikan manajemen beban pemain, terutama jika Indonesia semakin sering tampil di turnamen internasional.
Ke depan, konflik antara kepentingan klub dan negara diprediksi akan semakin memanas. Apakah FIFA akan mempertimbangkan kembali kebijakan ini setelah melihat dampaknya terhadap klub-klub Eropa? Atau justru klub yang harus beradaptasi dengan realitas baru kalender sepak bola global? Yang jelas, Mourinho dan para pelatih top lainnya akan terus menyuarakan kekhawatiran mereka demi menjaga performa tim.



