Raja Norwegia Harald V Wafat di Usia 89, Putra Mahkota Haakon Naik Takhta
Baca dalam 60 detik
- Raja Harald V, penguasa tertua di Eropa, meninggal dunia setelah dirawat karena infeksi darah.
- Putra Mahkota Haakon, yang telah menjadi wali raja, kini resmi naik takhta sebagai Raja Norwegia.
- Kepergian Harald menandai berakhirnya era 35 tahun kepemimpinan yang membawa modernisasi pada monarki Norwegia.

Raja Norwegia, Harald V, mengembuskan napas terakhir pada Jumat pagi waktu setempat di Rumah Sakit Universitas Oslo. Sang penguasa berusia 89 tahun itu telah berjuang melawan infeksi bakteri dalam darah sejak dirawat pada 17 Agustus lalu. Kabar duka ini diumumkan langsung oleh Istana Kerajaan Oslo, yang juga mengonfirmasi bahwa bendera kerajaan telah dikibarkan setengah tiang sebagai tanda berkabung.
Kepergian Harald V tidak hanya meninggalkan duka bagi keluarga kerajaan, tetapi juga mengakhiri satu babak penting dalam sejarah Norwegia. Ia adalah raja pertama yang lahir di negaranya sejak abad ke-14 dan telah memimpin selama 35 tahun, sejak naik takhta pada 1991 menggantikan ayahnya, Raja Olav. Selama masa pemerintahannya, Harald dikenal sebagai sosok yang populer dan reformis, membawa angin modernisasi pada institusi monarki yang sebelumnya kaku.
Kabar menurunnya kondisi kesehatan Raja Harald sebenarnya sudah menjadi perhatian publik sejak beberapa hari terakhir. Pada Kamis, pihak istana bahkan mengeluarkan pernyataan bahwa kondisi sang raja "sangat serius". Keluarga kerajaan pun membatalkan seluruh agenda resmi untuk berkumpul di sisi tempat tidur raja. Putra Mahkota Haakon, yang selama ini bertindak sebagai wali raja, kini secara resmi mengambil alih takhta. Rencananya, ia akan menggelar sidang istimewa dengan pemerintah pada hari yang sama untuk membahas proses transisi kepemimpinan.
Kiprah Harald V tidak hanya diukur dari panjangnya masa pemerintahan, tetapi juga dari berbagai langkah berani yang diambilnya. Salah satu keputusannya yang paling menonjol adalah menikahi Sonja Haraldsen, seorang rakyat biasa yang ditemuinya saat bekerja sebagai asisten di sebuah department store. Pernikahan mereka pada 1968 sempat menuai kontroversi karena melanggar tradisi kerajaan, namun justru menjadi simbol keterbukaan dan modernisasi yang kemudian melekat pada citra Harald.
Di luar urusan kenegaraan, Harald dikenal sebagai sosok yang dekat dengan rakyat. Ia memiliki kecintaan mendalam pada olahraga layar, bahkan sempat mewakili Norwegia di Olimpiade 1968 di Meksiko. Pada usia 79 tahun, ia masih mampu meraih posisi kedua di kejuaraan dunia pelayaran di Kanada. Kegemarannya ini kerap dianggap sebagai cara untuk tetap terhubung dengan masyarakat biasa, jauh dari protokol kerajaan yang kaku.
Bagi Indonesia, kepergian Raja Harald V mungkin terasa jauh, namun ada pelajaran yang bisa dipetik dari kepemimpinannya. Harald berhasil membuktikan bahwa monarki bisa tetap relevan di tengah arus modernisasi dan tuntutan demokrasi. Ia tidak segan merangkul perubahan, termasuk melepas peran formalnya sebagai kepala Gereja Norwegia pada 2012, sebuah langkah yang dianggap berani dan progresif. Sikap ini mengingatkan bahwa institusi tradisional pun harus mampu beradaptasi dengan zaman agar tetap dihormati.
Kini, Norwegia memasuki babak baru di bawah kepemimpinan Raja Haakon. Pertanyaan besar yang menggantung adalah apakah ia mampu meneruskan jejak ayahnya dalam menjaga popularitas monarki di mata rakyat, terutama di tengah tantangan global yang semakin kompleks. Dengan dukungan rakyat yang selama ini kuat terhadap keluarga kerajaan, Haakon dihadapkan pada tugas berat untuk mempertahankan warisan tersebut sambil membawa institusi kerajaan menuju masa depan yang lebih inklusif.



