Mette-Marit, Ratu Norwegia yang Baru: Dari Skandal Epstein hingga Transplantasi Paru
Baca dalam 60 detik
- Mette-Marit resmi menjadi ratu Norwegia setelah suaminya naik takhta, di tengah kontroversi hubungannya dengan Jeffrey Epstein dan vonis penjara bagi putra sulungnya.
- Dukungan publik terhadap monarki Norwegia merosot tajam, dari 70 persen menjadi 60 persen, menyusul skandal yang melibatkan ratu baru.
- Dengan kondisi kesehatan yang rapuh pasca-transplantasi paru, tantangan terbesar Mette-Marit adalah memulihkan citra institusi kerajaan di mata rakyat.

Mette-Marit, yang dulu dikenal sebagai ibu tunggal dan rakyat biasa, kini resmi menyandang gelar Ratu Norwegia setelah suaminya, Haakon, naik takhta pada Jumat (28/8). Namun, perjalanan menuju singgasana itu diwarnai serangkaian badai yang menguji ketahanan pribadi dan institusi kerajaan.
Pertemuan pertama Mette-Marit dan Haakon terjadi di festival musik Quart di Kristiansand pada 1999. Saat itu, Mette-Marit berusia 25 tahun, seorang ibu tunggal yang belum menikah. Haakon, dalam otobiografinya, menggambarkan momen itu dengan puitis: "Aku hanya menatapnya. Dia seperti cahaya." Namun, hubungan mereka yang semula dirahasiakan segera menjadi sorotan media yang haus akan kisah dongeng sekaligus skandal.
Mette-Marit sempat menepis narasi Cinderella yang dilekatkan padanya. "Apa yang terjadi antara Haakon dan saya adalah hal yang biasa terjadi pada dua orang normal," ujarnya kepada wartawan. Namun, media lebih tertarik menggali masa lalunya yang gemerlap di panggung musik house, mempertanyakan pantaskah seseorang dengan latar belakang seperti itu memasuki keluarga kerajaan. Tekanan ini, seperti diakuinya kemudian, meninggalkan luka mendalam. "Tidak ada yang romantis tentang dibersihkan dari dosa di depan publik. Itu mengerikan," katanya.
Sejarawan kerajaan Norwegia, Trond Noren Isaksen, menilai bahwa seiring waktu Mette-Marit semakin nyaman dengan perannya. "Kekuatannya terletak pada kehangatan pribadinya yang luar biasa dan kemampuannya terhubung dengan orang-orang," ujarnya. Mette-Marit kemudian fokus pada isu kesehatan global, pemberdayaan perempuan, dan kesehatan reproduksi, serta menjadi duta niat baik UNAIDS. Namun, di balik layar, pertemuannya dengan tokoh-tokoh sosialita internasional membawanya pada perkenalan dengan Jeffrey Epstein, terpidana kasus seks.
Dua dekade setelah pernikahannya, skandal Epstein kembali menghantuinya. Pada Januari 2026, Departemen Kehakiman AS merilis email pribadi antara Mette-Marit dan Epstein, yang korespondensinya berlanjut bahkan setelah vonis. Dalam salah satu email, ia menulis bahwa ia setuju "tampaknya tidak terlalu bagus" tentang kasus Epstein, disertai emoji tersenyum. Ia kemudian meminta maaf kepada keluarga kerajaan, tetapi dukungan publik terhadap monarki merosot dari 70 persen menjadi 60 persen. Sebuah jajak pendapat TV2 bahkan menunjukkan 47,6 persen responden menilai ia seharusnya tidak menjadi ratu.
Di tengah badai itu, putra sulungnya, Marius Borg Hoiby (29), diadili atas tuduhan pemerkosaan dan kekerasan dalam rumah tangga. Pada Juni, ia dinyatakan bersalah atas dua dari empat tuduhan pemerkosaan dan satu kekerasan, dijatuhi hukuman empat tahun penjara. Mette-Marit memilih bungkam, menyerahkan suaminya untuk berbicara kepada media. Tak berhenti di situ, ia juga berjuang melawan fibrosis paru kronis yang membuatnya mudah lelah. Dua hari setelah vonis Marius, istana mengumumkan Mette-Marit menjalani transplantasi paru-paru yang sukses. Setelah beberapa minggu pemulihan, ia kembali ke rumah dan merayakan ulang tahun pernikahan peraknya dengan Haakon pada Agustus.
Bagi Indonesia, kisah Mette-Marit menjadi pengingat bahwa institusi kerajaan pun tak kebal dari krisis kepercayaan. Di era transparansi digital, jejak digital dan asosiasi pribadi dapat menjadi bom waktu yang menguji legitimasi publik. Pertanyaannya, mampukah Mette-Marit memulihkan citranya dan institusi kerajaan Norwegia di tengah tuntutan akuntabilitas yang semakin tinggi?



