Boneka Jepang Licca-chan Kembali ke AS Setelah 40 Tahun, Incar Pasar Dewasa
Baca dalam 60 detik
- Produsen mainan Tomy meluncurkan kembali boneka Licca-chan di AS pada Maret lalu, menyasar konsumen dewasa atau 'kidult'.
- Strategi ini memanfaatkan tren budaya pop Jepang yang sedang naik daun, dengan 17 varian termasuk kolaborasi Hatsune Miku.
- Ekspansi ke Kanada dan penambahan gerai hingga 1.000 toko ditargetkan sebelum akhir tahun, sejalan dengan ambisi Tomy meningkatkan penjualan luar negeri.

Setelah vakum selama empat dekade, boneka ikonik asal Jepang, Licca-chan, kembali merambah pasar Amerika Serikat. Langkah ini bukan sekadar nostalgia, melainkan strategi bisnis yang menyasar segmen baru: orang dewasa yang gemar mengoleksi barang-barang berbau Jepang.
Keputusan Tomy Co., perusahaan mainan di balik Licca-chan, untuk kembali ke AS pada Maret lalu merupakan upaya kedua setelah percobaan pertama di era 1980-an berakhir dengan kegagalan. Saat itu, boneka yang dipasarkan dengan nama "Lisa" untuk anak-anak tidak mampu bersaing dan akhirnya ditarik dari rak-rak toko. Kini, dengan wajah baru dan sasaran yang berbeda, Tomy mencoba peruntungan lagi.
Hingga Agustus, Licca-chan telah tersedia di sekitar 300 gerai, terutama toko serba ada dan pengecer barang-barang anime. Rencananya, distribusi akan diperluas ke Kanada pada musim gugur dan menargetkan total 1.000 toko pada akhir tahun. Harga yang ditawarkan berkisar antara 20 hingga 30 dolar AS, sebanding dengan harga di Jepang.
Yang menarik, target pasar kali ini bukan anak-anak, melainkan "kidult"โistilah untuk orang dewasa yang masih memiliki jiwa anak-anak. Tomy menyadari bahwa fenomena budaya pop Jepang, mulai dari anime hingga karakter virtual, telah menciptakan pangsa pasar baru yang potensial. Oleh karena itu, jajaran produk yang diluncurkan mencakup 17 variasi, termasuk Licca-chan yang mengenakan kimono atau seragam sekolah, serta kolaborasi dengan kreator Hatsune Miku, penyanyi virtual populer.
Menurut Yuka Ohashi, kepala strategi luar negeri untuk unit bisnis Licca-chan, keunggulan produk ini terletak pada detail yang halus dan nuansa Jepang yang kental. "Di AS, orang-orang berkomentar bahwa detailnya luar biasa rumit," ujarnya. Hal ini menjadi nilai jual utama yang membedakan Licca-chan dari boneka-boneka lain seperti Barbie.
Keputusan Tomy untuk kembali ke AS juga dipengaruhi oleh budaya bermain boneka yang sudah mapan di negara tersebut, seperti Barbie. Namun, kali ini mereka mencoba menawarkan sesuatu yang berbeda: sentuhan Jepang yang otentik. Bagi Indonesia, fenomena ini menarik untuk dicermati. Pasar mainan dan barang koleksi di Indonesia juga memiliki basis penggemar budaya Jepang yang besar, terbukti dari maraknya komunitas penggemar anime dan J-pop. Apakah strategi serupa akan efektif di sini? Belum tentu, mengingat daya beli dan preferensi konsumen yang berbeda. Namun, tren "kidult" ini bisa menjadi peluang bagi produsen lokal untuk menggarap segmen yang selama ini terabaikan.
Ke depan, pertanyaannya adalah apakah Tomy mampu mempertahankan momentum ini. Persaingan di pasar mainan AS sangat ketat, dan selera konsumen bisa berubah cepat. Namun, dengan strategi yang tepat dan dukungan fenomena budaya pop yang terus berkembang, bukan tidak mungkin Licca-chan akan menjadi langganan tetap di rak-rak toko Amerika. Yang jelas, langkah Tomy ini menunjukkan bahwa nostalgia dan budaya pop bisa menjadi senjata ampuh dalam bisnis global.



