Latihan Pestapora Malaysia 2026: 12 Jam Musik Lintas Batas, Kolaborasi Indonesia-Malaysia Jadi Primadona
Baca dalam 60 detik
- Festival musik dua negara di Bukit Jalil menampilkan 19 musisi dengan tiga kolaborasi eksklusif antar-generasi.
- Debut Last Child di Malaysia menjadi momen paling dinanti, menegaskan kuatnya pengaruh musik Indonesia di negeri jiran.
- Penyelenggara berkomitmen memperluas ekosistem musik regional, membuka peluang lebih besar bagi artis kedua negara.

Stadion Hoki Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur, menjadi saksi perhelatan musik dua negara yang berlangsung selama 12 jam nonstop pada 15 Agustus 2026. Latihan Pestapora Malaysia edisi kedua ini sukses mempertemukan puluhan ribu penggemar dari Malaysia dan Indonesia dalam satu panggung, menegaskan bahwa musik tetap menjadi jembatan budaya yang paling efektif di kawasan.
Digagas oleh Hitman Solutions bersama Boss Creator, festival ini hadir lebih besar dari tahun sebelumnya. Sebanyak 19 musisi dari berbagai genre—pop, rock, indie, ska, R&B, hingga balada nostalgia—mengisi panggung secara bergiliran. Kehadiran nama-nama seperti Tulus, Tipe-X, Mahalini, Juicy Luicy, dan Bernadya dari Indonesia, berpadu dengan Ruffedge, Lah Ahmad, serta Romantic Echoes dari Malaysia, menciptakan ekosistem musik yang cair dan saling mengisi.
Salah satu momen yang paling dinanti adalah debut panggung Malaysia dari grup pop-punk alternatif asal Indonesia, Last Child. Lagu-lagu seperti "Duka", "Seluruh Nafas Ini", dan "Sekuat Hatimu" dinyanyikan bersama oleh penonton, membuktikan bahwa daya tarik musik Indonesia tidak pernah pudar di mata pendengar Malaysia. Fenomena ini sekaligus menggarisbawahi hubungan simbiosis antara industri musik kedua negara yang saling menguatkan.
Yang membuat edisi ini berbeda adalah tiga kolaborasi spesial yang dirancang khusus untuk festival. Rhoma Irama Soneta beradu dengan Maliq & D’Essentials, Nadhif Basalamah dipasangkan dengan Aziz Harun dan Aisha Retno, sementara Masdo berkolaborasi dengan Gerhana Skacinta. Perpaduan lintas generasi dan genre ini tidak hanya menjadi tontonan, tetapi juga simbol bahwa musik Malaysia dan Indonesia dapat berpadu dalam interpretasi baru yang segar.
Rohit Rampal, CEO Hitman Group, menilai edisi kedua ini sebagai langkah strategis membangun festival berskala regional yang tumbuh bersama para seniman dan penggemarnya. Menurutnya, dukungan yang diberikan publik membuktikan bahwa musik mampu menyatukan pengalaman bersama lintas negara. Ia juga menekankan bahwa kemitraan dengan Boss Creator membuka ruang eksplorasi ide dan peluang baru bagi musisi kedua negara.
Senada dengan itu, Kiki Ucup, Direktur Festival Pestapora sekaligus Co-Founder Boss Creator, mengungkapkan kebanggaannya melihat sambutan hangat terhadap artis Indonesia di Malaysia. Baginya, Latihan Pestapora bukan sekadar ajang pertunjukan, melainkan jembatan yang menghubungkan ekosistem musik Malaysia dan Indonesia. Kolaborasi, kata dia, adalah ruang lahirnya ide-ide segar yang akan terus dikembangkan di masa mendatang.
Di luar panggung utama, pengunjung dimanjakan dengan lebih dari 20 gerai makanan dan minuman, area foto interaktif, serta pengalaman "Music is Universal" di Universal Music Corner. Festival dirancang bukan hanya sebagai konser, tetapi ruang berkumpul yang memungkinkan pengunjung menikmati musik sambil berinteraksi dan berbagi momen bersama teman sepanjang hari.
Kesuksesan Latihan Pestapora Malaysia 2026 membuka pertanyaan besar: akankah format kolaborasi seperti ini menjadi model tetap festival musik di Asia Tenggara? Dengan animo yang terus tumbuh, bukan tidak mungkin gelaran berikutnya akan menjangkau lebih banyak kota dan melibatkan lebih banyak musisi, menjadikan kawasan ini sebagai episentrum kreativitas musik lintas budaya.



