Katie Boulter Menolak Tiru Kesalahan Cincin Andy Murray Jelang US Open
Baca dalam 60 detik
- Petenis Inggris Katie Boulter mengaku belajar dari insiden cincin kawin Andy Murray yang sempat hilang, sehingga ia memilih tidak mengenakan cincin saat bertanding.
- Pernikahan Boulter dengan Alex de Minaur digelar dua tahap, seremonial kecil di Inggris dan pesta besar di Italia, sebelum ia langsung fokus mempersiapkan diri untuk US Open.
- Rekor empat petenis Inggris lolos kualifikasi US Open menjadi sorotan, menandai pencapaian terbaik sejak 1988 dan menambah harapan di turnamen Grand Slam.

Petenis Inggris Katie Boulter memastikan dirinya tidak akan mengulangi kelalaian Andy Murray yang sempat kehilangan cincin kawin saat bertanding. Menjelang US Open yang dimulai akhir pekan ini, Boulter justru memilih melepas cincinnya selama berlaga di lapangan, sebuah keputusan yang diambilnya setelah belajar dari pengalaman pahit sang legenda tenis Inggris.
Murray, yang menikahi Kim pada 2015, pernah kehilangan cincin kawinnya setelah mengikatkannya pada tali sepatu saat latihan di California pada 2021. Sepatu itu kemudian tertinggal di bawah mobil dan baru ditemukan setelah ia mengimbau publik untuk mengembalikannya. Insiden itu menjadi pelajaran berharga bagi banyak petenis, termasuk Boulter yang kini berstatus pengantin baru.
Boulter, yang menikahi petenis Australia peringkat tujuh dunia Alex de Minaur pada musim panas ini, mengaku tidak akan meniru kebiasaan Murray. "Saya belajar dari Andy. Saya tidak akan melakukan itu. Saya tidak memakainya, tidak selama pertandingan," ujarnya kepada BBC Sport. Keputusan ini diambilnya demi kenyamanan dan fokus saat bertanding, meski ia tetap menyimpan cincinnya di tempat aman.
Pernikahan Boulter dan De Minaur sendiri digelar dalam dua tahap. Upacara kecil di Inggris hanya dihadiri delapan orang, khusus untuk kakek Boulter, sementara pesta besar di Tuscany, Italia, berlangsung meriah dengan kehadiran kerabat dan sahabat terdekat. "Sangat kontras dengan pernikahan di Italia yang lebih seperti pesta dan sangat menyenangkan," kata Boulter. Ia juga mengaku menangis selama tiga jam saat mendengar pidato pernikahan dari De Minaur yang ternyata mampu berbicara tanpa persiapan.
Setelah menikah, Boulter langsung kembali ke lapangan untuk beradaptasi dengan kondisi di Amerika Serikat yang dinilainya sangat berbeda dengan Inggris. "Saya memilih langsung terjun ke kondisi sebenarnya, mencoba melihat kemampuan kami," ujarnya. Meski sempat tersingkir di babak awal turnamen Washington, Toronto, dan Cincinnati, Boulter tetap optimis menghadapi US Open. Ia akan memulai perjuangannya melawan wildcard Amerika Serikat, Carol Young Suh Lee, yang berada di peringkat 143 dunia.
Di sisi lain, empat petenis Inggris berhasil lolos kualifikasi US Open untuk pertama kalinya sejak 1988. Fran Jones, Harriet Dart, dan Harry Wendelken memenangkan pertandingan kualifikasi terakhir mereka, sementara Toby Samuel maju setelah lawannya, Cristian Garin, mundur karena hujan. Jacob Fearnley juga mendapat tempat utama sebagai lucky loser. Mereka akan bergabung dengan Arthur Fery, Cameron Norrie, Jan Choinski, dan Boulter di babak utama.
Bagi penggemar tenis Indonesia, pencapaian ini menjadi pengingat bahwa konsistensi dan adaptasi adalah kunci sukses di turnamen besar. Meski tidak ada wakil Indonesia di US Open, perjuangan para petenis Inggris ini bisa menjadi inspirasi bagi petenis muda Tanah Air yang bermimpi menembus Grand Slam. Dengan persaingan yang semakin ketat, pertanyaan besarnya adalah: mampukah Boulter dan rekan-rekannya memanfaatkan momentum ini untuk melangkah jauh di Flushing Meadows?



