Banjir Bandang Nepal-Tiongkok: 633 Tewas, 3.000 Hilang, Upaya Evakuasi Terus Berlanjut
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang di perbatasan Nepal-Tiongkok menewaskan sedikitnya 633 orang dan menyebabkan hampir 3.000 orang hilang, dengan upaya pencarian masih berlangsung.
- Tim penyelamat menghadapi kesulitan ekstrem, termasuk lumpur tebal dan risiko banjir susulan dari danau glasial yang baru terbentuk.
- Bencana ini menyoroti kerentanan kawasan Himalaya terhadap perubahan iklim, dengan implikasi bagi negara-negara Asia termasuk Indonesia.

NUWAKOT, Nepal โ Hari keempat pencarian korban banjir bandang dahsyat yang melanda perbatasan Nepal dan Tiongkok masih berlangsung, dengan jumlah korban tewas terus bertambah menjadi 633 orang dan hampir 3.000 lainnya dinyatakan hilang. Di tengah duka dan kepanikan, tim penyelamat dari kedua negara berjuang menjangkau wilayah terpencil yang terkubur lumpur dan material, sementara keluarga korban menanti kabar dengan cemas.
Bencana yang dipicu oleh runtuhnya gletser di Pegunungan Himalaya pada Rabu lalu ini telah menghancurkan sejumlah desa di Distrik Nuwakot, Nepal, dan merusak parah pos perbatasan Gyirong di sisi Tiongkok. Data terbaru dari badan penanggulangan bencana Nepal mencatat 626 kematian dan 2.426 orang hilang di dalam negeri, sementara otoritas Tiongkok melaporkan tujuh tewas dan lebih dari 550 hilang. Lebih dari 3.700 orang telah berhasil dievakuasi di Nepal, namun ratusan lainnya, termasuk warga asing yang bekerja, trekking, atau berziarah, masih belum ditemukan.
Di Nuwakot, operasi helikopter kembali berjalan setelah cuaca buruk sempat menghambat. Helikopter-helikopter terlihat membawa bantuan berupa pakaian, mi instan, dan beras, sementara yang lain mengangkut para penyintas. Sejumlah bayi dan lansia terlihat dievakuasi, beberapa dalam kondisi lemah dan segera mendapat perawatan medis di tenda darurat. Di Desa Trishuli, warga yang kembali ke rumah mereka yang hancur berusaha menyelamatkan barang-barang yang masih bisa digunakan, seperti yang dilakukan Shoba Shretha yang menemukan anjingnya, Sweetie, yang terpaksa ditinggalkan saat banjir datang.
Di Kathmandu, rumah sakit utama menjadi pusat pencarian informasi. Keluarga berkumpul sejak pagi, membawa foto-foto orang yang mereka cintai, berharap nama mereka muncul dalam daftar korban selamat. Dil Maya Lama, yang datang dari Ramechhap, mencari kabar tentang saudaranya yang bekerja sebagai sopir di perusahaan pembangkit listrik tenaga air di Rasuwa. "Saya datang ke sini dengan harapan bisa menemukannya," ujarnya dengan mata berkaca-kaca. "Tidak ada informasi tentang dia." Hingga Sabtu, sekitar 1.600 orang telah dilaporkan hilang di rumah sakit tersebut, menurut Gajendra Rawat, petugas keamanan di meja bantuan.
Di lokasi Proyek Pembangkit Listrik Tenaga Air Upper Trishuli-1 di Rasuwa, tim penyelamat masih berjuang menjangkau lebih dari 100 orang yang diduga terjebak di dalam terowongan yang dipenuhi lumpur setebal 1,2 hingga 1,5 meter. Juru bicara Angkatan Darat Nepal, Brigadir Jenderal Raja Ram Basnet, mengatakan operasi penyelamatan sangat sulit karena keterbatasan lokasi pendaratan helikopter dan risiko banjir susulan. "Kami menggunakan keranjang dan tali untuk menjangkau mereka, tetapi lumpurnya sangat tebal," katanya. Tim penyelamat bahkan sempat dievakuasi sementara ketika ada peringatan banjir baru dari danau glasial yang terbentuk setelah runtuhnya gletser.
- Korban tewas gabungan Nepal-Tiongkok: 633 orang; hampir 3.000 hilang.
- Lebih dari 3.700 orang telah diselamatkan di Nepal.
- 100+ orang terjebak di terowongan proyek PLTA Upper Trishuli-1.
- Danau glasial baru dilaporkan menyusut, tetapi risiko banjir susulan masih ada.
Bencana ini menjadi pengingat akan dampak perubahan iklim di kawasan Himalaya, yang juga relevan bagi Indonesia. Sebagai negara kepulauan dengan banyak gunung berapi dan daerah rawan bencana, Indonesia menghadapi risiko serupa terkait cuaca ekstrem dan pencairan gletser di Papua. Pengalaman Nepal dalam penanganan darurat dan evakuasi dapat menjadi pelajaran berharga bagi Indonesia dalam memperkuat sistem peringatan dini dan kesiapsiagaan menghadapi bencana hidrometeorologi.
Sementara itu, di pos perbatasan Gyirong yang hancur, tim penyelamat Tiongkok berusaha menjangkau area tersebut dengan berjalan kaki, rakit, dan bahkan dijatuhkan dari drone. Rekaman CCTV menunjukkan para penyelamat meneriakkan "Ada orang?" di antara puing-puing. Belum diketahui berapa banyak orang yang berada di gedung pos pemeriksaan saat banjir melanda. Bantuan terus berdatangan dari Kathmandu menuju daerah terdampak, namun proses evakuasi dan pencarian diperkirakan masih akan memakan waktu berhari-hari.
Ke depan, pertanyaan besar yang mengemuka adalah bagaimana kedua negara akan memperbaiki infrastruktur yang rusak dan memulihkan kehidupan ribuan warga yang kehilangan segalanya. Akankah bencana ini mendorong kerja sama yang lebih erat antara Nepal dan Tiongkok dalam manajemen bencana lintas batas? Atau justru memicu ketegangan terkait pembangunan proyek-proyek besar di kawasan rawan bencana? Jawabannya akan menentukan nasib kawasan Himalaya yang rapuh ini.



