Banjir Bandang di Perbatasan Nepal-Tibet: 290 Jemaah India Hilang, Keluarga Menanti Kepastian
Baca dalam 60 detik
- Banjir bandang di perbatasan Nepal-Tibet menyebabkan sedikitnya 290 jemaah India dilaporkan hilang, termasuk dua perempuan asal Kolkata.
- Keluarga korban belum mendapat kejelasan apakah mereka sempat menyeberang ke wilayah China atau masih berada di Nepal saat bencana terjadi.
- Pemerintah Nepal telah mendata 537 orang hilang, namun daftar itu belum memberikan kepastian bagi keluarga yang menanti kabar.

Jejak digital menjadi saksi bisu terakhir perjalanan Subhrasree Chakraborty. Rabu pagi, suaminya Sudipto Bhattacharya menerima pesan singkat berisi foto stempel keberangkatan dari imigrasi Nepal. Enam menit kemudian, pesan terakhir berbunyi: "Kami menunggu untuk masuk ke China." Setelah itu, tidak ada lagi kabar. Perempuan 43 tahun itu kini tercatat sebagai salah satu dari sedikitnya 290 jemaah India yang dilaporkan hilang setelah banjir bandang menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet, Selasa (26/8).
Subhrasree, seorang ahli teknologi medis di rumah sakit kota, bergabung dengan rombongan sekitar 30 orang untuk menunaikan ibadah ziarah ke Gunung Kailash—tempat suci bagi umat Hindu yang diyakini sebagai kediaman Dewa Siwa. Perjalanan yang telah ia impikan selama bertahun-tahun itu baru pulih tahun lalu setelah sempat terhenti akibat pandemi dan ketegangan diplomatik India-China. Ribuan warga India setiap tahunnya menempuh rute ini, menjadikan kawasan perbatasan itu sebagai salah satu jalur ziarah tersibuk di kawasan Himalaya.
Bagi Bhattacharya, seorang pegawai pemerintah, ketidakpastian adalah siksaan terbesar. "Setelah pukul 08.03, apa yang terjadi? Kami tidak tahu apa-apa," ujarnya. Ia sempat menunggu kabar karena tahu sinyal komunikasi di sisi Tibet kerap bermasalah. Namun saat melihat laporan banjir di media pada pukul 15.00, ia mulai menghubungi anggota rombongan, operator tur, hingga dua pemandu—semuanya tidak ada jawaban. "Apakah mereka sudah diselamatkan? Apakah kelompok ini termasuk yang dievakuasi di China?" tanyanya, seraya meminta daftar resmi dari pemerintah China mengenai korban hilang, meninggal, dan selamat.
Nasib serupa menimpa Rina Banerjee, 54 tahun, seorang tutor privat asal Kolkata yang bepergian sendirian. Keponakannya, Dwaipayan Mukherjee, mengaku keluarga sempat berbincang via video call saat Rina di Kathmandu. "Dia bahagia. Ini perjalanan pertamanya setelah sekian lama," katanya. Rina, yang terbiasa mendaki gunung, sempat bercerita tentang longsor yang menghambat perjalanan mereka selama empat jam sehari sebelumnya. Pagi harinya, operator tur mengirim foto rombongan yang memperlihatkan Rina di luar pusat imigrasi Nepal. Setelah itu, senyap. "Kami tidak tahu apakah mereka sudah menyeberang atau masih di sisi Nepal," ujar Mukherjee.
Bencana ini membuka kembali kerentanan jalur ziarah di kawasan Himalaya yang kerap dilanda cuaca ekstrem. Menurut catatan, musim hujan di kawasan tersebut memang rawan memicu tanah longsor dan banjir bandang. Namun, minimnya sistem peringatan dini dan koordinasi lintas batas antara Nepal dan China menjadi sorotan. Bagi para peziarah, tidak ada pilihan lain selain menyeberangi sungai dan melewati lembah yang rawan bencana. "Mereka tahu risikonya, tapi keyakinan spiritual sering kali mengalahkan pertimbangan keselamatan," ujar seorang pengamat pariwisata yang enggan disebut namanya.
Bagi Indonesia, tragedi ini menjadi pengingat akan pentingnya manajemen keselamatan perjalanan ke daerah rawan bencana. Banyak warga Indonesia yang juga melakukan ziarah atau wisata ke kawasan pegunungan, baik di dalam negeri maupun luar negeri. Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) sendiri kerap mengingatkan tentang risiko bencana hidrometeorologi di musim hujan. Namun, koordinasi antarnegara untuk evakuasi warga negara yang terdampak bencana di luar negeri masih perlu diperkuat, terutama di kawasan yang sulit dijangkau seperti Himalaya.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi dari pemerintah China maupun Nepal mengenai nasib rombongan Subhrasree dan Rina. Operator tur di Kolkata juga mengaku belum memiliki informasi. Keluarga kedua perempuan itu hanya bisa menunggu dengan harapan dan doa. "Malam tanpa tidur, terus memegang ponsel," kata Bhattacharya. Di tengah ketidakpastian ini, satu pertanyaan menggantung: apakah mereka sempat menjejakkan kaki di tanah suci yang mereka rindukan, atau justru terjebak di antara dua negara yang sedang bergejolak oleh alam?



