Restoran Buka 10 Hari Langsung Disegel: Kisah Aktor Hong Kong di Malaysia
Baca dalam 60 detik
- Otoritas setempat memerintahkan penghentian operasional Six Hub Roast House di Petaling Jaya karena dugaan pelanggaran izin dan penggunaan lahan.
- Dapur restoran yang menempati ruang publik menjadi pemicu penutupan, memaksa manajemen melakukan perbaikan internal.
- Insiden ini menjadi ujian reputasi bagi Mat Yeung, yang selama ini dikenal publik lewat karier aktingnya di TVB.

Hanya sepuluh hari setelah grand opening, restoran daging panggang milik aktor Hong Kong, Mat Yeung, di Petaling Jaya, Malaysia, harus berhenti beroperasi. Dewan Kota Petaling Jaya (MBPJ) mengeluarkan perintah penghentian kegiatan sejak pukul 13.00 waktu setempat pada 24 Agustus, dengan tuduhan pelanggaran terkait lisensi dan penggunaan lahan.
Restoran bernama Six Hub Roast House yang berlokasi di kawasan SS2 itu sebenarnya baru dibuka pada 14 Agustus. Namun, dalam tempo singkat, papan pengumuman penutupan sudah terpampang di depan gerai. Pihak manajemen pun buka suara melalui media sosial, meminta maaf kepada pelanggan dan menyatakan akan menutup operasional selama dua hari untuk melakukan pembenahan. Mereka menargetkan kembali beroperasi pada Rabu, 26 Agustus.
Yang menarik, insiden ini bukan semata soal administrasi. Mat Yeung, yang kini berusia 45 tahun, mengakui dalam wawancara dengan Sing Tao Headline bahwa sebagian peralatan dapur mereka menempati lorong belakang restoran. "Mungkin karena setelah pembukaan kami terlalu banyak barang, sebagian ditaruh di belakang. Pihak berwenang bilang itu tidak boleh dan meminta kami memindahkan semuanya ke gudang. Kami seharusnya bisa buka lagi lusa," ujarnya.
Bagi penggemar drama Hong Kong, nama Mat Yeung bukanlah sosok asing. Ia memulai karier di kelas pelatihan artis TVB pada 1998 dan tampil dalam sejumlah serial populer seperti Be Home for Dinner, Master of Play, Fist Fight, dan My Commissioned Lover. Namun, di balik layar, ia ternyata menyimpan ambisi lain: membuka restoran daging panggang ala Hong Kong. Menurut laporan The Star, usaha ini adalah salah satu cita-cita hidupnya.
Konteks serupa sebenarnya juga relevan bagi Indonesia. Di kota-kota besar seperti Jakarta, Bandung, atau Surabaya, banyak pelaku usaha kuliner yang kerap menghadapi persoalan serupa: izin yang belum lengkap atau penggunaan area publik untuk operasional. Kasus ini menjadi pengingat bahwa kepatuhan terhadap regulasi tata ruang dan perizinan adalah fondasi yang tidak bisa ditawar, sekalipun usaha tersebut baru saja dibuka dengan gegap gempita.
Penutupan mendadak ini tentu menjadi pukulan tersendiri bagi Mat Yeung, yang baru saja mewujudkan mimpinya. Namun, respons cepat manajemen untuk memenuhi permintaan otoritas menunjukkan itikad baik untuk patuh. Pertanyaannya, apakah insiden ini akan memengaruhi reputasi restoran di mata pelanggan? Atau justru menjadi pelajaran berharga bagi pebisnis kuliner lain, bahwa kepatuhan regulasi adalah investasi jangka panjang yang tidak boleh diabaikan?



