Stuttgart Incar Gebrakan di Liga Champions: Bisakah Undav dan Pejčinović Bawa Die Schwaben Melangkah Lebih Jauh?
Baca dalam 60 detik
- VfB Stuttgart kembali ke Liga Champions untuk kedua kalinya dalam tiga musim, finis keempat Bundesliga 2025/26.
- Rekrutan baru Dženan Pejčinović langsung mencetak hat-trick di laga debut, menambah persaingan di lini depan.
- Kapten baru Deniz Undav, dengan 25 gol musim lalu, menjadi kunci ambisi Stuttgart di kompetisi domestik dan Eropa.

VfB Stuttgart memasuki musim 2026/27 dengan status sebagai salah satu kekuatan baru Bundesliga, setelah finis keempat musim lalu dan mengamankan tiket ke Liga Champions untuk kedua kalinya dalam tiga tahun. Di bawah arahan Sebastian Hoeneß, tim yang pernah nyaris terdegradasi ini kini menjelma menjadi kandidat serius di papan atas Jerman. Pertanyaannya, sanggupkah mereka melangkah lebih jauh di Eropa tanpa mengorbankan konsistensi di liga domestik?
Perjalanan Stuttgart dalam beberapa musim terakhir memang luar biasa. Setelah menjuarai DFB-Pokal 2024/25 dan menjadi runner-up musim lalu, mereka menunjukkan kapasitas untuk bersaing di berbagai ajang. Namun, tantangan musim ini lebih berat: padatnya jadwal Liga Champions bisa menjadi bumerang bagi kedalaman skuad. Meski begitu, hasil pramusim mereka impresif—mencetak 28 gol dalam enam laga uji coba, termasuk kemenangan telak 7-0 atas Balingen dan 8-1 atas Kickers Offenbach—sebelum menaklukkan Hansa Rostock 4-0 di putaran pertama DFB-Pokal.
Di bursa transfer, Stuttgart bergerak cerdas dengan mendatangkan Dženan Pejčinović dari Wolfsburg. Pemain timnas U-21 Jerman itu langsung menunjukkan taringnya dengan hat-trick pada debutnya melawan Rostock. Kehadirannya menambah persaingan ketat di lini depan, yang sudah dihuni Deniz Undav dan Ermedin Demirović. Sementara itu, Grischa Prömel yang datang dari Hoffenheim diharapkan memberikan energi tambahan di lini tengah. Dengan jadwal padat, kedalaman skuad menjadi kunci, dan Pejčinović tampaknya investasi yang tepat.
Deniz Undav, yang baru saja ditunjuk sebagai kapten tim, menjadi figur sentral. Musim lalu ia mencetak 25 gol di semua kompetisi, termasuk 19 gol di Bundesliga—hanya kalah dari Harry Kane—dan menjadi pencetak gol Jerman terbanyak di lima liga top Eropa. Penampilannya membawanya ke Piala Dunia 2026, di mana ia mencetak tiga gol dalam empat pertandingan untuk Jerman. Di usia 30 tahun, Undav adalah pemimpin yang diharapkan bisa menularkan mentalitas juara kepada rekan-rekannya.
Keputusan Hoeneß mengganti Atakan Karazor sebagai kapten dengan Undav menjadi sorotan. “Deniz adalah pemain berpengalaman yang telah mengambil banyak tanggung jawab, selalu dekat dengan staf pelatih dan tim, serta memiliki reputasi tinggi. Dia adalah pemain kunci di lapangan dan berkontribusi besar pada perjalanan sukses kami,” ujar Hoeneß. Namun, perubahan ini bisa berdampak pada dinamika ruang ganti. Selain itu, Hoeneß dihadapkan pada dilema di lini depan: Pejčinović sudah membuktikan diri, sementara Demirović memiliki 27 gol dalam 59 penampilan Bundesliga dan sudah memiliki pemahaman baik dengan Undav. Keputusan komposisi pemain akan krusial, terutama saat menghadapi Bayern Munich di laga pembuka Jumat nanti.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, perkembangan Stuttgart menarik untuk diikuti. Liga Champions selalu menjadi tontonan global, dan performa pemain seperti Undav—yang berdarah Turki-Jerman—bisa menjadi inspirasi bagi pemain diaspora. Selain itu, gaya bermain Stuttgart yang agresif dan kolektif bisa menjadi bahan pembelajaran bagi klub-klub Asia yang ingin bersaing di level tertinggi. Dengan jadwal padat, manajemen kebugaran akan menjadi ujian nyata bagi Hoeneß.
Musim ini, Stuttgart tidak hanya ingin tampil di Liga Champions, tetapi juga bersaing di papan atas Bundesliga. Akankah mereka mampu menjaga keseimbangan antara ambisi Eropa dan konsistensi domestik? Atau justru pengalaman di kompetisi antarklub Eropa akan menguras tenaga dan membuat mereka kehilangan fokus di liga? Jawabannya akan mulai terlihat saat mereka bertandang ke Allianz Arena akhir pekan ini.



