Wabah Ebola di Kongo Meluas ke 60 Zona Kesehatan, Kasus Tembus 5.794
Baca dalam 60 detik
- Wabah Ebola di Kongo timur kini menjangkau 60 zona kesehatan, dengan 5.794 kasus konfirmasi dan 2.786 kematian.
- Tingkat kematian di Provinsi Kivu Utara mencapai 69%, jauh di atas rata-rata nasional, akibat respons yang terlambat.
- WHO memperingatkan risiko penularan lintas batas ke Republik Afrika Tengah dan Sudan Selatan, sementara vaksin untuk varian Bundibugyo masih dalam uji klinis.

Wabah Ebola yang tengah melanda Republik Demokratik Kongo (DRC) kembali menunjukkan eskalasi mengkhawatirkan. Kementerian Kesehatan setempat, Jumat (29/8), mengonfirmasi perluasan wilayah penularan ke dua zona kesehatan baru—Biena dan Manguredjipa di Provinsi Kivu Utara—sehingga total area terdampak kini mencapai 60 zona. Angka ini menjadikan wabah tersebut sebagai yang tercepat penyebarannya dalam sejarah, melampaui laju penanganan yang dilakukan otoritas dan organisasi internasional.
Data resmi mencatat 5.794 kasus terkonfirmasi dengan 2.786 kematian, atau tingkat fatalitas kasus (CFR) sekitar 48 persen. Namun, di Kivu Utara, CFR melonjak hingga 69 persen—salah satu yang tertinggi di negara itu. Kondisi ini diperparah oleh berbagai faktor: ketidakamanan akibat konflik bersenjata, perpindahan penduduk masif, pemogokan petugas kesehatan, serta mobilitas warga yang sulit dikendalikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan menyatakan wabah ini belum terkendali dan berpotensi melampaui tragedi Ebola 2014-2016 di Afrika Barat yang menewaskan lebih dari 11.000 jiwa.
Di tengah situasi genting itu, Doctors Without Borders (MSF) membuka pusat perawatan baru di Beni, salah satu wilayah dengan beban kasus tertinggi. Fasilitas ini dirancang untuk mempercepat penanganan pasien, memperkuat pelacakan kontak, dan mendukung otoritas kesehatan dalam upaya membendung penularan. “Langkah ini memungkinkan perawatan cepat dan memperkuat sistem surveilans,” demikian pernyataan MSF, Jumat.
Pemerintah Kongo telah memulai vaksinasi bagi tenaga kesehatan dan pekerja garis depan menggunakan vaksin Ervebo—yang terbukti efektif untuk varian Zaire pada wabah sebelumnya. Namun, wabah saat ini disebabkan oleh virus Bundibugyo yang lebih langka, yang belum memiliki vaksin maupun pengobatan berlisensi. Uji klinis untuk menemukan vaksin yang tepat masih berlangsung, sementara penularan terus terjadi di luar jejaring pemantauan kontak, terutama di komunitas-komunitas terpencil.
Sejak dinyatakan pada pertengahan Mei, wabah ini diperkirakan telah menyebar sejak Februari. Upaya pengendalian—mulai dari pembatasan pertemuan publik, jaga jarak sosial, hingga penutupan bandara—telah mengganggu kehidupan di enam provinsi terdampak, terutama Ituri yang dilanda kekerasan pemberontak. Meski pemerintah memasang peralatan kesehatan dan sanitasi di sejumlah titik, kelompok advokasi menilai kepercayaan masyarakat masih menjadi tantangan terbesar. Tanpa kepercayaan itu, warga cenderung enggan melapor atau mencari pengobatan, sehingga penularan terus berlanjut.
Risiko penyebaran lintas batas juga semakin nyata. Uganda, negara tetangga, telah mendeklarasikan diri bebas Ebola bulan lalu. Namun, WHO memperingatkan bahwa Republik Afrika Tengah kini menjadi negara dengan risiko limpahan kasus tertinggi, disusul Sudan Selatan. Menurut ahli WHO Marie Roseline Belizaire, perluasan wabah ke wilayah perbatasan meningkatkan ancaman bagi negara-negara tersebut. “Kita harus waspada terhadap pergerakan populasi yang intensif di kawasan ini,” ujarnya.
Bagi Indonesia, wabah Ebola di Kongo menjadi pengingat pentingnya kesiapsiagaan menghadapi penyakit menular baru. Meski risiko langsung ke Asia Tenggara relatif rendah, arus perjalanan internasional dan mobilitas tenaga kerja Indonesia ke Afrika—meski kecil—tetap memerlukan protokol kesehatan yang ketat. Pemerintah Indonesia telah memiliki pengalaman berharga dari pandemi COVID-19, termasuk sistem surveilans dan respons cepat yang bisa diadaptasi. Namun, pertanyaannya: apakah infrastruktur kesehatan dan sistem deteksi dini kita cukup tangguh untuk menghadapi ancaman serupa jika suatu saat muncul di kawasan?
Ke depan, dunia menanti hasil uji klinis vaksin untuk varian Bundibugyo. Tanpa vaksin yang efektif, upaya pengendalian akan terus bergantung pada isolasi kasus, pelacakan kontak, dan edukasi masyarakat. Sementara itu, koordinasi internasional dan dukungan logistik menjadi kunci untuk mencegah wabah ini menjadi bencana kemanusiaan yang lebih luas. Apakah respons global akan cukup cepat, atau sejarah kelam Ebola 2014 akan terulang?



