Puasa Intermiten Terbukti Bantu Turunkan Berat Badan dan Redakan Gejala Crohn: Ini Temuan Terbaru
Baca dalam 60 detik
- Studi terbaru menunjukkan puasa intermiten dengan jendela makan 8 jam efektif mempertahankan penurunan berat badan hingga satu tahun.
- Penelitian lain mengungkapkan metode ini juga mampu menekan aktivitas penyakit Crohn, termasuk mengurangi frekuensi buang air besar hingga 40%.
- Para ahli menekankan pentingnya konsistensi jendela makan yang sesuai gaya hidup, bukan sekadar mengikuti angka tertentu.

Puasa intermiten, pola makan yang membatasi waktu konsumsi makanan dalam rentang tertentu, kembali menjadi sorotan setelah sejumlah studi terbaru menunjukkan manfaatnya yang lebih luas, tidak hanya untuk menurunkan berat badan tetapi juga untuk mengelola penyakit radang usus seperti Crohn. Temuan ini membuka peluang baru bagi jutaan orang yang selama ini bergelut dengan obesitas dan gangguan pencernaan kronis.
Sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Clinical Nutrition pada Agustus lalu mengamati efek jendela makan delapan jam terhadap keberhasilan mempertahankan berat badan ideal. Partisipan yang berusia 30โ60 tahun dengan kelebihan berat badan atau obesitas dibagi dalam empat pola puasa berbeda selama 12 minggu. Hasilnya, setelah satu tahun, mereka yang menerapkan time-restricted eating (TRE) dengan jendela makan mulai sebelum pukul 10.00 atau setelah pukul 13.00 lebih mampu menjaga berat badan ketimbang kelompok yang makan di jam biasa. Menariknya, 26% partisipan mengaku masih menjalankan pola ini setahun kemudian, menandakan keberlanjutan yang cukup tinggi.
Peneliti utama, Alba Camacho-Cardenosa dari Universitas Granada, menjelaskan bahwa manfaat TRE tampak konsisten baik jendela makan dilakukan di awal hari, akhir hari, maupun dipilih sendiri. โMengurangi durasi waktu makan harian tampaknya lebih krusial daripada menentukan jam spesifik,โ ujarnya. Ia menambahkan, TRE adalah strategi sederhana yang mudah diulang ketika seseorang merasa berat badannya mulai naik kembali.
Selain untuk manajemen berat badan, puasa intermiten juga menunjukkan potensi besar dalam memperbaiki kesehatan metabolik. Riset yang dimuat di BMJ Medicine pada Januari lalu menganalisis data lebih dari 2.200 partisipan dari 41 uji klinis acak. Dibandingkan dengan pola makan biasa, mereka yang menjalani TRE mengalami perbaikan kadar gula darah, sensitivitas insulin, dan profil lipid secara signifikan. Namun, para peneliti mengingatkan bahwa jendela makan yang terlalu awal tidak cocok untuk semua orang, terutama mereka yang memiliki jadwal tidur tidak teratur.
Ahli gizi Monique Richard menekankan bahwa konsistensi jendela makan yang selaras dengan ritme tubuh dan jadwal tidur lebih penting daripada memilih angka tertentu. โTidak ada aturan baku yang cocok untuk semua orang. Memaksakan diri justru bisa menimbulkan stres yang kontraproduktif,โ katanya. Ia menambahkan, TRE bukan tentang makan lebih sedikit, melainkan menyelaraskan asupan dengan jam biologis tubuh.
Kabar baik lainnya datang dari penelitian yang dipublikasikan di Gastroenterology pada Mei lalu. Studi yang melibatkan 20 pasien Crohn dalam remisi klinis ini menemukan bahwa mereka yang menjalani jendela makan delapan jam selama enam hari per pekan selama 12 minggu mengalami penurunan aktivitas penyakit yang signifikan. Frekuensi buang air besar berkurang hingga 40% dan keluhan abdominal menurun 50%. Meski hasilnya menjanjikan, para peneliti mengingatkan bahwa ukuran sampel yang kecil dan kondisi partisipan yang sudah remisi membuat hasil ini belum bisa digeneralisasi.
Bagi penderita Crohn, temuan ini menawarkan harapan baru. Dokter spesialis gastroenterologi Babak Firoozi menilai bahwa puasa intermiten dapat menjadi strategi tambahan dalam rencana perawatan komprehensif, terutama bagi pasien yang juga mengalami kelebihan berat badan. โFondasi perawatan Crohn tetap pada pola makan sehat dan kepatuhan minum obat, tetapi mengelola berat badan adalah aspek penting yang sering terabaikan,โ jelasnya.
Di Indonesia, tren puasa intermiten semakin populer, terutama di kalangan pekerja perkotaan yang ingin menjaga berat badan. Namun, perlu diingat bahwa pola makan ini tidak serta-merta cocok untuk semua orang, terutama mereka yang memiliki kondisi medis tertentu. Konsultasi dengan dokter atau ahli gizi sebelum memulai sangat disarankan, mengingat setiap individu memiliki kebutuhan nutrisi yang berbeda.
Ke depan, pertanyaan yang muncul adalah apakah puasa intermiten dapat menjadi rekomendasi standar dalam penanganan obesitas dan penyakit radang usus di Indonesia. Dengan semakin banyaknya bukti ilmiah, bukan tidak mungkin metode ini akan diintegrasikan dalam panduan praktik klinis. Namun, penelitian lebih lanjut dengan skala lebih besar dan melibatkan populasi Asia Tenggara masih diperlukan untuk memastikan efektivitas dan keamanannya.


