KRI dr. Soeharso-990 Siaga di NTT: Rumah Sakit Terapung TNI AL Jadi Andalan Warga Terdampak Gempa
Baca dalam 60 detik
- TNI AL mengerahkan kapal rumah sakit KRI dr. Soeharso-990 untuk memberikan layanan medis dan oksigen bagi korban gempa NTT.
- Kapal perang dengan fasilitas medis lengkap itu telah menjadi tempat operasi bagi sejumlah pasien, memperkuat respons darurat di daerah terpencil.
- Kehadiran KRI ini menegaskan peran strategis alutsista dalam penanganan bencana, sekaligus menjadi uji ketahanan logistik kesehatan di wilayah timur Indonesia.

Laksamana TNI Tunggul, Kepala Dinas Penerangan TNI AL, memastikan KRI dr. Soeharso-990 akan tetap beroperasi di perairan Nusa Tenggara Timur hingga kondisi pascagempa dinyatakan pulih. Kapal rumah sakit berkapasitas 75 tempat tidur itu telah menjadi garda terdepan pelayanan kesehatan bagi warga yang kehilangan akses ke fasilitas medis darat.
Sejak bersandar di lokasi bencana, kapal yang biasa dipakai untuk misi kemanusiaan ini telah melayani pemeriksaan, perawatan intensif, hingga tindakan operasi. Tim medis yang terdiri atas dokter-dokter profesional dari TNI AL bekerja tanpa henti, melengkapi kekurangan fasilitas kesehatan di darat yang lumpuh akibat guncangan. Meski demikian, pihak TNI AL belum merinci jumlah pasti pasien yang tertangani maupun volume tabung oksigen yang telah disalurkan ke masyarakat.
Yang menarik, operasi medis di atas kapal perang bukan sekadar solusi darurat. Ini menunjukkan bagaimana aset pertahanan dapat dialihfungsikan secara cepat untuk kepentingan kemanusiaan, sebuah praktik yang kerap diuji di negara kepulauan seperti Indonesia. Distribusi oksigen, yang oleh Tunggul disebut sebagai komponen krusial bagi pasien gangguan pernapasan, menjadi fokus utama karena banyak korban gempa menderita trauma fisik dan stres psikologis yang memicu sesak napas.
Bagi warga NTT yang tinggal di pulau-pulau terpencil, kehadiran KRI dr. Soeharso-990 menjadi penyelamat. Pasalnya, rumah sakit darurat di darat kerap kesulitan dijangkau akibat infrastruktur jalan yang rusak. Kapal ini mampu mendekat ke pelabuhan-pelabuhan kecil, memangkas waktu tempuh pasien yang sebelumnya harus dirujuk ke kota besar seperti Kupang atau bahkan ke luar provinsi.
Langkah TNI AL ini sejalan dengan doktrin pertahanan negara yang menempatkan personel militer sebagai komponen utama penanggulangan bencana. Di Indonesia, yang berada di cincin api Pasifik, kesiapan alutsista untuk tanggap darurat menjadi keniscayaan. Pengalaman gempa Palu 2018 dan tsunami Selat Sunda 2018 menunjukkan bahwa keterlambatan bantuan medis sering kali memperparah korban jiwa.
Namun, publik masih menanti transparansi data. Tanpa rincian jumlah pasien dan pasokan oksigen, sulit menilai efektivitas misi ini secara kuantitatif. Akankah TNI AL merilis data lengkap setelah operasi selesai? Yang jelas, kehadiran KRI dr. Soeharso-990 telah memberi harapan baru bagi warga NTT yang berjuang memulihkan diri dari bencana.


