DetectMe: Inovasi Pemantauan Kehamilan dari Rumah untuk Tekan Angka Kematian Ibu di Daerah Terpencil
Baca dalam 60 detik
- Angka kematian ibu di NTT, Maluku, dan Papua mencapai 317 per 100 ribu kelahiran, tiga kali lipat Jawa-Bali.
- Sistem DetectMe memungkinkan ibu hamil memeriksa detak jantung janin di rumah, dengan data dipantau bidan secara real-time.
- Uji coba melibatkan 90 ibu hamil dan 45 bidan di tiga provinsi; 76,2% pengguna menilai alat ini mudah digunakan.

Di tengah tingginya angka kematian ibu melahirkan di Indonesia bagian timur, kehadiran teknologi pemantauan kehamilan jarak jauh mulai diuji sebagai solusi untuk menjembatani keterbatasan akses layanan kesehatan. Sistem bernama DetectMe, yang dikembangkan melalui riset kolaboratif 2024โ2026, memungkinkan ibu hamil memeriksa kondisi janin dari rumah dengan hasil yang dapat dipantau bidan secara langsung.
Data Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025 menunjukkan disparitas yang mencolok: wilayah Nusa Tenggara, Maluku, dan Papua mencatat 317 kematian ibu per 100 ribu kelahiran hidup, hampir tiga kali lipat dibandingkan Jawa-Bali yang hanya 114. Kesenjangan ini diperparah oleh kondisi geografis yang sulit, minimnya tenaga kesehatan, serta beban kerja bidan desa yang overload. Pemerintah sebenarnya telah menggalakkan pemeriksaan kehamilan gratis enam kali melalui BPJS Kesehatan sejak 2023, namun program tersebut belum mampu menembus hambatan jarak dan akses di daerah terluar.
DetectMe hadir sebagai perangkat berbasis Internet of Things (IoT) yang bekerja mirip elektrokardiogram (EKG). Sensor yang ditempelkan di perut ibu menangkap aktivitas kelistrikan jantung ibu dan janin, lalu mengirimkan data melalui bluetooth ke aplikasi smartphone. Dalam sepuluh menit, ibu hamil dapat melakukan pemeriksaan mandiri dan hasilnya langsung terkirim ke website yang bisa diakses bidan di puskesmas. Kecepatan detak jantung yang tidak normal pada ibu bisa mengindikasikan anemia, infeksi, atau tekanan darah rendah, sementara pada janin dapat menjadi sinyal kekurangan oksigen atau lilitan tali pusar.
Uji coba yang melibatkan 90 ibu hamil trimester ketiga, 36 bidan desa, dan sembilan bidan koordinator di Garut, Ambon, dan Kupang menunjukkan hasil menjanjikan. Selama 1,5 bulan pemakaian, 76,2% peserta menilai perangkat ini mudah digunakan dan menyatakan akan menggunakannya kembali. Lebih dari itu, hampir seluruh ibu hamil merasa lebih tenang karena dapat memantau kondisi janin secara rutin tanpa harus menempuh perjalanan jauh ke fasilitas kesehatan. Salah satu kasus nyata adalah Maria (bukan nama sebenarnya) dari Kupang yang merasakan janinnya tidak aktif, lalu memeriksakan diri dengan DetectMe dan melaporkan hasil yang tidak biasa kepada bidan. Ia segera dirujuk ke dokter spesialis kandungan dan menjalani operasi caesar keesokan harinya, menyelamatkan nyawa bayinya.
Para bidan juga merasakan manfaat besar. Fransiska, bidan di Puskesmas Tarus, Kupang, mengungkapkan bahwa perangkat ini sangat membantu terutama untuk ibu hamil berisiko tinggi. โKita tidak harus kontak mereka untuk datang ke sini, karena dapat kita ketahui keadaan mereka,โ ujarnya. Dengan data pemantauan dari rumah, bidan dapat memantau perkembangan kondisi ibu dan janin secara berkelanjutan, menentukan apakah masih dalam batas normal, dan segera bertindak jika ada indikasi bahaya. Pendekatan ini menggeser pola layanan dari kuratif menjadi promotif dan preventif, sejalan dengan visi pemerintah memperbaiki sistem kesehatan nasional.
Meski potensinya besar, pengembangan DetectMe masih menghadapi tantangan. Konektivitas internet di daerah terluar belum merata, sehingga diperlukan desain produk yang mampu menyimpan data sementara secara offline. Selain itu, integrasi dengan sistem kesehatan nasional dan kerja sama lintas sektor menjadi kunci agar inovasi ini dapat diadopsi secara luas. Pertanyaannya, akankah pemerintah dan pemangku kepentingan mampu mendorong adopsi teknologi ini untuk menjangkau ibu-ibu di pelosok yang selama ini terabaikan?



