Brett Goldstein: Depresi Sebelum Ted Lasso, Jurnal Syukur Mengubah Hidupnya
Baca dalam 60 detik
- Aktor Brett Goldstein mengaku sempat depresi dan merasa kehilangan momentum karier sebelum akhirnya sukses lewat serial Ted Lasso.
- Terapi dan kebiasaan menulis jurnal syukur harian membantunya melatih pola pikir positif, yang kemudian membuka jalan menuju peran ikoniknya.
- Kisah Goldstein menjadi pengingat bahwa kesehatan mental dan ketekunan bisa menjadi fondasi kesuksesan di industri kreatif yang penuh ketidakpastian.

Brett Goldstein, aktor yang kini dikenal luas lewat perannya dalam serial Ted Lasso, mengungkapkan bahwa dirinya sempat berada dalam fase depresi sebelum tawaran besar itu datang. Pada pertengahan 2010-an, pria berusia 46 tahun ini merasa kariernya mandek setelah serangkaian proyek pilot yang gagal dilanjutkan menjadi serial penuh. Perasaan gagal itu diperparah oleh kesadaran akan usia yang terus bertambah, membuatnya sempat berpikir bahwa peluang sukses besar telah berlalu.
Dalam wawancara dengan Men's Health, Goldstein menceritakan momen epifani yang justru muncul dari keputusasaan. "Mungkin jendela kesuksesan saya sudah tertutup," ujarnya mengenang. Namun, alih-alih menyerah, ia memutuskan untuk mencari bantuan profesional. Terapi yang dijalaninya tidak langsung membuahkan hasil, tetapi kemudian sang terapis menyarankan sebuah latihan sederhana: menulis jurnal syukur setiap hari.
Latihan itu dimulai dengan mencatat sepuluh hal yang patut disyukuri setiap malam. Di awal, ketika depresi masih pekat, ia bahkan harus menulis hal sekecil "matahari terbit". Namun, kebiasaan itu perlahan mengubah cara kerjanya. "Pada hari ke-30, otak saya mulai terlatih untuk mencari hal-hal positif. Saya bisa menulis seratus hal," kata Goldstein. Ia menyadari bahwa meskipun kariernya berada di titik rendah, ia masih bisa berkarya setiap hari, dan itu adalah hal yang paling ia nikmati.
Kesadaran itu menjadi titik balik. Hanya dua minggu setelah mengubah pola pikirnya, Goldstein menerima telepon yang mengubah segalanya: tawaran untuk bermain dalam Ted Lasso. Sejak itu, kariernya melesat. Ia tidak hanya menjadi pemeran, tetapi juga ikut menulis dan memproduksi serial Shrinking di Apple TV+, serta tampil dalam film-film besar seperti Thor: Love and Thunder dan Office Romance.
Kisah Goldstein menyoroti pentingnya kesehatan mental di industri hiburan yang kerap menuntut kesempurnaan. Tekanan untuk selalu tampil di atas panggung atau layar kaca bisa menjadi beban berat, dan banyak artis yang mengalami kecemasan atau depresi tanpa mendapat dukungan yang memadai. Di Indonesia, kesadaran akan kesehatan mental di kalangan publik figur juga mulai meningkat, meski masih banyak stigma yang harus dihadapi. Kisah seperti ini bisa menjadi pengingat bahwa meminta bantuan bukanlah tanda kelemahan, melainkan langkah awal menuju pemulihan.
Goldstein sendiri mengaku tetap menjaga dirinya tetap membumi dengan melakukan stand-up comedy secara rutin. Baginya, tampil di klub komedi pada Jumat malam justru terasa lebih menantang daripada menghadiri acara karpet merah yang glamor. "Acara karpet merah itu menegangkan, tapi tidak lebih sulit daripada tampil di klub komedi," ujarnya. Sikap ini menunjukkan bahwa kesuksesan tidak membuatnya lupa dari akar kreativitasnya.
Ke depannya, pertanyaan yang muncul adalah bagaimana Goldstein akan menyeimbangkan antara tuntutan popularitas dan kebutuhan untuk tetap autentik. Dengan proyek-proyek baru yang terus berdatangan, ia tampaknya akan terus menghadapi dilema yang sama. Namun, dengan fondasi mental yang telah ia bangun, ia mungkin menjadi contoh bahwa kesuksesan sejati dimulai dari dalam diri.



