Studi: Satu dari Empat Mantan Pemain NFL yang Meninggal 2016-2021 Terdeteksi CTE
Baca dalam 60 detik
- Penelitian terbaru mengungkap 215 dari 235 otak mantan pemain NFL yang disumbangkan untuk riset menunjukkan tanda-tanda CTE.
- Temuan ini menegaskan bahwa akumulasi benturan kepala sejak level junior, bukan hanya di NFL, menjadi faktor utama risiko neurodegeneratif.
- Para ahli mendesak penerapan kebijakan pengurangan kontak fisik di semua level sepak bola Amerika, seiring meningkatnya kesadaran akan bahaya jangka panjang.

Sebuah studi yang dirilis Selasa (25/8) mengungkap fakta mengejutkan: setidaknya satu dari empat mantan pemain National Football League (NFL) yang meninggal antara 2016 dan 2021 ternyata mengidap chronic traumatic encephalopathy (CTE), penyakit degeneratif otak yang hanya bisa dipastikan setelah kematian. Temuan ini kembali memicu perdebatan tentang keselamatan jangka panjang dalam olahraga dengan kontak fisik tinggi, sekaligus menyoroti pentingnya langkah pencegahan sejak usia dini.
Penelitian yang dilakukan Mass General Brigham, Boston University, dan Concussion & CTE Foundation ini menganalisis 878 mantan pemain yang wafat dalam periode tersebut. Dari jumlah itu, 235 keluarga menyumbangkan otak untuk keperluan riset. Hasilnya, 215 di antaranya positif CTE—angka yang setara dengan 91,5 persen dari sampel yang diteliti. Meski sampel donasi tidak mewakili seluruh populasi pemain, proporsi yang sangat tinggi ini menjadi sinyal kuat tentang besarnya risiko neurodegeneratif yang dihadapi para atlet.
Daniel Daneshvar, ketua departemen rehabilitasi fisik dan kedokteran di Mass General Brigham sekaligus profesor di Harvard Medical School, menegaskan bahwa cedera otak traumatis berulang merupakan faktor yang diketahui meningkatkan risiko penyakit neurodegeneratif. "Kami dan peneliti lain telah menunjukkan bahwa pada pemain NFL, tingkat kematian akibat penyakit neurodegeneratif sekitar empat kali lebih tinggi dibanding populasi umum," ujarnya. Pernyataan ini menegaskan bahwa masalah ini bukan sekadar kasus individual, melainkan epidemi yang membutuhkan respons sistemik.
Menariknya, Daneshvar menyoroti bahwa sebagian besar benturan kepala yang dialami mantan pemain justru terjadi di luar lapangan NFL. "Sebagian besar benturan kepala yang dialami mantan pemain NFL tidak terjadi di level NFL. Itu terjadi di level perguruan tinggi, sekolah menengah, dan dalam banyak kasus di level remaja. Semua pukulan kumulatif di kepala itu menambah risiko," jelasnya. Data menunjukkan hampir 70 persen benturan kepala terjadi saat latihan, bukan pertandingan. Artinya, pengurangan kontak di sesi latihan tanpa mengubah durasi pertandingan bisa secara signifikan menurunkan beban benturan seumur hidup atlet.
NFL sendiri merespons dengan pernyataan resmi yang menekankan komitmen mereka untuk membuat olahraga ini lebih aman. Juru bicara NFL menyatakan liga terus berupaya mengurangi gegar otak dan benturan kepala, serta menyediakan sumber daya bagi mantan pemain untuk menjaga kesehatan fisik dan mental. Namun, kritik menilai langkah tersebut belum cukup, terutama karena perubahan kebijakan belum menyentuh level akar rumput. Sejak 2011, NFL memang membatasi jumlah latihan kontak, dan Ivy League bahkan melarang tekel penuh saat latihan pada 2016. Namun, penerapan di level perguruan tinggi, sekolah menengah, dan remaja masih belum merata.
Bagi Indonesia, temuan ini relevan meski sepak bola Amerika bukan olahraga populer. Namun, olahraga lain dengan risiko benturan kepala—seperti tinju, rugby, atau bahkan sepak bola—menghadapi isu serupa. Federasi olahraga di Indonesia perlu belajar dari kasus NFL bahwa pencegahan dini dan pengaturan intensitas latihan adalah kunci. Regulasi yang membatasi kontak fisik pada atlet muda bisa menjadi investasi jangka panjang untuk kesehatan mereka. Selain itu, edukasi tentang gejala gangguan kognitif dan akses ke pemeriksaan spesialis perlu diperkuat, sebagaimana disarankan Daneshvar.
Daneshvar menggarisbawahi bahwa jika perubahan yang diterapkan di level NFL—seperti mengurangi kontak dalam latihan menjadi kurang dari sekali seminggu—diadopsi di level perguruan tinggi, sekolah menengah, dan remaja, atlet akan jauh lebih terlindungi. Ia juga mendorong atlet aktif dan pensiunan yang mengalami gejala kognitif untuk segera mencari evaluasi dari ahli penyakit neurodegeneratif. Pertanyaannya, mampukah industri olahraga global—termasuk Indonesia—mengedepankan keselamatan atlet di atas tuntutan kompetisi dan hiburan? Studi ini menjadi pengingat bahwa setiap benturan di lapangan hari ini adalah risiko kesehatan di masa depan.


