Prabowo Targetkan Karhutla Tuntas dalam Dua Pekan: Mitigasi El Nino Berjalan Terkendali
Baca dalam 60 detik
- Presiden Prabowo Subianto menyatakan optimisme penanganan kebakaran hutan dan lahan dapat rampung di sejumlah wilayah dalam waktu dekat, seiring pengerahan sumber daya besar-besaran.
- Pemerintah mengerahkan puluhan helikopter, pesawat, serta ribuan personel untuk pemadaman dan pencegahan, menandakan respons terpadu lintas lembaga terhadap dampak El Nino.
- Keberhasilan penanganan karhutla menjadi ujian kredibilitas pemerintah dalam mengelola bencana sekaligus menjaga stabilitas ekonomi dan lingkungan di tengah tekanan iklim global.

Presiden Prabowo Subianto memasang target penuntasan penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah titik dalam satu hingga dua pekan ke depan, sebuah sinyal optimisme di tengah dampak El Nino yang memperpanjang musim kemarau. Pernyataan itu disampaikan di sela peluncuran proyek Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) 100 GWp di Jembrana, Bali, Selasa, saat ia memantau langsung kondisi lapangan.
Kepala Negara mengakui seluruh dunia tengah bergulat dengan anomali iklim yang memicu kekeringan ekstrem, dan Indonesia tidak terkecuali. Namun, ia menegaskan bahwa kolaborasi antara pemerintah daerah, kementerian, TNI/Polri, BNPB, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan telah berjalan efektif. "Saya keliling ke beberapa tempat, saya cek sendiri, semua unsur bekerja secara efektif," ujarnya, seraya menambahkan bahwa upaya mitigasi kini mulai memperlihatkan hasil nyata.
Di balik pernyataan tersebut, pemerintah telah mengerahkan peralatan berat dan personel dalam skala besar. Puluhan helikopter dan pesawat dikerahkan untuk operasi pemadaman udara atau water bombing, sementara pembangunan sumur bor dan sekat kanal terus diakselerasi sebagai langkah mitigasi jangka panjang. Ribuan petugas gabungan dikerahkan ke berbagai lokasi rawan, sebuah bukti keseriusan negara dalam merespons bencana yang kerap memicu kabut asap lintas batas.
Prabowo juga menyoroti pentingnya ketangguhan negara dalam menghadapi berbagai cobaan, merujuk pada respons cepat pemerintah terhadap bencana di Aceh dan gempa bumi di Nusa Tenggara Timur. Baginya, karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan ujian koordinasi birokrasi dan ketahanan nasional. "Kita kuat, kita mampu, kita buktikan terus," tegasnya, sebuah pesan yang ditujukan tidak hanya kepada aparat, tetapi juga publik yang kerap meragukan efektivitas penanganan bencana.
Bagi Indonesia, keberhasilan menekan karhutla memiliki implikasi luas. Selain mencegah kerugian ekonomi akibat kabut asap yang mengganggu kesehatan dan transportasi, pengendalian kebakaran lahan juga menjadi kartu penting dalam diplomasi lingkungan regional, terutama mengingat Indonesia kerap menjadi sorotan akibat asap yang menyebar ke negara tetangga. Di sisi lain, komitmen pemerintah untuk mengelola kekayaan alam secara transparan dan bertanggung jawab, seperti yang ditekankan Prabowo, menjadi fondasi bagi kepercayaan investor asing yang kini semakin selektif terhadap isu keberlanjutan.
Namun, target dua pekan tetap menyisakan pekerjaan rumah besar. Sejumlah akademisi dan pegiat lingkungan mengingatkan bahwa karhutla di Indonesia bersifat siklikal dan memerlukan solusi permanen, bukan hanya respons darurat. Pertanyaannya, apakah pengerahan sumber daya besar-besaran kali ini mampu menuntaskan masalah hingga ke akar, atau hanya memadamkan api di permukaan? Jawabannya akan menentukan apakah Indonesia benar-benar belajar dari krisis tahun-tahun sebelumnya, atau kembali terjebak dalam siklus bencana yang sama.



