Florenzi Ungkap Dua Bakat Muda Italia yang Wajib Dipantau di Serie A 2026-27
Baca dalam 60 detik
- Mantan bek timnas Italia, Alessandro Florenzi, merekomendasikan Mattia Liberali (Como) dan Leonardo Bovio (Inter) sebagai prospek muda paling menarik di Serie A musim ini.
- Florenzi menilai kembalinya Roberto Mancini sebagai pelatih Azzurri adalah langkah tepat, mengingat rekornya yang tak terkalahkan dalam 37 laga beruntun.
- Penunjukan Claudio Ranieri sebagai direktur teknis FIGC diharapkan mampu merombak pembinaan usia muda Italia, meski kontroversi pengunduran diri Paolo Maldini masih menyisakan pertanyaan.

Mantan bek tim nasional Italia, Alessandro Florenzi, memberikan sinyalemen kuat bahwa Serie A musim ini akan menjadi panggung bagi dua talenta muda lokal yang patut diperhitungkan: gelandang Como, Mattia Liberali, dan bek Inter Milan, Leonardo Bovio. Dalam wawancara dengan harian La Repubblica, Florenzi yang merupakan bagian dari skuad juara Euro 2020 itu menilai kedua pemain tersebut tampil impresif sepanjang pramusim dan layak menjadi sorotan utama kompetisi.
Florenzi, yang kini berusia 34 tahun, tidak hanya berbicara soal prospek individu, tetapi juga menyoroti pentingnya keseimbangan dalam membangun tim nasional. Ia menegaskan bahwa generasi baru Azzurri harus meniru formula sukses yang ia rasakan saat menjuarai Piala Eropa lima tahun lalu, yakni perpaduan antara pemain muda dan senior yang saling menguatkan. "Jangan terlalu cepat menghakimi pemain muda saat melakukan kesalahan, atau sebaliknya menempatkan mereka sebagai penyelamat bangsa," ujarnya, mengingatkan bahwa tekanan berlebihan justru bisa menghambat perkembangan.
Komentar Florenzi muncul di tengah transisi besar yang sedang dilalui sepak bola Italia. Roberto Mancini resmi kembali menukangi tim nasional untuk periode kedua, sebuah keputusan yang disambut positif oleh Florenzi. Baginya, Mancini bukan hanya pelatih, tetapi juga sosok yang mampu membangun kedekatan personal dengan pemain, seperti kakak tua yang selalu siap berdialog. "Ia fenomenal dalam mengelola grup. Rekor 37 laga tanpa kekalahan bukan kebetulan; ada kerja keras di balik itu," kenang Florenzi, merujuk pada pencapaian impresif Italia di bawah arahan Mancini sebelumnya.
Di sisi lain, Federasi Sepak Bola Italia (FIGC) baru saja menunjuk Claudio Ranieri sebagai direktur teknis, menggantikan Paolo Maldini yang hanya bertahan dua minggu di posisi tersebut. Florenzi, yang pernah merasakan langsung kepelatihan Ranieri, menyebutnya sebagai pilihan yang berharga. Ia berharap Ranieri mampu membenahi seluruh rantai pembinaan usia muda di Italia, sebuah sektor yang selama ini dianggap tertinggal dibandingkan negara-negara Eropa lainnya. "Ranieri punya pengalaman; begitu ia tahu harus bertindak di mana, ia bisa merevolusi situasi," kata Florenzi.
Pengunduran diri Maldini sendiri masih menyisakan tanda tanya besar. Florenzi, yang pernah meraih Scudetto bersama AC Milan saat Maldini menjadi direktur klub, tidak terkejut dengan keputusan tersebut. Menurutnya, Maldini adalah sosok yang memiliki prinsip kuat dan hanya mau bekerja jika mendapat kepercayaan penuh. "Ia berbicara tentang Cruyff dan bagaimana ia mengubah sepak bola Spanyol. Ia ingin melakukan hal serupa di Italia, dan saya yakin ia bisa," tutur Florenzi, mengisyaratkan bahwa mundurnya Maldini lebih disebabkan oleh kurangnya dukungan dari federasi, terutama terkait penolakan penunjukan Andrea Pirlo sebagai pelatih.
Bagi pengamat sepak bola Indonesia, dinamika ini menarik untuk dicermati. Italia, yang pernah menjadi kiblat taktik dan pembinaan pemain bertahan, kini tengah berbenah. Kehadiran Liberali dan Bovio di Serie A bisa menjadi inspirasi bagi pengembangan pemain muda di Indonesia, yang kerap menghadapi masalah serupa: tekanan berlebihan dan kurangnya kesempatan bermain. Jika Italia mampu membangun kembali fondasi pembinaan yang kuat, bukan tidak mungkin negara-negara berkembang seperti Indonesia bisa belajar dari proses tersebut.
Ke depan, pertanyaan besarnya adalah apakah Mancini dapat mengulang kesuksesan periode pertamanya, dan apakah Ranieri mampu mengembalikan kejayaan pembinaan usia muda Italia. Dengan kualifikasi Piala Dunia 2026 yang sudah di depan mata, semua mata akan tertuju pada bagaimana para pemain muda ini berkembang dan apakah mereka mampu membawa Italia kembali ke panggung kejayaan. Satu hal yang pasti, Florenzi telah memberikan peta jalan yang jelas: percayalah pada proses, dan jangan pernah berhenti bermimpi.



