Richard E. Grant Putuskan Hubungan dengan Sahabat yang Tak Hadir saat Duka: 'Portcullis Down, Goodbye'
Baca dalam 60 detik
- Aktor Richard E. Grant secara tegas mengakhiri persahabatan dengan mereka yang dianggap abai setelah kematian istrinya, Joan Washington, pada 2021.
- Keputusan ini mencerminkan prinsip hidup 'hitam-putih' yang dianutnya, tanpa ruang untuk kompromi atau memaklumi niat baik.
- Di tengah duka, Grant menemukan kebahagiaan baru sebagai kakek dan menjalani hidup 'komunal' bersama keluarga, yang juga menyadarkannya akan keterbatasan waktu.

Richard E. Grant, aktor kawakan asal Inggris, menegaskan bahwa dirinya tidak akan pernah memaafkan sejumlah sahabat yang gagal memberikan dukungan saat istrinya, Joan Washington, meninggal dunia pada September 2021. Dalam wawancara terbaru dengan Sunday Times Magazine, bintang film Withnail and I itu mengungkapkan bahwa ia telah 'menghapus' orang-orang tersebut dari kehidupannya dan tidak ada jalan kembali bagi mereka.
Washington, yang menikah dengan Grant selama 35 tahun, tutup usia pada usia 74 tahun setelah berjuang melawan kanker paru-paru selama delapan bulan. Sebelumnya, Grant sempat menceritakan bagaimana sebagian kenalan mereka sengaja menyeberang jalan untuk menghindari percakapan canggung. Kini, ia menegaskan bahwa pengkhianatan diam-diam semacam itu adalah batas yang tidak bisa ditoleransi.
"Saya sangat tegas, hitam-putih, semua atau tidak sama sekali," ujar Grant. "Saya sudah mencoba mencari area abu-abu, tapi tidak bertahan lama. Ada orang-orang yang sudah saya hapus dari hidup saya dan saya tidak akan pernah bertemu mereka lagi. Jika saya melakukan hal itu kepada mereka, saya tidak akan sanggup menatap wajah mereka." Ketika ditanya apakah ia bisa memaafkan jika mereka memiliki niat baik, jawabannya singkat: "Tidak, portcullis turun. Selamat tinggal."
Keputusan Grant ini memicu perdebatan tentang batas kesetiaan dalam persahabatan, terutama di masa duka. Psikolog klinis di Jakarta, Ratna Juwita, menilai bahwa respons Grant adalah bentuk perlindungan diri yang wajar. "Ketika seseorang mengalami kehilangan besar, mereka sangat sensitif terhadap dukungan sosial. Ketidakhadiran orang terdekat bisa dirasakan sebagai pengkhianatan, dan memutus hubungan adalah mekanisme koping untuk menjaga kesehatan mental," jelasnya. Namun, ia juga mengingatkan bahwa dalam budaya Indonesia yang menjunjung tinggi gotong royong, konfrontasi terbuka seperti ini jarang terjadi, dan penyelesaian biasanya lebih mengedepankan musyawarah.
Di tengah duka dan keterputusan hubungan, Grant menemukan pelipur lara dalam peran barunya sebagai kakek. Putrinya, Olivia, dan suaminya, Florian Herbst, yang baru saja menjadi orang tua, memutuskan untuk kembali tinggal bersamanya setelah beberapa tahun berpisah. Grant menyebut kehidupannya kini seperti 'hidup di komune', dengan canda bahwa ia pindah dari sisi kamar miliknya dan istrinya ke sisi keluarga anaknya. "Mereka bertanya apakah bisa kembali. Jadi sekarang saya tinggal di komune," katanya sambil tersenyum. "Satu-satunya perbedaan adalah saya pindah dari sisi saya dan istri ke sisi mereka. Saya mengecil, mereka membesar."
Menjadi kakek telah memberinya perspektif baru tentang kehidupan dan kematian. "Melihat anak Anda menjadi orang tua dari anaknya... bagaimana Anda mengukurnya? Ini hal yang paling memuaskan untuk dilihat," ungkapnya. Grant mengakui bahwa kehadiran cucu membuatnya semakin sadar akan kefanaan, tetapi ia justru memandangnya sebagai hal positif. "Cucu menggarisbawahi mortalitas Anda sendiri, tapi itu hal yang baik karena Anda tidak membuang waktu untuk hal-hal yang tidak penting. Anda memiliki waktu yang terbatas di depan Anda," tuturnya. Ia bahkan sempat berkelakar, "Saya berusia 69 tahun โ pria tertua di dunia hiburan โ jadi saya berharap bisa hidup 31 tahun lagi, tapi kemungkinannya tipis."
Kisah Grant mengajarkan bahwa duka bisa memicu transformasi radikal dalam hubungan antarmanusia. Di Indonesia, di mana nilai kekeluargaan dan kebersamaan sangat kuat, fenomena 'mengedit' orang dari kehidupan mungkin terasa asing. Namun, di era media sosial yang serba transparan, banyak orang mulai berani menetapkan batasan tegas demi kesehatan mental mereka. Pertanyaannya, apakah keputusan sepihak seperti ini akan semakin umum, atau justru memicu pergeseran cara kita memaknai dukungan sosial? Yang jelas, bagi Grant, pintu telah tertutup rapat, dan ia memilih untuk fokus pada kebahagiaan yang tersisa: keluarga kecilnya yang baru.



