Menopause Kini Bukan Lagi Bahan Lelucon: Dari Layar Kaca hingga Manga, Representasi Perempuan Paruh Baya Menguat
Baca dalam 60 detik
- Representasi menopause di film, serial, dan musik populer meningkat pesat, menggeser stereotip lama yang mengolok-olok kondisi ini.
- Para ahli menilai perubahan ini membantu perempuan paruh baya merasa diakui dan mendorong masyarakat lebih memahami tahap kehidupan yang kerap dianggap tabu.
- Di Asia, termasuk Indonesia, gelombang keterbukaan ini mulai terlihat melalui karya lokal dan diskusi publik, meski masih perlu diperkuat.

Menopause, yang selama puluhan tahun hanya dijadikan bahan tertawaan di layar kaca, kini menjelma menjadi narasi serius yang diangkat dalam berbagai produksi populer, mulai dari serial televisi hingga album musik. Pergeseran ini bukan sekadar tren industri hiburan, melainkan cermin perubahan sosial yang membawa dampak nyata bagi jutaan perempuan yang memasuki fase hidup ini.
Sejumlah judul terbaru menunjukkan bagaimana menopause tak lagi dipandang sebelah mata. Serial komedi-drama Inggris Fleabag (2019) menampilkan monolog Kristin Scott Thomas yang menggambarkan menopause sebagai sesuatu yang "mengerikan" namun pada akhirnya "luar biasa". Dua tahun kemudian, Bombay Begums dari India memperlihatkan seorang CEO bank berusia 49 tahun yang harus menyembunyikan gejala perimenopause di tengah rapat dewan, demi menghindari stigma usia dan gender. Bahkan di Korea Selatan, drama Mr. Plankton mengangkat isu menopause dini yang dialami karakter berusia 28 tahun, sebuah kondisi yang jarang dibahas.
Fenomena ini tidak berhenti di layar kaca. Penyanyi Inggris Sophie Ellis-Bextor merilis album bertajuk Perimenopop pada 2025, sebuah plesetan yang menggabungkan kata perimenopause dan pop. Di Jepang, manga We Are Reproducing karya Uchida Shungiku yang telah terbit sejak 1994, terus mengupas pengalaman pribadi sang kreator termasuk soal menopause, dan dianggap sebagai rujukan penting bagi pembaca perempuan di sana.
Para pengamat budaya menilai ledakan representasi ini adalah buah dari pergeseran demografis dan sosial. Valery Tan, salah satu pendiri platform menopause Singapura Surety, mengungkapkan bahwa generasi yang tumbuh menonton televisi pada 1980-an dan 1990-an kini memasuki masa perimenopause. Mereka bertanya-tanya, "Mengapa tidak ada yang memberitahu saya hal ini akan terjadi?" Tuntutan akan informasi yang lebih baik semakin sulit diabaikan. Media sosial juga memainkan peran krusial, mengubah percakapan dari "Saya satu-satunya yang mengalaminya" menjadi "Mengapa kita tidak membicarakan ini?"
Dampak representasi ini tidak hanya dirasakan di negara Barat. Di Asia, sejumlah aktris seperti Xiang Yun dan Zheng Wanling dari Singapura, serta penyanyi Taiwan Ella Chen, mulai terbuka membicarakan gejala yang mereka alami. Di India, film pendek Painful Pride (2019) menyoroti stigma sosial seputar menopause, sementara drama Korea Reply 1988 menampilkan subplot tentang seorang ibu yang mengalami gejala menopause dan bagaimana keluarganya mendukungnya.
Grace Oh, pendiri platform menopause Asia SOL (Spring of Life), menekankan bahwa visibilitas adalah langkah awal menuju perawatan. "Ketika seorang perempuan melihat karakter menyebut kabut otak atau gejala lain sebagai menopause, dia memiliki bahasa untuk dibawa ke dokter dan tempat kerjanya, alih-alih menyalahkan stres, kelelahan, atau penuaan," ujarnya. Ia menambahkan bahwa Anda tidak bisa menormalkan apa yang tidak pernah dilihat orang.
Di tengah gencarnya representasi ini, Associate Professor Deborah Shamoon dari National University of Singapore mengingatkan bahwa perubahan ini masih sangat awal. "Ini adalah tanda betapa sedikitnya representasi selama ini sehingga beberapa contoh saja terasa banyak," katanya. Ia menegaskan bahwa media populer baru mulai mencerminkan pengalaman perempuan secara utuh, dan representasi menopause hanyalah permulaan.
Bagi Indonesia, fenomena ini membuka peluang sekaligus tantangan. Meski belum banyak karya lokal yang secara eksplisit mengangkat menopause, meningkatnya kesadaran global dapat mendorong industri kreatif Tanah Air untuk lebih berani mengeksplorasi isu ini. Namun, perlu diingat bahwa sekadar meniru narasi Barat tidak cukup; konteks budaya, dinamika keluarga, dan ekspektasi sosial di Asia harus menjadi pertimbangan utama.
Pertanyaannya kini bukan lagi apakah menopause layak dibicarakan, melainkan bagaimana industri hiburan dan masyarakat Indonesia dapat ikut serta dalam gelombang keterbukaan ini. Apakah akan lahir Fleabag versi Indonesia yang mampu membongkar tabu dan memberi ruang bagi perempuan paruh baya untuk merasa terwakili? Atau akankah kita terus membiarkan mereka berjuang sendiri dalam diam?



