Sekuel 'How to Lose a Guy in 10 Days' Menggoda: Kate Hudson Siap Produksi, Matthew McConaughey Menanti Skenario
Baca dalam 60 detik
- Kate Hudson dikabarkan terlibat sebagai produser untuk sekuel film romantis klasik 2003, yang masih dalam tahap awal pengembangan di Paramount.
- Matthew McConaughey menyebut film tersebut sebagai rom-com favoritnya dan mengaku terbuka untuk kembali berperan, meski sebelumnya sempat meninggalkan genre ini.
- Kesuksesan nostalgia dan tren reboot Hollywood menjadi peluang bagi sekuel ini, namun keputusan akhir tetap bergantung pada naskah dan kesediaan kedua bintang utama.

Setelah lebih dari dua dekade, gema rom-com legendaris How to Lose a Guy in 10 Days kembali menyeruak. Kate Hudson, yang berperan sebagai Andie Anderson, dikabarkan telah menyatakan kesediaannya untuk terlibat dalam sekuel yang tengah digarap Paramount. Kabar ini memicu gelombang nostalgia di kalangan penggemar, sekaligus memunculkan pertanyaan besar: akankah Matthew McConaughey kembali memerankan Benjamin Barry?
Menurut laporan Variety, Hudson tidak hanya akan kembali berakting, tetapi juga dipercaya sebagai produser. Namun, proyek ini masih berada di tahap paling awal. Sumber internal menyebutkan bahwa sejumlah peran kunci, termasuk penulis naskah, belum ditentukan. Kondisi ini membuat proses casting menjadi dinamisโsiapa pun yang terpilih sebagai penulis akan memengaruhi arah cerita dan komposisi pemain.
Film orisinalnya, yang dirilis pada 2003, mengisahkan Andie, seorang kolumnis majalah yang tengah meneliti artikel tentang kencan modern. Ia mencoba merayu Benjamin, seorang eksekutif periklanan, sebelum berubah menjadi 'pacaran dari neraka'. Di sisi lain, Benjamin bertaruh dengan bosnya bahwa ia bisa membuat wanita mana pun jatuh cinta padanya, dengan taruhan sebuah kampanye besar. Konflik antara dua kepentingan ini menjadi bahan bakar komedi yang hingga kini masih dikenang.
McConaughey, yang kini berusia 56 tahun, baru-baru ini menyebut film tersebut sebagai rom-com favoritnya. Dalam podcast Happy Sad Confused, ia mengungkapkan, "How to Lose a Guy in 10 Days adalah hadiah yang terus memberi. Saya pikir ini mungkin rom-com favorit saya. Dan film ini masih membayar 'mailbox money' terbaik dari semua film yang pernah saya bintangi. Jauh. Jauh sekali." Pernyataan ini menunjukkan bahwa secara finansial dan emosional, film tersebut memiliki tempat istimewa di hatinya.
Hudson sendiri, dalam wawancara dengan Watch What Happens Live pada 2024, pernah menyatakan keterbukaannya terhadap sekuel. "Yang terpenting adalah naskahnya dan apakah Matthew dan saya menyukainya. Saya pikir kami berdua sangat terbuka, tapi itu tidak pernah terjadi," ujarnya. Sementara itu, McConaughey juga mengungkapkan keinginannya untuk bekerja sama lagi dengan Hudson, yang ia sebut "menyenangkan dan rock and roll". Namun, ia menekankan pentingnya chemistry antara dua pemeran utama, sebagaimana yang pernah mereka miliki.
Di balik antusiasme tersebut, terdapat catatan menarik tentang karier McConaughey. Aktor yang juga dikenal lewat Fool's Gold ini pernah mengaku pindah ke Texas karena lelah dijuluki "pria rom-com" Hollywood, meskipun jalur itu menguntungkan. Ia membuat keputusan sadar untuk berhenti membintangi film bergenre tersebut dan menunggu peran yang benar-benar ia inginkan. Dalam podcast Good Trouble, ia menceritakan, "Karena saya tidak bisa melakukan apa yang saya inginkan, saya berhenti melakukan apa yang saya lakukan. Saya pindah ke peternakan di Texas dan membuat perjanjian dengan istri saya: 'Saya tidak akan kembali bekerja kecuali ditawari peran yang saya inginkan.'"
Bagi penikmat film Indonesia, kabar ini tentu membangkitkan kenangan akan era kejayaan rom-com Hollywood yang banyak ditonton di bioskop tanah air. Film seperti How to Lose a Guy in 10 Days menjadi bagian dari budaya pop yang memengaruhi selera film lokal. Kehadiran sekuel ini juga menjadi ujian bagi industri Hollywood dalam merespons tren nostalgia, di mana banyak waralaba lama dihidupkan kembali. Namun, pertanyaan besarnya adalah apakah formula lama masih relevan dengan selera penonton masa kini, terutama di tengah dominasi konten streaming dan perubahan preferensi generasi muda.
Dengan segala dinamika yang ada, sekuel ini masih menyimpan banyak tanda tanya. Apakah naskah akan mampu menangkap esensi komedi yang dulu sukses? Akankah kedua bintang utama benar-benar kembali? Yang jelas, antusiasme publik dan para pemainnya memberikan sinyal positif. Namun, keputusan akhir tetap berada di tangan para kreator. Mampukah mereka menghadirkan kisah yang segar tanpa kehilangan pesona orisinalnya? Hanya waktu yang bisa menjawab.



