Festival Kopi Anyar di Singapura: 34 Roaster Dunia Siap Meriahkan Tanjong Pagar
Baca dalam 60 detik
- Another Coffee Festival akan digelar 3-6 September di Guoco Tower Urban Park, Singapura, menghadirkan 34 roaster spesialti dari Asia dan Eropa.
- Acara ini digagas oleh Leon Foo dan Will Leow, dua tokoh di balik berkembangnya budaya kopi spesialti Singapura, dengan konsep non-profit dan fokus pada edukasi serta komunitas.
- Festival ini diharapkan menjadi agenda tahunan yang memperkuat posisi Singapura sebagai hub kopi regional, sekaligus membuka peluang kolaborasi bagi roaster Indonesia.

Singapura akan menjadi panggung bagi para pecinta kopi dunia ketika Another Coffee Festival digelar pada 3-6 September mendatang di Guoco Tower Urban Park. Mengusung semangat kebersamaan, festival ini mempertemukan 34 roaster kopi spesialti dari sembilan negara di Asia dan Eropa, termasuk sejumlah nama besar dari Indonesia. Lebih dari sekadar pameran, acara ini dirancang sebagai ruang dialog antara pelaku industri, penggemar, dan mereka yang baru mengenal kopi spesialti.
Di balik festival ini ada dua nama yang sudah malang melintang di industri kopi Singapura: Leon Foo, pendiri PPP Coffee dan Morning, serta Will Leow, pendiri jaringan kafe Alchemist. Keduanya menilai bahwa Singapura telah memiliki banyak acara kopi bertaraf internasional, namun masih ada celah untuk sebuah platform yang lebih inklusif. "Kami ingin menciptakan ruang di mana profesional, penggemar, dan pemula bisa bertemu setara," ujar Foo dalam pernyataannya.
Konsep "Another" sengaja dipilih untuk menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar duplikasi dari acara yang sudah ada. Menurut Foo, banyak acara industri yang terlalu teknis atau transaksional. "Kami ingin melengkapinya dengan pengalaman yang berpusat pada penemuan, budaya, dan koneksi antarmanusia," jelasnya. Dengan demikian, kopi tidak hanya dilihat sebagai produk atau profesi, tetapi juga sebagai pengalaman budaya, kreatif, dan sosial.
Bagi Indonesia, kehadiran Common Grounds sebagai salah satu roaster yang diundang menjadi catatan tersendiri. Ini menunjukkan bahwa kopi Nusantara semakin diperhitungkan di kancah regional. Selain itu, festival ini juga menghadirkan roaster kenamaan seperti Fuglen dari Norwegia, Center Coffee dari Korea Selatan, dan Terraform Coffee Roasters dari Shanghai. Para pengunjung dapat menikmati berbagai aktivitas, mulai dari mencicipi kopi, mengikuti sesi diskusi dengan para pendiri, hingga menyaksikan seniman Korea Selatan, Moonsub Shin, membuat mural langsung di lokasi.
Yang menarik, festival ini digagas sebagai acara non-profit. Leow menegaskan bahwa tujuan utamanya bukanlah keuntungan finansial, melainkan partisipasi dan nilai jangka panjang bagi komunitas kopi. "Kami ingin memastikan setiap keputusan diambil demi kepentingan komunitas, bukan semata-mata untuk keuntungan komersial," katanya. Dana awal berasal dari kantong pribadi para pendiri, ditambah dukungan sponsor dan mitra. Jika ada surplus, akan dialokasikan untuk festival berikutnya atau inisiatif lain yang memperkuat ekosistem kopi spesialti.
Leow dan Foo berharap festival ini bisa menjadi agenda tahunan dan bahkan berkembang menjadi platform sepanjang tahun untuk edukasi, lokakarya, dan kolaborasi. "Kami ingin Singapura menjadi tempat di mana komunitas kopi regional dan internasional secara alami berkumpul," tutur Leow. Ukuran kesuksesan, menurut Foo, bukan hanya jumlah pengunjung, melainkan juga kolaborasi yang terjalin setelah acara usai. "Jika ada roaster lokal yang bertemu mitra internasional dan enam bulan kemudian mereka mengerjakan sesuatu bersama, itu adalah keberhasilan," pungkasnya.
Bagi pengunjung yang ingin fokus pada tiga roaster internasional, Leow merekomendasikan Fuglen dari Norwegia yang membawa perspektif Nordik, Felt dari Korea Selatan yang mewakili modernitas Asia, dan Terraform dari Shanghai yang menunjukkan evolusi pesat kopi China. "Ketiganya mewakili tiga budaya kopi yang sangat berbeda: Nordik, Korea, dan China. Itulah esensi dari Another Coffee Festival," jelas Leow.
Meski demikian, Leow mengingatkan bahwa kejutan justru sering datang dari nama-nama yang belum dikenal. "Bagian dari kesenangan adalah menemukan roaster yang belum pernah Anda dengar dan pulang sebagai penggemar," ujarnya. Dengan pendekatan yang humanis dan non-profit, Another Coffee Festival berpotensi menjadi model baru bagi perhelatan kopi di Asia Tenggara. Pertanyaannya, akankah inisiatif serupa muncul di Indonesia, mengingat potensi kopi Nusantara yang begitu besar?



