Eli Roth Tinggalkan Studio Besar: Kegagalan Borderlands Jadi Titik Balik Menuju Kemandirian Kreatif
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Eli Roth menyalahkan intervensi studio atas kegagalan film adaptasi game Borderlands yang menghabiskan biaya produksi 120 juta dolar AS.
- Roth mendirikan perusahaan independen The Horror Section dan merilis film terbarunya Ice Cream Man tanpa rating usia, sebagai bentuk protes terhadap sistem studio tradisional.
- Langkah Roth mencerminkan pergeseran industri film global menuju model produksi yang lebih mandiri, sejalan dengan tren serupa yang mulai diikuti sineas Indonesia.

Kegagalan komersial film adaptasi video game Borderlands pada 2024 menjadi titik balik karier Eli Roth. Sutradara horor berusia 53 tahun itu kini memilih meninggalkan sistem studio besar dan beralih ke produksi independen, dengan mendirikan perusahaan sendiri demi memegang kendali penuh atas karya-karyanya. Langkah ini diumumkan di tengah persiapan perilisan film terbarunya, Ice Cream Man, yang dijadwalkan tayang di bioskop Amerika Serikat pada 7 Agustus mendatang.
Roth, yang dikenal lewat film-film kultus seperti Hostel, Cabin Fever, dan The Green Inferno, mengungkapkan kekesalannya terhadap campur tangan studio yang menurutnya merusak visi artistik Borderlands. Film yang dibintangi Cate Blanchett, Kevin Hart, Jack Black, dan Jamie Lee Curtis itu gagal memuaskan penonton maupun kritikus. Roth menilai tekanan untuk mendapatkan rating PG-13 membuat film tersebut kehilangan arah, menjadi tontonan yang tidak jelas sasaran.
โKamu mendapatkan sesuatu yang bukan milik siapa-siapa,โ ujar Roth kepada Variety, seperti dikutip LyndHub. โIni bukan film anak-anak, tapi mencoba menarik semua orang. Untuk gamer, tapi tidak punya kekerasan yang mereka inginkan karena tidak bisa terlalu ekstrem karena biayanya terlalu mahal. Hasilnya, film itu jadi tidak jelas.โ
Kekecewaan ini mendorong Roth untuk mendirikan The Horror Section pada 2025, sebuah perusahaan produksi dan distribusi independen yang fokus pada film horor berbiaya rendah namun dimiliki sepenuhnya oleh sineas. Melalui perusahaan ini, Roth merilis Ice Cream Man, film yang mengisahkan anak-anak yang menjadi pembunuh setelah makan es krim. Konsep ini muncul dari imajinasi Roth tentang twist gelap dari kisah Pied Piper.
Berbeda dengan Borderlands, Ice Cream Man diproduksi di luar sistem studio. Roth membiayai film berbiaya sekitar 5,5 juta dolar AS melalui penjualan hak tayang di luar negeri dan insentif pajak setelah syuting di Kanada. Film ini sengaja dirilis tanpa rating usia, sehingga Roth bebas menampilkan kekerasan tanpa negosiasi dengan lembaga sensor. The Horror Section berencana merilis dua hingga empat film horor setiap tahun, dengan judul Stiletto dan Donโt Go in That House, Bitch! yang akan mempertemukan Roth dengan rapper Snoop Dogg.
Keputusan Roth untuk mandiri tidak lepas dari perubahan ekonomi industri film, terutama di era streaming. Ia menyoroti hilangnya pendapatan residual yang dulu menjadi andalan sineas. โDulu, DVD meledak dan kami mendapat residual ketika film tayang di TV kabel. Tapi begitu streaming masuk, residual hilang. Ketika film tayang di Netflix, kamu tidak mendapat uang,โ keluhnya. Roth juga mengkritik ketidakseimbangan hak cipta, di mana penulis novel seperti Stephen King memiliki karya mereka, sementara penulis skenario tidak.
Langkah Roth ini sejalan dengan tren global di mana sineas semakin mencari cara untuk mempertahankan kontrol kreatif. Di Indonesia, fenomena serupa mulai terlihat dengan munculnya rumah produksi independen yang memanfaatkan platform digital untuk menjangkau penonton. Meski skala dan pasar berbeda, semangat untuk keluar dari pakem industri mainstream menjadi catatan penting bagi perkembangan perfilman nasional.
Dengan model bisnis yang lebih ramping, Roth berharap dapat kembali ke akar horor yang membuat namanya melejit, seperti Hostel dan Cabin Fever. โBagian dari horor adalah menjadi tidak sopan. Sulit bagi orang studio untuk menjadi tidak sopan karena mereka membuat sesuatu yang ingin dirayakan dan diterima secara sosial. Padahal, membuat film horor yang bagus berarti menjadi transgresif dan mendorong batas,โ tegasnya. Pertanyaannya, apakah langkah berani Roth ini akan menjadi blueprint bagi sineas lain untuk lepas dari ketergantungan pada studio besar?



