Maya Butterfly: Duet Jessica Reynolds dan Charlotte Rampling dalam Drama Psikologis Bertema Opera
Baca dalam 60 detik
- Film debut Edwina Casey mempertemukan bintang Kneecap dengan aktris nominasi Oscar dalam kisah soprano yang kehilangan pendengaran.
- Pengambilan gambar utama berlangsung di National Opera House Wexford dan Belfast, dengan target rilis 2027.
- Proyek ini menandai ekspansi sinema Irlandia ke ranah psikologis-musikal, berpotensi menginspirasi sineas Asia Tenggara.

Dunia sinema Irlandia kembali mencatat kolaborasi lintas generasi yang menjanjikan. Aktris muda Jessica Reynolds, yang namanya melambung lewat film Kneecap, akan beradu akting dengan legenda layar lebar Charlotte Rampling dalam film drama psikologis berjudul Maya Butterfly. Proyek ini sekaligus menjadi debut penyutradaraan film panjang bagi Edwina Casey, seorang sutradara opera yang telah malang melintang di panggung internasional.
Film yang digambarkan sebagai perpaduan antara Tar dan Sound of Metal ini mengangkat kisah seorang soprano yang tengah naik daun, namun diam-diam kehilangan pendengarannya. Dalam tekanan pembukaan pekan produksi opera yang radikal, ia harus berjuang mempertahankan karier dan jati dirinya. Konflik batin yang dieksplorasi lewat sudut pandang orang pertama ini dijanjikan akan menjadi pengalaman sinematik yang imersif, memadukan teatrikalitas musikal dengan narasi karakter yang kuat.
Casey, yang sebelumnya meraih penghargaan Bingham Ray New Talent Award, mengungkapkan kebanggaannya bisa bekerja dengan dua aktor berbakat tersebut. Ia menilai Maya Butterfly sebagai bentuk kecintaannya pada sinema modern yang inklusif. Dukungan dari Screen Ireland pun disebutnya sebagai fondasi penting bagi proyek ambisius ini. Sementara itu, produser Patrick O'Neill dari Wildcard menyebut film ini sebagai sesuatu yang belum pernah dilihat penonton sebelumnya, dengan target rilis di bioskop pada 2027.
Di balik layar, produksi melibatkan sejumlah nama besar industri film Irlandia, seperti Conor Barry dan Richard Bolger dari Hail Mary Pictures, Paul Kennedy dari Village Films, serta Bernard Michaux dari SAMSA Film. Pengambilan gambar utama telah dimulai dan berlangsung di National Opera House di Wexford serta Belfast. Detail casting tambahan dan tanggal rilis resmi masih dirahasiakan.
Kehadiran Maya Butterfly menjadi angin segar bagi industri perfilman yang tengah mencari narasi segar. Kombinasi antara dunia opera yang elitis dengan tema disabilitas dan perjuangan identitas menawarkan ruang eksplorasi yang jarang dijamah. Bagi penonton Indonesia, film ini berpotensi menjadi tontonan yang menantang sekaligus menginspirasi, terutama bagi sineas muda yang ingin mengeksplorasi genre serupa. Pertanyaannya, akankah distribusi film ini menjangkau bioskop-bioskop di Asia Tenggara, mengingat antusiasme pasar terhadap film independen yang kian meningkat?



