Dolar AS Menguat di Tengah Sanksi Iran dan Tarif Baru, Loonie Terpuruk
Baca dalam 60 detik
- Dolar AS menguat setelah AS memperluas sanksi ke Iran dan mengumumkan tarif 50% untuk barang Kanada, memicu kekhawatiran perang dagang baru.
- Loonie melemah 0,61% terhadap dolar AS, penurunan terbesar sejak Juni, setelah Kanada berjanji membalas tarif AS 'dolar demi dolar'.
- Pasar menantikan pidato Ketua Fed Kevin Warsh di Jackson Hole, sementara spekulasi penggunaan Treasury General Account untuk buyback obligasi menambah ketidakpastian.

Dolar Amerika Serikat berhasil membalikkan tren pelemahan tiga minggu berturut-turut pada Senin (24/8), setelah pemerintahan Trump mengumumkan perluasan sanksi terhadap Iran dan pengenaan tarif baru untuk barang-barang Kanada. Indeks dolar yang mengukur kekuatan greenback terhadap sekeranjang mata uang utama naik 0,17 persen ke level 98,99, sementara euro melemah 0,14 persen ke 1,1663 dolar.
Langkah agresif ini merupakan bagian dari strategi Washington untuk menekan Teheran agar menghentikan serangan terhadap kapal-kapal di Teluk. Menteri Keuangan AS Scott Bessent menegaskan bahwa sanksi sekunder yang diperluas bertujuan untuk 'memutus setiap jalur ekonomi' yang menghidupi Iran. Di sisi lain, Presiden Trump melalui media sosial mengumumkan kenaikan tarif hingga 50 persen untuk mobil, truk, suku cadang otomotif, dan baja asal Kanada mulai 1 Januari 2027.
Keputusan tersebut langsung memukul dolar Kanada. Loonie melemah 0,61 persen ke level 1,385 per dolar AS, penurunan harian terbesar sejak 17 Juni, sekaligus memutus rentetan penguatan tiga hari berturut-turut. Perdana Menteri Kanada Mark Carney merespons dengan nada keras, menyatakan bahwa kesepakatan yang saling menguntungkan hanya mungkin jika AS menghormati kedaulatan Kanada. Ottawa pun berjanji membalas tarif AS 'dolar demi dolar'.
Di pasar obligasi, perhatian tertuju pada rencana Departemen Keuangan AS yang dikabarkan akan menggunakan Treasury General Account (TGA) yang hampir mencapai 1 triliun dolar untuk mendanai program pembelian kembali obligasi jangka panjang. Langkah ini, yang dilaporkan CNBC mengutip dua pejabat senior Treasury, sempat membuat dolar dan imbal hasil obligasi jangka panjang turun sejenak. Brian Jacobsen, ekonom utama Annex Wealth Management, meragukan efektivitas kebijakan tersebut. "Apakah menembakkan bazoka ke arah badai akan berhasil?" ujarnya. Ia menilai penurunan imbal hasil jangka panjang tidak akan menyelesaikan masalah utang, malah bisa memperburuk sensitivitas beban utang pemerintah terhadap perubahan suku bunga The Fed.
Kekhawatiran tentang membengkaknya utang pemerintah global menjadi latar belakang kenaikan imbal hasil obligasi jangka panjang di berbagai negara. Ekspansi program buyback Treasury justru memicu spekulasi bahwa dolar akan melemah dalam jangka panjang. Sementara itu, poundsterling bertahan di dekat level tertinggi enam bulan di 1,3675 dolar, dan yen Jepang melemah tipis ke 159,13 per dolar.
Bagi Indonesia, dinamika ini patut dicermati. Penguatan dolar AS berpotensi menekan nilai tukar rupiah dan menambah beban impor, terutama untuk komoditas energi dan bahan baku industri. Di sisi lain, ketegangan dagang AS-Kanada bisa menggeser arus perdagangan global, membuka peluang bagi eksportir Indonesia untuk mengisi celah pasar, khususnya di sektor otomotif dan baja. Namun, ketidakpastian kebijakan moneter AS juga bisa memicu gejolak di pasar keuangan domestik.
Pekan ini, pasar menantikan rilis data ekonomi AS, termasuk indeks harga PCE, pendapatan dan belanja pribadi, serta keyakinan konsumen. Yang paling dinanti adalah pidato Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di Jackson Hole pada Jumat (28/8). Namun, ekonom UBS memperkirakan Warsh akan menghindari panduan ke depan, sementara Michael Gapen dari Morgan Stanley juga menduga tidak akan ada sinyal mengenai arah suku bunga atau program buyback. Jika tebakan ini benar, volatilitas pasar justru bisa meningkat karena pelaku pasar kehilangan pegangan.
Pertanyaannya, mampukah dolar AS mempertahankan penguatan di tengah tekanan fiskal dan ketegangan dagang yang masih menyala? Atau justru kebijakan buyback yang agresif akan menjadi bumerang bagi ekonomi AS sendiri? Semua akan terjawab dalam beberapa pekan ke depan, seiring data ekonomi dan sinyal kebijakan yang terus mengalir.



