Nolan Buka Kartu: 'The Odyssey' Bukan Sekadar Adaptasi, Melainkan Renungan tentang Runtuhnya Peradaban
Baca dalam 60 detik
- Sutradara Christopher Nolan menegaskan film terbarunya, The Odyssey, tidak bertentangan dengan puisi epik Homer, melainkan mengeksplorasi 'kesenjangan' sejarah antara masa Perang Troya dan era Homer.
- Nolan mengaku pengalaman menggarap Oppenheimer turut mewarnai pendekatannya, membawa nuansa kehancuran peradaban ke dalam adaptasi epik ini.
- Matt Damon, pemeran Odysseus, memuji visi dan ambisi Nolan yang luar biasa, termasuk keberaniannya merekam film dalam format IMAX yang imersif.

Christopher Nolan, sineas di balik trilogi Batman dan Oppenheimer, angkat bicara mengenai film epik terbarunya, The Odyssey. Dalam sebuah wawancara dengan dosen filsafat politik, Zhong Shu, Nolan mengungkapkan bahwa adaptasinya tidak dimaksudkan untuk bertentangan dengan puisi karya Homer, melainkan justru mengeksplorasi 'kesenjangan' historis yang menarik antara masa penulisan kisah tersebut dan era yang digambarkannya.
Bagi Nolan, daya tarik utama The Odyssey bukan sekadar kisah kepulangan Odysseus dari Perang Troya. Ia justru tertarik pada fakta bahwa Homer menulis tentang peradaban yang jauh lebih tua dari zamannya, sebuah masa yang oleh audiens Homer dianggap lebih maju dan agung. "Homer menulis tentang era ratusan tahun sebelum dirinya. Penontonnya memandang masa itu sebagai peradaban besar yang telah runtuh," ujar Nolan. Ketertarikan ini membawanya mendalami apa yang disebut sebagai 'Bronze Age collapse' atau keruntuhan Zaman Perunggu, sebuah periode kelam yang menghubungkan Perang Troya dengan masa Homer.
Nolan juga mengakui bahwa pengalaman menggarap Oppenheimerโfilm yang mengisahkan tentang kehancuran duniaโturut mempengaruhi visinya. "Saya membawa sensibilitas tentang akhir dari peradaban ke dalam adaptasi ini," katanya. Baginya, tema kehancuran dan keruntuhan adalah sesuatu yang menakutkan sekaligus menarik jika dilihat dari perspektif modern, dan ia ingin mengeksplorasi hal tersebut melalui kisah Odysseus.
Matt Damon, yang memerankan Odysseus, tak henti-hentinya memuji kemampuan Nolan. "Saya tidak tahu bagaimana dia melakukannya. Jumlah visi yang dibutuhkan untuk membangun dunia ini sungguh luar biasa," kata Damon kepada Collider. Ia juga mengungkapkan kekagumannya pada keputusan Nolan untuk syuting dalam IMAX, yang menurutnya menjadi elemen terakhir yang membuat penonton benar-benar 'berada' di dalam cerita.
Bagi penonton Indonesia, kabar ini tentu menambah daftar film yang dinantikan. Antusiasme terhadap karya Nolan selalu tinggi, terutama setelah kesuksesan Oppenheimer yang juga tayang di bioskop tanah air. Pertanyaannya, akankah The Odyssey mampu menghadirkan pengalaman sinematik yang sama mendalamnya, atau justru menjadi tontonan epik yang lebih spektakuler? Yang jelas, Nolan kembali menantang dirinya sendiri untuk bercerita tentang kehancuran dan harapan, tema yang selalu relevan di tengah ketidakpastian zaman.



